
Wajah Pak Didit dan Aris tepat di depan wajah Ku, dan mereka berdua menatapku dengan cemas.
"syukurlah bang Mora sudah sadar." ujar Aris seraya membantuKu untuk berdiri.
Rohani, Bu Rida, Iren, Tarni dan Gomgom serta Joan terduduk lemas di sofa, mereka melihat dengan tatapan heran.
"mana ayam, ayam?"
Gomgom kemudian mengambil ayam hitam itu serta darahnya lalu memberikannya kepada ku.
"gom, ambil korek dan sesuatu yang bisa membuat ayam terbakar."
"dibelakang apartemen ini ada khusus tempat pembakaran bang."
ucap Joan lalu kami bergerak mengambil ayam, darah dan kumbang lalu bergerak menuju belakang.
Tanpa ada yang menyanggah tindakan Ku, kami semua ikut membakar nya. setelah terbakar terlihat gumpalan asap yang berbentuk sosok yang tidak jelas berlalu dari tempat pembakaran tersebut.
"apa itu bang."
Ujar Joan yang kemudian memegang bahuku dari belakang.
"tenang semuanya, kita harus memastikan benda-benda ini terbakar habis."
Gomgom kemudian menambah api melalui setelan gas pemberi bahan bakar, tidak lama kemudian terlihat semua sudah menghitam lalu berubah menjadi putih seperti debu khas hasil bakaran.
Setelah semuanya yakin terbakar ludes, akhirnya kami naik ke Apertemen lagi. sesampainya kami di dalam ruangan ini, saya mintak mereka semua mandi lalu mengganti pakaian serta spray yang di terpasang di tempat tidur.
Setelah semua beres dan semuanya telah mandi dan berganti pakaian, lalu kami duduk di sofa.
"lapar.....
Joan pesan makanan ya? tapi bang Mora yang bayar?"
"jangan Joan yang pesan bang, biar Ani aja ya."
"ah.... kakak ah....
pasti pesan makanan dari restoran Mandailing itu kan? Joan makan ayam goreng kak."
Pinta Joan dan aku hanya mengangguk setuju, karena memang sudah terasa lapar.
"disana juga ada ayam goreng, ayam kampung lagi."
"terserah kakak aja deh, mentang-mentang bang Mora yang bayarin. dasar bandit." *dialog Medan.
(dasar bandit, tergantung kepada obrolan atau pembicaraan. maksud Joan menyatakan bandit kepada kakak nya adalah sebagai perusuh atau bersikap curang.)
"diam lah ko, banyak kali bacot mu. tinggal nelan aja tapi banyak kali cengkunek mu." *dialog Medan
("*ko* artinya kamu " kamu diam, jangan terlalu banyak bicara. tinggal makan saja tapi banyak permintaan nya).
Iren dan Aris terlihat kebingungan karena obrolan mereka yang menggunakan bahasa medan, tapi mereka berdua hanya terdiam.
Akhirnya Rohani yang memesan makanan dan itu terdengar sangat banyak, setelah selesai menelpon kekasihku itu kemudian tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"maaf ya bang Mora, nanti kalau dah nikah sama kakak Ku. tolong sediakan uang yang banyak untuk membeli makanan. karena mempunyai sembilan lambung"
"Joan, kita kan banyak disini, wajarlah kakak mu pesan banyak."
Bu Rida membela Rohani dari ejekan Joan, karena merasa di bela kekasihku itu tersenyum lalu mengejek Joan.
Kami hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku kedua kakak beradik itu, yang seperti tom Jerry.
"nasi gimana?"
"slow ko Joan, tadi jam 6 sore kakak dah tenggek kan nasi."* dialog Medan.
(tenang Joan, tadi jam enam sore kakak sudah memasak nasi di penanak nasi).
Joan kemudian menjulurkan lidahnya ke Rohani dan hal itu membuat kakaknya terlihat geram dan hendak mencubit nya tapi Rohani di tahan oleh Bu Rida.
"apa kalian berdua akan seperti terus?"
