
Bau itu semakin menyengat dan semuanya terlihat mau muntah, tidak terlebih-lebih Gomgom yang membuat ku heran.
Dari arah ayam tanpa kepala itu keluar sinar yang sangat silau, dan suara ini sangat memekakkan telinga.
Tiba-tiba gelap dan rasanya seperti terbawa ke dunia lain.
Kabut tebal putih nan tebal yang menghalangi pandangan mata ini, tapi terdengar seperti air mengalir.
Suaranya persis seperti air terjun, hanya bisa terdiam karena kabut tebal menghalangi pandangan mata.
Perlahan kabut tebal menghilang dan mulai terlihat air terjun dari pangkal mengalir nya, dan akhirnya seluruh air terjun bisa terlihat karena kabut sudah hilang.
ah.....
Begitu terkejut sepasang kakek nenek tiba-tiba muncul di hadapanku dan ternyata aku berada tepat di depan gubuk beratap jerami.
"eta ma tu bagas amang." *bahasa Batak Toba.
(mari masuk ke masuk kedalam nak).
Entah kenapa aku tidak bisa bicara, dan hanya nurut aja akan perkataan dari kakek ini.
Seperti melihat adegan film, dimana seseorang di keroyok oleh banyak warga. kakek tersebut menunjukkan sesuatu yang memperlihatkan kehidupan di masa lalunya.
Dimana sepasang kakek nenek ini diseret dan kemudian di ikat di sebuah batang pohon yang lumayan besar.
Setelah di ikat lalu para warga mengumpulkan kayu bakar, lalu jerami dan kayu bakar lagi di sisi mereka berdua, sampai kayu yang berlapis jerami tersebut mencapai sebatas pinggang sepasang kakek nenek ini.
Lalu para warga melemparkan obor yang menyela ke tumpukan kayu bakar yang berlapis jerami.
Tidak berapa lama api menyambar mereka berdua, tapi si kakek tersebut hanya tertawa sementara istrinya terus menerus menangis.
Kemudian datang dua orang laki-laki, yang mencoba menghentikan pembakaran tersebut dan kedua laki-laki itu di hadang warga.
Terlihat si kakek menunjuk ke arah dua laki-laki tersebut, dan satu laki-laki yang di tunjuk si kakek mirip sekali dengan almarhum oppung ku (kakekku).
Laki-laki yang mirip dengan Oppung ku itu, kemudian menolehku, seakan-akan yang hendak disampaikan.
__ADS_1
Lalu tayangan tanpa suara itu hilang dari pandangan Ku, kini aku hanya bisa bertatapan dengan kakek dan nenek ini yang ada di adengan yang barusan aku lihat.
"na imbar tu Oppung nahinan Ima Natua-tua muna, Ima namargoar si dippos. bolo na di hambirang nai Ima si Poltak.* dialog Batak
(yang mirip dengan Oppung adalah kakek buyut mu, yang bernama dippos. yang di sebelah kirinya adalah si Poltak).
"jadi ikkon pinoppar ni do boi mandongani mappasidung Manang mangulahi."
(harus dari keturunan dari dua orang itu yang bisa membantu mengakhiri atau memulai lagi).
"ho ma sada amang pinoppar na boi mangurupi pinoppar hu dohon nadi juppangi mi."
(kamu salah satu keturunan yang bisa membantu keturunan dan orang yang telah kamu temui itu).
"Nga di buat nasida sian non, na tudos tu uloan ni. Ima na tongos ni pinoppar ni si Poltak."
(keperluan untuk mengakhiri atau memulai sudah di ambil dari sini. yang dibawa oleh orang suruhan keturunan si Poltak).
"Bolo dang dungo do pe annon pinoppar hi, tutung ma manuk sibirong ngi. tudos museng nung dungo dua nasida i las tutung ma manuk na dua i."
(jika keturunan itu belum siuman, bakarlah ayam hitam itu dan jika mereka sudah bangun bakar juga ayam hitam itu.)
(yang membuat nya demikian adalah keturunan juga, tapi itu akan kalah karena saya lebih kuat dari kirimannya itu).
"hehe ma ho amang, hu patudi pe dalan mu."
(pulang lah nak, aku akan menunjukkan jalan mu).
Kakek dan nenek tersebut menuntunku keluar dari gubuk tersebut, lalu kami menelusuri setapak jalan.
"bolo nung muap akka bunga-bunga i, Ima lapatan tung massai jonok tu luat on."
(jika sudah tercium bau bunga yang bermekaran, artinya sudah dekat tujuan)
Setelah berkata demikian, kakek nenek ini terus menuntut Ku dan hanya terdiam sembari berjalan.
"ingot on amang, on ma haria ara. bolo tung adong dongan mu holan batas dison boi da. taburi ma dohot tano jala dohot aek di sekeliling na on. jala baen ma Gondang junjungan, parpasukkun ma tu pinoppar ni si Poltak. "
__ADS_1
(ingat lah nak, pohon beringin ini. jika ada teman yang lain, cukup sampai disini. taburi lah tanah dan air sekeliling pohon ini dan buat Gondang junjungan, hal tanya lah kepada keturunan si Poltak)
Kemudian kami melanjutkan perjalanan, lalu kami menyeberangi jembatan yang sudah di penuhi akar, dan akar tersebut adalah penopang dari jembatan ini.
Lalu pohon Ara yang banyak, jalan setapak ini semakin lebar. terlihat beberapa puing-puing rumah yang sudah lapuk.
"Unang talihon tu hambirang jala tu siamun bolo dung sahat dison. tu jolo ma tatap, jala bereng dalan mu."
(jangan lihat ke kiri dan ke kanan jika sudah tiba disini, tatap lah ke depan dan lihat langkah kaki mu).
terus melangkah lalu ada seperti tumpukan yang mencapai ketinggian mungkin 5 meter ke atas.
"bolo adong sian luit i, Unang tangihon. torus bereng tu jolo."
(jika ada suara dari tumpukan itu jangan perdulikan, terus lah berjalan).
Kami masih terus berjalan, lalu tiba lah kami di suatu tempat dan terlihat lampu yang berasal dari obor.
"nian ma luat i amang, sian pudi jabu pinoppar ni poltak ma dalan tu son."
(itulah perkampungan, dari belakang rumah keturunan si Poltak menuju ke sini).
"bolo naeng ro tuson, unang bereng tu pudi, torus mardalan. unang tangihon akka suara."
(jika hendak kemari, jangan melihat kebelakang. terus lah berjalan dan jangan pedulikan suara apapun itu.)
"sian on turun ma tu lombang ngan, jonok na ma tu luat an.
(dari sini turun ke bawah dan itu tidak jauh lagi ke perkampungan itu.)
Tangihon ma sude hata sipansingot hu asa unang lilu hamu amang jala hamogan ngolu.
(dengarlah semua nasihat Ku, biar kalian tersesat dan tidak binasa).
Hehe ma ho amang, boan ma pinoppar hu tu son. bolo nga turun ho Amang Unang tatap tu pudi."
(pergilah nak, dan bawa lah keturunan ku ke sini, jika kamu sudah turun dari sini dan janganlah lihat kebelakang).
__ADS_1
Aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang, tidak berapa lama ku lihat pak Didit dan Aris memanggil Ku.
Mereka berdua berdiri di belakang rumah, lalu memanggil namaKu dan akhirnya sinar silau itu menghalau kami.