KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Tarian Tortor yang Aneh


__ADS_3

ktung... tung..... tung......


Tagading atau gendang itu di tabuh lagi, dan susana semakin menyeramkan.


"Sian pogu ni alaman on, marpangido ma tu pargocci nami."


(dari tengah halaman ini, kami memohon kepada pemusik)


Mangidao hami baen damang Jo gondang si liat-liat ton, asa mangaliat jala marsomba tu oppung mula jadi nabolon."


(main dulu musik si liat-liat, supaya kami menari tortor sambil berkeliling, untuk memintak berkat kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar acara ini berjalan dengan lancar).


'nauli amang' (baik pak).


Pemain musik tagading Nya menyahut pemangku Adat, dan musik pun di mulai dengan tabuhan tagading atau gendang.


Suara tagading atau biasa disebut gondang, gong dan sarune (sejenis alat musik tiup tradisional) yang bersatu.


Musik tradisional khas Batak Toba yang masih dilestarikan hingga saat ini.


Musik itu mengalun dan meliuk yang sedikit memekakkan telinga, bagiKu yang pertama kali mendengar musik tradisional Batak Toba ini terasa agak asing.


Musik ini berbeda dengan musik yang digunakan saat pesta adat pernikahan saat ini, alat musik saat ini sudah menggunakan alat musik modern.


Musik yang digunakan dalam adat Batak sekarang tidak menggunakan serune dan gong.


Seperti keyboard, dram dan tidak ketinggalan gondang, bahkan sudah ada yang memakai gitar serta terompet dan tidak ketinggalan gondang.


Suara musik jaman sekarang yang digunakan untuk adat pernikahan dan adat lainnya sudah lebih modern dan alunan musiknya mengajak untuk bergoyang.


Pertama-tama rombongan pemangku Adat menari tortor seperti yang biasa aku lihat di pesta adat.


Dimana tangan disatukan di sejajarkan diatas mulut, yang hampir mendekati kepala dan kemudian tangan digerakkan naik turun.


Lalu kami yang ada di lingkaran ini mengikuti gerak tarian Joan.


Kemudian rombongan pemangku adat mengelilingi halaman dan menurut perhitungan ku, mereka mengelilingi halaman itu sebanyak tujuh kali.


Lalu Joan mengarahkan kami untuk menghadap ke luar lingkaran, dan ternyata rombongan dari pemangku adat menari mengelilingi kami.


Alunan musik tradisional Batak Toba ini mengiring tari tortor, tarian yang tidak pernah saya lihat.


Rombongan pemangku adat mengelilingi kami, tidak berapa lama kemudian oppung Doli Dison, sang pemangku adat nya, keluar dari barisan rombongan.


Hanya anggota rombongan yang mengelilingi kami, sementara pemangku adat menari tortor sendirian.

__ADS_1


Lama kelamaan tarian tortor sang pemangku adat agak lain, terlihat seperti main silat.


Lalu seperti orang kesurupan dan tarian itu semakin menjadi-jadi, layaknya seperti orang kesurupan dan warga lain terlihat biasa.


Sementara kami yang ada dalam lingkaran masih manortor.


ah...... ah....... ah........


"Aris....."


Aris mengerang dan ketika aku memanggilnya dan hendak menolongnya, tapi Joan tidak mengijinkan Ku.


Joan memintaku untuk tetap menari, sementara Aris sudah pingsan.


Joan melarang kami untuk melihat dan memegang Aris, dan kami di suruh tetap menari tortor.


Bu Rida yang melihatnya hanya bisa menangis ketika Aris sudah jatuh pingsan.


Tidak berapa lama kemudian, kini giliran Iren yang pingsan tanpa mengerang.


Lagi-lagi Joan melarang ku untuk menolong Aris dan Iren yang sudah tergeletak di tanah, Bu Rida hanya bisa menangis melihat kedua anaknya jatuh pingsan.


Sepertinya pak Didit tidak menyadarinya, hanya fokus menari tortor dengan alunan musik tradisional Batak Toba tersebut.


