
Kami mengendarai mobil sedan nya Rohani menuju desa Aek Holong, kami bersama rombongan dari dinas tempat tulang bapak Rohani bekerja dan Hanya saya yang bisa menyetir, ku lihat dari kaca spion, rombongan dua mobil dari dinas tetap berada dibelakang kami, baru saja tiga jam perjalanan kabut sangat tebal bahkan sangat sulit ditembus cahaya kami.
Karena yang lewati adalah daerah wisata, jadi banyak warung dan kafe dipinggir jalan, berhubungan dengan kabut yang sangat tebal kami berhenti di salah satu kafe, ternyata banyak pengendara yang lain berhenti karena kabut.
Untuk menghilangkan rasa ngantuk ku pesan kopi Hitam, dan kami juga memesan mie rebus, begitu juga dengan bapak dan Tulang beserta rombongan yang berjumlah 8 orang, satu mobil di isi 4 orang, dan Tulang sebagai penanggung jawab nya.
"Baru kali ini kabut tebal pak, walaupun hujan deras kabut tidak pernah seperti ini."
Pelayan kafe itu memberi tahu kan kami Kondisi jalan pada umumnya tanpa kami bertanya.
"Ngomong-ngomong bapak-bapak ini pada mau kemana?"
"cuman jalan-jalan kok pak."
Ku jawab pertanyaan pelayan kafe di sekedar nya aja, karena saya tidak ingin dia tau kemana tujuan kami.
Makanan kami sudah habis, kopi juga sudah mau hampir habis tapi Kabut belum juga hilang.
Dan tiba-tiba mobil yang ku kendarai bergoyang dengan kuat, semua pengendara yang berhenti pun ikut terbengong dan ada yang ketakutan.
Setelah aku ingat tas berisi benda-benda yang kami temukan berada dalam mobil, apakah itu penyebab nya?
Mobil nya akhirnya berhenti bergoyang, dan tiba-tiba lagi bergoyang lagi, rombongan kami dari dinas mulai ketakutan.
Setelah mobil bergoyang dan keluar asap yang tebal, dan asap yang keluar sama seperti kabut yang menghalangi jalan kami.
Kini mobil itu melayang di udara, teriakan para pengendara yang terdengar ketakutan, kabut yang hitam, menambah seram nya Susana.
Mobil itu masih melayang-layang, dan terhempas lagi, melayang lagi dan terhempas lagi.
ahhhhhhh............ahhhhhhh............. ahhhhhhh............ahhhhhhh.............
ahhhhhhh............ahhhhhhh.............
ahhhhhhh............ahhhhhhh.............
Mobil melayang dan terhempas secara berulang membuat para pengendara lain menjadi berteriak dengan histeris, begitu dengan rombongan kami.
Durttttt........Durttttt........Durttttt........Durttttt.......
ahhhhhhh............ahhhhhhh............. ahhhhhhh............ahhhhhhh.............
ahhhhhhh............ahhhhhhh.............
ahhhhhhh............ahhhhhhh.............
Mobil nya meledak, ditambah dengan teriakan para pengendara, kini mobil Tersebut mengenai mobil yang parkir.
__ADS_1
Suara teriakan para pengendara lain, membuat semakin mencekam kan, secara ajaib tas yang berisi benda-benda dari rumah pak Didit terlempar ke arah ku, dan seketika melayang-layang diatas kami, tepat di depan kami tas itu menghilang.
Mobil yang ku kendarai akhirnya terlempar lagi ke mobil lain yang sedang parkir, asap dan kabut menyatu menjadi satu, teriakan akan orang-orang dan hilang secara misterius tas ku yang berisi barang-barang dari rumah masa kecil pak Didit.
Tak berselang lama petir menyambar begitu juga dengan gemuruh yang sangat kuat dan menakutkan.
Hujan pun turun dengan derasnya disertai dengan angin yang kencang, dan membuat pohon bertumbangan.
Pohon yang tumbuh tepat mengenai tiang Listrik, sehingga membuat mati lampu, yang di nyalakan karena kabut tebal, seluruh bulu kuduk berdiri, ketakutan yang ku alami sangat besar.
Hujan deras, petir dan gemuruh membuat kami semua yang ada tempat ini semakin ketakutan.
