
Krek.... krek... krek....
Bunyi itu keluar dari mulut Joan yang masih mengunyah peyek, sambil bertanya dan juga sambil mengunyah.
"ada tiga Kakek yang sudah siap meninggal demi anak cucu mereka terhindar dari kutukan begu ganjang ini.
Mereka bertiga mengambil persyaratan yang lainnya berupa tanah dalam guci di pondok pemuja Begu ganjang yang pertama kali dan air dari air terjun itu.
hanya satu kakek yang selamat, karena kakek itu adalah pendatang ke kampung itu yang tidak ikut membakar pemuja Begu ganjang ketika itu.
Sementara dua kakek lainnya terbawa kabut putih nan tebal dan salah satu diantara mereka menyuruh kakek yang selamat itu segera pergi membawa tanah dan air tersebut."
"loh.....
berarti kedua kakek yang menghilang itu sudah tahu dong akan menjadi korban di desa Aek Simarmata itu.
Kakek yang selama adalah pendatang, yang tidak berhubungan dengan pembakar pemuja Begu ganjang itu.
Kenapa bukan kakek itu yang ambil sendiri? atau kenapa bukan Oppung Doli Dison aja yang mengambil?"
"itu yang Abang pertanyaan kepada kakek yang hidup Joan.
Kakek yang masih hidup biasa di panggil oppung Doli Sarma. dan Kakek yang hilang adalah oppung Leo dan Oppung Doli Sean.
Oppung Doli Sarma sudah sangat tua sekali, jadi kedua Oppung itu berinsiatif untuk menemani oppung Doli Sarma ke desa Aek Simarmata.
oppung Doli Leo dan Oppung Doli Sean yang mengambil persyaratan itu, sementara oppung Doli Sarma hanya menunggu di atas jalan.
setelah mendapat tanah dan air tersebut, dan kemudian di lemparkan ke arah oppung Doli Sarma dan seketika itu kabut tebal membawa oppung Doli Leo dan Sean.
Oppung Doli Sarma langsung meninggalkan desa Aek Simarmata dengan membawa dua persyaratan yang berhasil dikumpulkan oleh Oppung Doli Sean dan Oppung Doli Leo.
Hanya oppung Doli Dison yang sanggup mengakhiri kutukan, jika Oppung Doli Dison ikut dan kemungkinan akan tertelan kabut tebal itu, lalu siapa yang membantu mengakhiri kutukan ini?"
Hanya suara dari mulut Joan yang terdengar, lalu Gomgom duduk di dekat Joan dan mengambil beberapa peyek dari toples tersebut.
Kini dua sumber suara yang mengunyah terdengar dan perhatian kami tertuju kepada mereka berdua, hanya Gomgom yang sadar kalau menjadi pusat perhatian.
Sementara Joan sibuk memperhatikan jari-jari pak Didit.
"bang moya......"
Karena ucapan dari Joan tidak benar karena peyek berada di mulutnya dan Rohani kakaknya hendak mencubit nya tapi Bu Rida menghalangi nya.
"kenapa Joan?"
"biasanya kan bang, seperti di film-film horor itu. hantu peliharaan di taru dalam batu cincin, ini amangboru ini ngak punya batu cincin.
Cincin yang dipakai amangboru seperti cincin pernikahan, seperti yang di pake bapak dan mamak."
Joan kemudian memperhatikan jari Bu Rida, lalu tersenyum.
__ADS_1
"tuh kan itu cincin pernikahan, sama dengan yang pakai bou. trus amangboru menaruh iblis dimana ya."
"itu di toples Joan."
'ha......ha......
prak tak...tak....tak.....
Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Joan seperti percaya dengan ucapan barusan, toples yang berisi peyek tersebut terlempar dan isinya berantakan di lantai.
Hanya Gomgom yang tertawa lepas karena ekspresi ketakutan dari Joan, tapi suara teriakan Joan dan tawa dari Gomgom membuat pak Didit dan Aris bergerak.
Tubuh mereka berdua seperti berguncang, lalu kaki dan tangan mereka berdua bergerak dan perlahan diam.