Merasa aneh, karena Joan tidak melarang tindakan Tarni. sementara pak Didit masih terus menari.


Bahkan tarian pak Didit sudah seperti tarian pemangku adat, yaitu oppung Doli Dison yang kami panggil Raja Huta.


Tarian itu semakin menjadi-jadi dan ketika ingin menolong Aris atau Iren dan Joan tetap melarangnya dan memintaku untuk tetap manortor (menari tortor).


Pak Didit dan pemangku adat saling berhadapan saat menari tortor, dan yang paling aneh ketika mereka menari tortor dan itu dalam keadaan mata mereka tertutup.


Mungkin bagi pemangku Adat itu adalah hal biasa, lalu bagaimana dengan pak Didit?


Pak Didit tidak pernah mengetahui tentang suku Batak dan segala kebudayaannya, tapi pak Didit seolah-olah sudah sepuh saat menari tortor tersebut.


Tarian itu semakin lama semakin aneh, dan lebih anehnya lagi pak Didit masih berada di dalam lingkaran bersama dengan Ku yang masih tetap menari tortor.


Kemudian pemangku adat atau Oppung Doli Dison, akhirnya kembali ke barisan sebagai pemimpin tarian.


brok.....


Pak Didit akhirnya pingsan dan terjatuh, lagi-lagi Joan melarang ku untuk menolongnya dan menyuruh ku untuk tetap manortor.


Pak Sarma mengangkat tangannya dan gondang berhenti berbunyi.

__ADS_1


Lalu Joan menarik tanganKu, yang menyuruh untuk berhenti menari.


Pemangku adat berjalan ke arah kami dan tidak masuk ke dalam lingkaran, lalu istri pemangku adat datang membawa cawan.


Cawan itu diberikan kepada pemangku adat, lalu mengambil daun pandan yang sudah terikat.


"Asi ni roha ni oppung mula jadi nabolon, marikkop tondi marhite-hite sian holang ni roha nasida maradappon hami na luat on."


(berkat kasih karunia Tuhan Yang Maha Esa, kepada jiwa yang malang melalui kasih Nya kepada kami yang ada di tempat ini).


Sambil memercikkan air dari cawan disekitar lingkaran, mungkin itu adalah mantra yang di ucapkan oleh pemangku adat.


cros....creas.....


Suara kaki kanan pemangku adat, yang membuat celah diantara di lingkaran untuk dirinya masuk ke dalam lingkaran ini.


Kemudian pemangku adat mendekati pak Didit, dan meminta Ku untuk memangku kepalanya.


Demikian juga dengan Joan yang langsung memangku kepala Aris dan Iren, sementara bu Rida sudah di pangku oleh Tarni.


"holloppit ma tangan Ku, jala marsomba ma ahu tu oppung."


(tangan aku lipat dan bersujud kepada mu wahai kakek).


Ucap pemangku adat dan duduk bersila, lalu mengepalkan kedua tangannya seperti orang yang bersujud ke hadapan pak Didit.


"paili ma hami oppung, jalan tatap hami. asi roham, dulo ma jo pinoppar mon."


(lihat lah kami kakek, dan lihatlah wajah kami. berikan kasih mu, kunjungi lah keturunan mu ini).


Itulah ucapan pemangku adat yang masih dalam bersujud.


Bla....bla....bla.....bla.......


Selanjutnya kalimat itu yang saya dengar, mirip seperti mantra dalam adegan film horor.


Suara itu semakin keras yang di iringi dengan musik gondang.


Semakin lama semakin kuat suara yang di iringi dengan musik gondang batak.


Tiba-tiba saja area kami dipenuhi dengan kabut tebal, dan aku tidak bisa melihat pemangku adat dan warga lainnya karena tebalnya kabut putih ini.


Sepertinya hanya aku berada di tempat ini dengan memangku pak Didit, akan tetapi suara gondang itu semakin pelan dan pelan.


Akhirnya suara gondang itu sudah menghilang, dan kabut semakin tebal dan suasana semakin dingin dan semakin menegangkan.

__ADS_1


__ADS_2