KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Di usir Keluarga Pak Deh


__ADS_3

POV. Pak Didit.*


Perjalanan satu jam lebih, akhirnya sampai juga di bandara internasional Kualanamu Deli Serdang Sumatra Utara, terlihat seorang wanita mudah nan cantik melambaikan tangan ke arah kami, dan itu disambut dengan senyuman sumringah oleh Mora, dan mereka pun menghampiri wanita yang melambaikan tangan nya itu.


"Pak....Bu....Aris, Iren dan Tarni, kenalin ini nama nya Rohani pariban Abang"


"Oh.....oh.....oh.....oh....oh......


Mereka pun bersalaman, dan seketika itu juga Iren langsung menempel ke Rohani.


"Iren panggil kak Ani aja ya."


Rohani mengangguk sambil tersenyum melihat tingkah iren, yang sok akrab.


"Kak Ani......


tau ngak dari kemarin bang Mora senyum-senyum bahagia gitu, eh ternyata kak Ani lebih cantik kalau di lihat secara langsung dan itu yang membuat bang Mora kepincut."


Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Serantak mereka semua pun tertawa melihat tingkah Mora dan Rohani yang salah tingkah.


"Dek....mobil nya parkir dimana?"


karna sudah malu Mora pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan mobil parkir.


"Di parkiran B dekat dari sini kok, ayok kita jalan."


Sembari membawa bawaan istrinya pak Didit, pariban nya Mora itu menuntun mereka ke parkiran, memang dekat, setalah memasukkan barang bawaan ke bagasi, rohani menyerahkan kunci mobil ke Mora.


Dan dengan sigap Mora membuka pintu mobil untuk adik-adiknya serta Bu Rida dan pariban nya itu dan juga Tarni.


"Kak Ani duduk di samping bang Mora aja ya, biar papa duduk dekat mama aja, kan dah lama ngak ketemu."


Terlihat Mora dan Rohani salah tingkah lagi, dan Mora mengalihkan pembicaraan nya.


"Pak...Bu....kita langsung ke rumah keluarga pak deh bapak ya."


Seketika suasana menjadi tenang, tidak ada canda tawa itu, mungkin karena pertama kali kami akan bertemu dengan keluarga pak deh.


"Oh ya pak, bu..... karena penempatan Koas saya belum keluar jadi' saya bisa menemani bapak dan ibu sekeluarga selama di Medan, Iren. bisa kakak mintak no handphone mu?


Dengan sumringah Iren memberikan nomor handphone nya ke rohani, pantas saja Mora tertarik dengan pariban nya itu, cantik, sederhana, ramah dan tentunya pintar, karna kuliah kedokteran di universitas negeri.

__ADS_1


Tiga puluh menit lebih perjalanan melalui jalan tol, akhirnya keluarga pak Didit sampai di alamat yang di kirim pak deh.


Tapi yang menyambut Keluarga pak Didit adalah seorang wanita yang sudah berumur, tapi Indra anak pak Deh tidak terlihat samasekali.


Bu deh menyambut keluarga pak Didit dengan raut wajah yang ketakutan, setelah pak Didit memperkenalkan diri, raut wajah wanita yang berumur itu berubah menjadi raut wajah marah.


Pak deh, memperkenalkan wanita itu kepada keluarga Nya, ternyata wanita tadi adalah Ibu kandungnya pak Deh.


"pak deh dan Bu Deh kemana Bu?" tanya pak Didit kepada wanita tua itu.


"Pergi kalian dari rumah ini, cukup kesialan yang sudah berlalu saja, jangan tambah lagi kesialan baru.


Pergi kalian dari sini..


Pergi........."


Teriak ibu nya pak deh kepada pak Didit dan keluarganya, Mora dan Rohani menuntun keluarga itu keluar halaman rumah itu untuk segera berlalu dari komplek itu, sangat jelas terlihat Iren dan istrinya pak Didit serta Tarni ketakutan, karna teriakan ibu nya pak deh itu.


Susana begitu runyam, pak deh menyuruh pak Didit dan keluarganya untuk datang ke rumah nya, tapi malah mengusir pak Didit sebelum mempersilahkan mereka masuk.


