
Pukul 7 pagi, sarapan sudah tersedia yang di persiapkan oleh Rohani dan Tarni.
Satu persatu mereka bangun lalu berkumpul di ruang makan setelah masing-masing cuci muka dan gosok gigi.
Selama sarapan kami semua menikmati makana dan minuman yang tersaji, hanya Joan yang terkadang ngoceh.
Setelah selesai sarapan kami kemudian berkumpul di ruang tamu, lalu bel pintu berbunyi.
Ternyata Bapak yang datang bersama Oppung Doli Saur, wajah keduanya seperti tegang. seperti ada sesuatu hal penting yang mau disampaikan oleh mereka berdua.
*oppung Doli\= Kakek
*Saur adalah nama cucu pertama, sehingga menjadi nama panggilan. dalam tradisi Batak Toba, panggilan seseorang berdasarkan nama yang paling besar, dan jika sudah punya cucu maka nama cucu pertama yang akan jadi nama panggilan
.
"horas....." *salam dari Batak Toba.
Ujar Bapak dan oppung Doli Saur yang menyapa kami, dan kami pun menjawab salam tersebut.
Rohani langsung membuatkan kopi kesukaan bapak dan Oppung Doli Saur, setelah kopi tersaji lalu kami duduk tenang di sofa.
"amangboru pak Mora dan Oppung Doli Saur, mau ngapain datang kemari? kalau hanya diam aja, mendingan makan peyek aja."
"Joan....."
Rohani menegur Joan karena menurutnya tidak sopan, tapi bapak ku yang tampan itu hanya tersenyum menanggapi tingkah Joan.
Mungkin sudah terbiasa dengan sikap Joan yang kadangkala sangat menjengkelkan.
"sabarlah Tulang, tarik napas dulu. belum juga ngopi."
"ntah ni Joan, kepo kali."
*dalam tradisi Batak Toba, Joan adalah Tulang atau paman dari bapak. hal terusan dari mertua bapak yaitu orang tua kandungnya mama.
"bapak Aris, dan bang Mora. tadi kami sudah bicara dengan Oppung Doli Dison.
Semuanya sudah siap, semua keluarga pak Aris harus ikut dan nantinya saya dan bang Mora akan menemani pak Aris dan keluarga."
__ADS_1
Joan langsung duduk disamping Bapak lebih tepatnya diantara bapak dan Oppung Doli Saur, sehingga posisinya berada di tengah-tengah mereka berdua.
"butuh penyanyi Batak ngak? Joan siap bantu."
ucap Joan yang menawarkan bantuan Nya dan terlihat wajahnya begitu sumiringah dan bersemangat.
"oh iya, untung tulang ingat kan. Oppung Doli Dison berpesan. kalau kita harus membawa penyanyi Batak dan group band musik tradisional Batak Toba.
Oppung Doli Dison sudah mendapatkan group band musik batak yang nantinya akan dibawa ke pedalaman desa Aek Simarmata.
Jadi yang belum dapat group band untuk desa Aek Holong nantinya, penyanyinya akan berkolaborasi dengan group band yang ada di desa Aek Holong."
"Joan aja amangboru, Joan juga kenal group band yang sudah terbiasa memainkan musik tradisional Batak Toba.
Setiap festival Batak Toba, group temanku ini selalu di undang. tentunya Joan sebagai penyanyi nya."
"ngak lah Joan, nantinya....."
ting nong.... Ting nong....
Bapak berhenti bicara karena suara bel pintu berbunyi dan dengan sigap Gomgom membuka pintu dan yang datang adalah Tulang pak Rohani.
"Kebetulan bapak datang, jadi Joan ingin ikut ke kampung bang Mora pa. bisa pa?"
"Lae, pak Didit dan Bere. maksud kedatangan saya ke sini adalah karena perwakilan tim pemerintah yang bersikukuh untuk tetap melaksanakan proyek ekplorasi kelayakan alam desa Aek Simarmata."
(bere\=keponakan, Lae\=panggilan kepada ipar laki-laki. *dalam tradisi Batak Toba)
"eh nung rittik do pemaretta? tung di pasae pinoppar ni si Horas laho mappasidung Begu ganjang on. tong do hamatean na di alpuk Sian ni amang." *dialog Batak Toba.