Bu Rida berkata demikian lalu tersenyum, mungkin Bu Rida merasa heran tapi gimana gitu.....
"kakak yang duluan bou, bandit kakak itu."
"sini ko, biar kakak kasih paham dulu."
*dialog Medan.
(kasih paham artinya memberikan pengertian sekaligus pelajaran dalam bentuk adegan fisik, misalnya mencubit.)
Joan dan kakaknya malah adu mulut, tapi Aris dan Iren seperti menikmati keadaan ini. dan akhirnya aku juga yang turun tangan.
Aris dan Iren terlihat tersenyum, sementara Gomgom tertawa.
"Napa kau gom?"
"ngak bang, lucu aja. Aris dan Iren kebingungan dengan bahasa mereka berdua. seolah-olah Aris dan Iren berada di planet lain dengan bahasa yang beda."
"iya bang."
Ujar Aris yang menanggapi perkataan dari Gomgom.
"itulah bahasa medan, terdengar aneh serta volume suara yang agak sudah di kontrol."
"iya benar itu bang, seperti Iren pertama kali ketemu sama abang.
Terkejut aku bang, logat Abang yang agak Laen membuat ku syok berat.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami hanya bisa tertawa karena Iren yang mencoba logat medan.
"daripada mbak Tarni, mas Joan monggo di cicipi peyek buatan mbak.
kirain mbak Tarni memarkan peyek mangga ke Joan. monggo itu kan mangga, agak Laen memang mbak Tarni. udah gitu suaranya sangat irit."
"daripada ko ngegas trus'" * dialog Medan
__ADS_1
(ngegas terus artinya berteriak atau bicara dengan nada tinggi).
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami kembali tertawa karena ocehan dari Joan, seolah-olah kami sedang baik-baik saja.
"bang Mora, kenapa ayam hitam itu harus dibakar bang?"
"sudah bang Aris, nanti aja kita bahas itu. setelah kita makan baru bahas tuntas.
bang Aris sudah satu hari satu malam ngak makan loh, Abang bisa bertenaga seperti ini karena Infus."
"benar kata Joan, ntar kita bahas setelah selesai makan. setuju....."
"setuju.....
Kami semua dengan kompak menjawab setuju, lalu Rohani dan Tarni berdiri.
"pada mau kemana kak?"
"menyiapkan makanan Iren."
jawab Rohani ke Iren dan Iren pun bergegas untuk menyiapkan makan malam kami.
Tidak berapa lama bel pintu berbunyi dan Joan dan Gomgom dengan sigap membuka pintu tersebut.
Ternyata itu adalah pesanan Rohani, terlihat banyak dan total yang aku harus bayar lumayan banyak juga.
Joan dengan menggenggam erat lauk pauk yang di tangannya tersenyum ke arahku dan itu seperti memberitahukan kalau pesanan kakak nya sangat luar biasa banyaknya.
"banyak kan pesanannya, kakak ku gitu loh."
Ucap Joan yang seolah-olah mengejek kakaknya.
"sudah Joan, kita kan banyak. lagian semuanya terlihat enak."
"benar Bu, ini enak-enak semua."
Ujar Rohani seraya tersenyum menanggapi obrolan dari Rohani, dan kami pun mulai menaruh nasi di piring masing-masing.
Nasi yang banyak di piring Joan dan Gomgom membuat mereka berdua menjadi perhatian.
"Joan, kok banyak banget naru nasi nya? emangnya itu habis?"
"habis kak Iren, lagian Joan butuh banyak energi untuk menghadapi kak Ani yang luar biasa cerewet. mamak di rumah terdiam jika kak Ani ngomel."
Rohani hanya mengelus dadanya akan ucapan adiknya itu.
"lalu bagaimana dengan bang Gomgom?"
Tanya Iren lagi karena melihat nasi di piring Gomgom seperti gunung karena sangat banyak.
"kalau Gomgom dalam dalam pertumbuhan kak, jadi ngak perlu heran."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
__ADS_1
Kami tertawa lagi karena jawaban dari Joan, kemudian kami akhirnya bisa makan dengan tenang.