
Joan, Aris dan Iren sudah keluar untuk membeli sate. sementara Mamaknya Joan menghela napas panjang.
"maaf ya semuanya, terkadang bukan terkadang malah sering Joan membuat ku emosi. tolong di maafkan ya."
"ngak apa-apa loh Eda, lagian kan emang benar, yang jualan sate teriak-teriak."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami semua tertawa karena ucapan mamak yang membela Joan, bukannya mendapat simpatik tapi malah di tertawa kan.
Ulah nya Joan yang membawa tukang sate tepat di depan rumah membuat Mamaknya geleng-geleng kepala.
akhirnya kami semua jadi makan sate, pak Didit terlihat sangat menikmati sate tersebut. tingkah dan sikap yang Joan yang kocak membuat susana jadi ceria.
Sehabis makan sate, suasana kembali hening dan sepi yang masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"emang nya keluarga pak deh nya pak Didit tinggal dimana?"
Nantulang Mak Cahaya yaitu calon ibu mertuaku tiba-tiba bertanya tempat tinggalnya pak deh nya pak Didit.
"itu loh mak..... di komplek pelita itu,
komplek yang seram itu, kemarin itu dari bandara kami langsung kesana, ih seram Mak." jawab pariban Rohani kepada Mamaknya.
"orang nya kek mana kak Ani?"
"orang nya yang gemuk yang muka selalu bersedih, biasa nya jualan bersama ibu-ibu itu, mungkin mama nya itu, dan mereka jualan di pajak pagi mak, jualan pakaian dalam wanita." *dialog Medan.
(masyarakat Medan menyebutkan pasar itu sebagai pajak).
"oh..... keluarga itu?"
untungnya kalian ngak masuk ke rumah nya."
"emangnya kenapa Mak?"
"mamak nya itu katanya tukang santet dan selalu memakai pelaris saat jualan."
"pantasan aja ya mak."
"pantasan apa nya kak?"
"kemarin itu Mak... Ani dan cahaya kan belanja kesana, iya kan Cahaya"
"benar nantulang, kemarin itu kita berdua beli ******, tidak tau kenapa saya beli sangat banyak kali nantulang, dan tak satu pun yang bisa ku pake." *dialog Medan.
(banyak kali artinya banyak banget, ****** artinya ****** *****. di pake artinya di gunakan atau di pakai).
"sama juga dengan Ani Mak... sesampai di rumah mau ku coba lah, tapi tak satu pun yang muat, padahal 3 lusin ku beli."
"kok banyak kali kakak beli, kakak mau jualan ****** di kampus kak?"
Joan tiba-tiba nimbrung dengan ekspresi nyeleneh dan itu terlihat mengesalkan.
__ADS_1
"diam lah Joan bising kali, dah kyak kreta reasing." *dialog Medan.
(diam lah Joan, berisik banget deh, sudah seperti suara kenalpot motor resing kenalpot motor yang sangat berisik).
Ocehan dari pariban ku itu, seketika membuat kami tersenyum dan kemudian kami tertawa.
"jadi kalau ngak muat di pake kenapa ngak di balikkan atau di tukar aja?"
"iya nantulang, aku sama kak Ani mendatangi yang jualan sambil membawa ****** yang kami beli itu, tapi apa?
boro-boro marah malah kami belanja lagi yang banyak"
Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
(Nantulang adalah panggilan kepada istri Paman saudara laki-laki dari pihak Mamak).
Joan tertawa dengan lepas demikian juga dengan kami, seharusnya itu adalah berita duka tapi karna kekonyolan cerita membuat kami jadi tertawa.
"makanya kak Ani dan kak Cahaya yang cantik-cantik jangan pelit sama adek sendiri, kan kualat jadi di tipu orang dengan ****** yang kecil."
Rohani dan Cahaya langsung mencubit Joan berkali-kali dan Joan sembunyi di bawah balik tubuh mamak nya.
Tingkah mereka membuat kami tertawa lepas seakan-akan tidak ada masalah yang kami hadapi.
"jadi mau kalian apakan lah ****** yang kecil itu?"
"sudah kami berikan kepada Sisil mak, enak tetangga yang dibelakang rumah."
Jawab Rohani kepada Mamaknya, tapi terlihat Joan sudah berada di samping Mamaknya.
' Joan......'
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami tertawa lagi karena sanggahan dari Joan yang asal.
Joan akhirnya di amankan oleh bapaknya, tapi masih sempat-sempatnya anak rese itu mengambil toples yang berisi peyek.
"amang pak Aris, di boto Amang do idia sude akka keluarga mu?"* dialog Batak.
(menurut tradisi Batak Toba, anak pertama akan menjadi panggilan kepada kedua orang tuanya. itulah sebabnya Oppung Doli Saur memanggil pak Didit dengan sebutan pak Aris).
Pak Didit langsung melirikku, karena Oppung Doli Saur berkata sambil melihat ke arah pak Didit.
"bapak tahu dimana semua keluarga Bapak?"
"tidak pak."
"oppung ma jou asa hatop."
"bapak panggil Oppung, biar cepat."
pak Didit hanya mengangguk saat mendengar terjemahan yang aku ucapkan.
__ADS_1
"hanya pak deh itu yang aku tahu Oppung, selebihnya tidak tahu.
Dulu saat aku tanya ke orang tua Ku, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti."
Jawab pak Didit kemudian menundukkan kepalanya.
"gini aja bere, besok pagi temani pak Didit ke pajak pagi itu, temui keluarga pak Didit itu. coba dulu ngobrol dengan pelan-pelan.
kali aja dapat informasi dari beliau itu, tapi ingat ya jangan bertingkah aneh.
Karena menurut warga sekitar keluarga itu aneh."
"setuju, besok biar Ani temani bang?"
"idih.... kakak mau mintak bang Mora buat beli ****** mini lagi?"
Dan lagi kami harus tertawa karena omongan receh dari Joan.
"sebaiknya kak Ani dan kak Cahaya diam aja di rumah, ntar kakak membahas ****** lagi disana."
"Joan.....'
Dengan kompaknya Rohani dan Cahaya meneriaki nama Joan, karena membahas ****** ***** lagi.
"tapi kalau kak Ani dan kak Cahaya ngak ikut gimana ya? mangnya bang Mora tahu tempat jualannya?"
"ngak"
"gini aja, besok mamak yang menemani Abang bersama kak Ani dan kak Cahaya. tapi ingat ya kak Ani dan kak Cahaya.
Tolong jangan bahas ****** lagi disana, biarkan bang Mora dan pak Didit yang bicara.
Bang Aris dan kak Iren ngak usah ikut, besok temani Joan jalan-jalan saja."
"sebentar deh Joan, kenapa Joan yang memberikan perintah? kenapa Joan yang seolah-olah mengatur ya."
"bapak.....
Joan kan anak laki-laki pak, Joan yang selama ini menjaga mamak, kak Ani, kak Cahaya, dan Bou.
Jadi semuanya harus ijin dari Joan, ngak boleh membantah."
"tanya dulu dong sama yang Joan perintah kan?"
Aris dan Iren langsung menatap Joan, karena mereka berdua di larang oleh Joan untuk ikut.
"oke, Abang paham akan posisi mu disini Joan, sebagai laki-laki yang harus bertanggung jawab. karena bang Mora dan bang Gomgom di perantauan.
Abang mau nanya sama Joan, kenapa kami berdua tidak ikut menemui pak Deh nya Papa?
dan kenapa kami berdua harus menemani Joan untuk jalan-jalan?"
Joan langsung menatap Aris dan kemudian menghela napasnya yang panjang.
__ADS_1
bersambung....