(sudah gila kah pemerintah ini? seandainya keturunan dari si Horas (pemuja Begu ganjang yang pertama kali) mengakhiri kutukan begu ganjang ini, tapi hanya kematian yang ada jika proyek tersebut tetap dilaksanakan).
Kami terdiam sejenak setelah penurunan Oppung Doli Saur yang sudah di terjemahkan oleh bapak, dengan suara nya bergetar dan terlihat dari raut wajahnya yang lelah ketika mendengarkan desa Aek Simarmata.
"kenapa kek gitu oppung? bukannya nanti Begu ganjang itu akan lenyap selamanya?"
Pertanyaan Joan mengakhiri diam nya kami setelah perkataan dari oppung Doli Saur.
"sibolis tetap do sibolis pung, dang boi i hehe saleleng portibi on adong. apalagi dang lengkap annon pinoppar ni si Horas." *dialog Batak.
__ADS_1
(iblis tetaplah iblis cucuku, iblis tidak lenyap sampai dunia ini kiamat. apalagi keturunan dari pemuja Begu ganjang ini tidak lengkap nantinya).
Penuturan dari Oppung Doli Saur di terjemahkan oleh bapak, terlihat tulang pak Rohani mendekati Oppung Doli Saur.
"saya juga sudah mendengar penjelasan itu dari warga desa Aek Holong Amang, tapi atasan saya tidak mau tahu dan tidak percaya akan hal itu.
Proyek tersebut harus terlaksana, dan desa Aek Holong akan menjadi tempat tinggal penghuni proyek nantinya.
Pemerintah sudah membuat pemukiman baru yang tidak jauh dari ibukota kecamatan dari desa Aek Holong.
Pemerintah yang bekerja sama dengan kepala desa Aek Holong dan camat daerah administrasi sudah selesai mendata para warga desa Aek Holong yang akan di pindahkan ke daerah yang baru.
Rumah, kebun dengan luas masing-masing keluarga dua hektar serta bibit ternak bagi siapa yang mau dan ganti rugi dari semua kebun, serta sawah dan rumah warga desa Aek Holong yang akan di gusur.
itu yang bisa tim ku upayakan, tapi proyek tetap berjalan."
"bah nga denggan ni, hami pe par Aek Holong tung massai marsikkor do. pindah tempat gabe solusi na denggan."* dialog Batak.
(Baguslah kalau begitu, kami warga desa Aek Holong sudah menderita. pindah adalah solusi yang terbaik).
"benar itu Amang, sesuai saran Boru mu dan pohoppu ini yaitu Mora.
Aku nantinya akan pensiun atau mengundurkan diri setelah warga desa Aek Holong mendapatkan hak mereka atas terlaksananya proyek tersebut.
Nantinya saya membantu Mora untuk mengolah tempat ini, atasan tidak mengerti dan tidak mau mengerti akan hal yang berbau mistis."
"syukurlah kalau akhirnya tulang mau mendengarkan saran dari Mora dan Nantulang.
Lagi pula pariban sudah selesai kuliah kok, dan Nantulang masih bekerja sebagai PNS.
Tulang kerja disini dan Nantulang kerja juga, Mora ngak mau tulang ntah kenapa-kenapa nantinya yang akan membenani pariban dan nantulang."
"betul sekali itu bang Mora, karena Joan juga bisa cari uang sendiri. lagi pula mengelola tempat ini juga Kren.
Mengenai proyek itu, apa nanti bapak ikut bang Mora ke desa Aek Holong?"
"iya mang, karena tanggungjawab bapak. setelah warga desa Aek Holong menerima hak nya, maka bapak akan pensiun.
Bapak sudah mengajukan permohonan pensiunan, biasanya tiga bulan mendapatkan tanggapan.
__ADS_1
Atasan bapak juga berkata, selesai warga desa Aek Holong di relokasi dan mendapatkan hak, baru bapak bisa pensiun."
Joan dan kakaknya memeluk bapak mereka, dengan tingkah Joan yang jahil saat memeluk Bapaknya membuat kami tertawa.