Di dalam mobil mereka sejenak terdiam dalam keheningan, hanya suara mesin mobil ini terdengar jelas.


"Pak...Bu... Dan Adek-adek kita ke apartemen aja ya, kita cari solusi lain nya, semua perkara pasti ada jalan keluarnya."


Akhirnya mereka sampai di apartemen nya Mora, setelah parkir lalu naik lift dan akhirnya Sampai juga.


"Bapak sama ibu di kamar utama, Iren dan mbak Tarni di kamar kiri dan Aris di sebelah nya ya."


Pak Didit dan yang hanya mengangguk aja, terlintas di benak atas pengusiran oleh wanita tua tadi.


"Bapak ...... Ibu......


Sebelum nya Ani dah belanja keperluan selama di Medan, mulai dari bahan pokok makanan sampai keperluan mandi. Dan saya juga akan menginap disini."


Istri pak Didit menatap rohani dengan mata berkaca-kaca, seketika Bu rida istrinya menangis, dan di peluk oleh rohani.


"Bu..... Tenang Bu, ada bang Mora yang selalu bersama ibu dan keluarga, dan juga ada saya Bu. Tenang ya Bu." ujar Rohani yang mencoba menenangkan bu Rida.


Pak Didit Tidak tega melihat istrinya, Iren dan Aris serta Tarni juga jadi ikutan nangis. karena di usir oleh pak Deh suami nya.


Mora mendekati pak Didit dan memeluknya lagi, kehangatan dari seorang anak yang membuat pak Didit merasa tenang dan memberi nya kekuatan baru.


'bila yang tertulis untuk mu adalah yang terbaik untuk Ku, kan berikan...'

__ADS_1


Nada panggilan handphone rohani, lagu group Samson, membubarkan pelukan kami.


"Halo Gom....."


"Halo kak..... Kok saya ngak di jemput?"


Seketika Mora pun mengambil handphone nya rohani.


"dari mana saja, ijin pulang duluan tapi malah baru sekarang pulangnya, kamu pulang aja sendiri ya, langsung ke rumah ya, jangan kelayapan lagi. awas saja kamu kalau masih berani kelayakan."


"iya bang...."


Jawab Gomgom adiknya yang tidak berani membantahnya.


Sesaat kemudian Mora mengembalikan handphone rohani, dan mempersilahkan pak Didit dan keluarga untuk duduk, rohani mengeluarkan minuman botol yang di ambil dari kardus dan memberikan nya kepada semuanya.


"Bu.... saya akan tetap berada disini bersama bapak dan ibu serta keluarga selama di Medan."


Ucap Rohani untuk kedua kalinya, dan itu membuat susana tidak kaku.


Bu Rida melihat ke arah rohani, dan rohani tetap tersenyum ramah dan bersahabat.


"Ani...mang nya kamu ngak melayat ke rumah Mora?"


Tanya bu Rida kepada Rohani, sebab calon istrinya Mora itu berkata akan selalu menemani keluarga pak Didit selama di Medan.


"Kemarin Ani sudah melayat buu, dalam tradisi Batak, perempuan lajang seperti saya tidak terlalu di perlukan bu, cukup kedua orang tua Ani yang nanti yang hadir saat pesta adat nya, kecuali jika bang Mora sudah menikahi ku, maka saya wajib ada disana"


Dan seketika itu Iren memukul Mora di punggungnya dengan muka kesal nya.


"Tuh kan bang, kak Ani jadi sedih karna tidak bisa hadir di pesta adat nya"


Mora yang terkejut dan sedikit kesakitan melihat ke arah Iren.


"Iren..... Kak Ani kan kuliah, dan baru wisuda, masa langsung Abang nikahin."


Jawab Mora yang berusaha tenang dan bersikap wajar setelah di pukul kuat oleh Iren.


"Iya iya iya bang."


Dengan santai nya Iren berkata demikian, dan hal membuat kami tertawa lagi.


Sakitnya ketika di usir dari rumah pak Deh, seketika hilang karena jawaban singkat dan merasa tidak bersalah dari Iren.

__ADS_1


__ADS_2