"Abang ini ada-ada aja lah, masa Joan makan Begu ganjang!"
hadeh.......
Suara Rohani yang terlihat kesal melihat tingkah Joan.
"bang Mora, kapan membawa amangboru dan keluarga ke desa Aek Simarmata?"
"nanti di telpon oleh Oppung Doli Dison, sekarang mereka mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan sembari menunggu bapak dan Aris siuman."
"oh begitu, kak Ani ngak bisa membangunkan amangboru dan bang Aris?"
"kenapa kak Ani? kan kakak calon dokter!"
"Joan.....
kakak mu memang calon dokter yang cantik, tapi ini bukan masalah medis tapi masalah gaib yang kita hadapi."
"cie.... kak Ani, ngak udah baper. ingat kakak berada dalam pengawasan Ku."
Hanya Gomgom yang terlihat tersenyum tapi Rohani terlihat jengkel dengan pernyataan dari Joan.
"kok bisa Joan? kenapa kak Ani bisa jadi dalam pantauan Mu?"
Joan langsung melirik Iren yang bertanya kepadanya dengan nada sinis.
"bapak sudah menyerahkan kuasa nya kepada Joan untuk menjaga kak Ani dari jangkauan laki-laki pemberi harapan palsu."
Joan berkata tapi liriknya tajam nya mengarah Ku dan itu membuat Rohani semakin jengkel.
"Joan, Abang bukan pemberi harapan palsu. Abang menunggu kakak mu selesai kuliah sembari menabung untuk Sinamot kakak mu Joan."
"ngak usah di tanggapi bang, ntar makin naik kupingnya itu."
"naik kuping? maksudnya apa sih kak Ani?"
__ADS_1
"merasa tinggi hari karena menjadi pusat perhatian ren."
"enak aja, asal kak Ani tahu ya. Joan ini juara 3 Toba idol."
"Toba idol, kirain Indonesia Idol."
Rohani menyanggah dengan nada sinis, dan Iren terlihat penasaran.
"itu lomba apa Joan?"
"itulah kak Iren, lomba nyanyi. diadakan sekali setahun pas festival tahunan pesta danau Toba. kak Iren mau dengar lagu andalanku?"
"ngak usah Joan, bising tahu."
"ngak gaul, sebenarnya wajar. kan pokok bahasan kak Ani tidak jauh-jauh dari usus besar, usus halus, hati dan jantung. kayak di dapur aja."
'joan......'
kali ini Rohani tidak bisa menahan rasa jengkelnya dan akhirnya berusaha mencubit Joan tapi Joan malah lari ke arahku.
Alhasil aku dan Rohani berpelukan dan tatapan saling beradu, wajah cantik itu tepat di hadapan Ku.
"upsss....
tunggu dulu bang Mora, enak aja main peluk kakak Ku."
Hadeh.....
Dasar pengganggu, tidak bisa melihat orang bermesraan.
Bu Rida, Iren, Gomgom dan Tarni terlihat tertawa karena pelukan kami berdua dipaksa lepas oleh Joan si perusuh ini.
"kak Ani duduk, jauhi bang Mora."
Rohani langsung menuruti perintah dari Joan hal ini membuat Bu Rida berdecak kagum, sebab sedari tadi Rohani terlihat geram melihat Joan.
Tapi rohani bisa begitu nurut dengan perintah dari Joan.
Rohani sudah duduk di dekat samping Bu Rida, sementara Joan duduk dekat Ku.
"bou kali, bang Mora kentut ya?"
Ini anak bocah memang asal mangap aja, memang sih bau, tapi aku tidak kentut.
Perlahan-lahan kami semua mencium bau tersebut.
Bau bangkai, dan semakin lama semakin menyengat dan itu seperti berasal dari ayam hitam tanpa kepala itu.
Tapi tidak mungkin membusuk secepat itu, karena baru tadi di potong, tapi kenapa bau busuk dan menyengat ini berasal dari situ itu.
Bau nya semakin menyengat dan sangat menyengat.
__ADS_1