Tidak satupun diantara kami yang bergerak, mungkin karena ketakutan. Hujan deras, petir dan gemuruh serta mati lampu, membuat semua orang ketakutan.
drrt drrrt drrt drrrt drrt
Getar handphone ini berbunyi membuat ku semkin jantungan, ku lihat di handphone tertera nama oppung Dison, nomor handphone nya ku mintak dari oppung saur, Adek dari almarhum oppung ku.
[halo Mora, sudah dimana oppung?]
[kami lagi jalan oppung, tapi hujan, petir, kabut tebal nan hitam menghalangi jalan kami]
[tunggu reda hujannya dan kabut nya hilang baru kemari ya, oh ya barang yang kalian temukan sudah sama oppung]
[kok bisa oppung?]
[ya oppung]
[hati-hati di jalan]
Hubungan telepon pun terputus, sengaja ku iyakan semua perkataan oppung Dison Karen petir dan gemuruh disertai hujan membuat ku takut untuk berlama-lama nelpon.
Suasana sudah mulai tenang setelah pemilik kafe menyalakan beberapa lilin yang menerangi tempat ini Yang penuh dengan kabut dan asap hitam nan menyeramkan ini.
Hujan makin deras, dan petir serta gemuruh tidak separah tadi, rasanya sangat dingin sampai ke tulang persendian ku.
Ku lirik jam Tangan ku ternyata sudah menunjukkan pukul dua siang yang sudah seperti malam karena kabut dan asap hitam, berarti sudah empat jam kami disini berteduh.
Perlahan-lahan kabut hitam menghilang, petir dan gemuruh tidak terdengar lagi tapi hujan semakin deras.
drrt drrrt drrt drrrt drrt drrrt
handphone ku berbunyi lagi, aku lihat Joan yang menghubungi ku.
"Halo Joan...."
"halo bang Mora.....
__ADS_1
"kenapa Joan?"
Joan yang biasanya pecicilan saat ngobrol, tapi kali ini suaranya bergetar akan ketakutan, hal ini membuat ku semakin kwatir.
"bang.....
"kenapa Joan, ayo ngomong."
"bang...
ini amang Boru bapak Aris dan Aris kejang-kejang bang."
"Gomgom dah Joan hubungi?"
"sudah bang."
"Kasih dulu sama kakak mu."
"halo bang Mora.....
"halo sayang.....
dengar baik-baik, ambil kan bawang merah, bawang putih dan garam, taburi garam di sekeliling ruangan, iris bawang nya masukkan dalam air, kemudian lap kan ke wajah pak Didit dan Aris."
"baik bang."
Seketika itu telpon dari rohani terputus, dan kini saya dalam ke kwatir, bapak dan Tulang mendekati ku, tapi masih terdiam.
"Mora kita harus lanjutkan"
"iya pasti pak."
Hujan belum juga berhenti, disini sangat menakutkan, secara perlahan kabut sudah hilang, dan sekarang hanya lah gerimis.
Akhirnya hujan berhenti juga, dengan memakai sinar center handphone ku cek mobil dinas yang dibawa rombongan, sisa satu mobil yang masih utuh tanpa tergores.
Beberapa mobil sudah terbakar, sementara mobil nya Rohani yang ku pinjam sudah remuk dan hitam karena terbakar dan terlempar.
Rombongan dari dinas tadi yang berjumlah 8 orang tidak berani melanjutkan perjalanan ke desa Aek Holong, dan mereka juga tidak mau mengendarai mobil dinas yang tersisa mereka akan naik bus atau kendaraan lain nanti nya.
Setelah ijin ke mereka, kami bertiga melanjutkan perjalanan, mobil Rohani yang terbakar dan mobil dinas mereka yang akan urus.
Kami bertiga berangkat memakai mobil dinas yang masih tersisa, secara perlahan ku tancap dengan kecepatan standard.
Ku lirik jam Tangan ku ternyata sudah menunjukkan pukul tiga 3 sore, mungkin empat jam lagi perjalanan baru kami tiba.
Semoga perjalanan kami lancar sampai tujuan, dan semoga kami selamat Sampai tujuan.
__ADS_1