
Dalam mimpiku tidak ada jembatan yang harus kami lalui, lagi pula hari ini terlihat cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, sepertinya nenek itu berbohong.
"Naeng tu bona ni hariara do oppung boru, naeng membuat bulung ni hariara pulungan ni ubat."
(kami mau ke pohon beringin itu nenek, kami hendak mengambil daunnya untuk ramuan obat.)
"dang sahat hami tu jembatan i oppung, ngolat ni hariara i do. dang mabiar hami tu udan."
(ngak nyampe kami ke jembatan itu nenek, hanya sampai di pohon beringin itu aja. kami juga tidak takut hujan.)
Joan menjawabnya dengan santai, terlihat kakak dan nenek itu kesal dan kemudian menghilang begitu saja.
"tenang ya, tadi itu hanya penampakan yang ingin menyesatkan kita.
berbohong boleh tapi jangan kasar, jaga tingkat dan ucapan karena kita berada di kampung orang lain."
Ujar Joan dengan santai, akan tetapi bulu kudukku sudah berdiri dan darah ini terasa mengalir di sekujur tubuhku.
Help..... help.....
ah ........ ah......
Suara teriakan dari belakang kami, seperti orang luar negeri yang sangat pasih berbahasa Inggris.
"jangan lihat kebelakang, kita lanjutkan perjalanan."
Tidak satupun yang melihat kebelakang, dan kali ucapan Ku masih di dengar.
hi...... hi....... hi .... hi...... hi.......
hiks..... hiks..... hiks......
Terdengar suara tangisan anak perempuan dari belakang kami, suara itu semakin dekat dan sangat dekat.
"apapun yang terjadi, jangan lihat kebelakang."
Lagi-lagi aku memperingatkan keluarga ku ini, agar tetap fokus dan tidak melihat ke belakang.
"ito..... namboru.....
boan ma ahu mulak sian non, dison godang sitaonan na haccit.
(kakak, namboru. tolong bawa pergi dari sini, disini banyak penderitaan.)
"Asi roham mu mamereng ahu, boan ma sian on, godang begu dison."
__ADS_1
(kasihanilah saya, bawa lah pergi dari sini, karena disini banyak hantu).
Hi...... hi....... hi .... hi...... hi.......
hiks..... hiks..... hiks......
Suara anak perempuan yang meminta tolong untuk dibawa pulang, suara tangisannya yang menyayat hati.
"jangan lihat kebelakang, mari kita jalan terus. itu hanya lah makhluk pengganggu."
hi....... hi ...... hi..... hi ..... Hi....... hi ...... hi..... hi .............. hi.....hi......hi....
Suara tangisan tadi akhirnya berubah menjadi suara tawa yang melengking dan menakutkan, dan kembali aku memperingatkan agar tetap fokus ke depan.
"suara apa lagi itu bang Mora?"
"tenang kak Iren sayang, ada Joan di samping mu. tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh kalian."
Joan begitu percaya diri saat mengatakan demikian terhadap Iren.
yah....
Ntah itu bercanda atau serius, setidaknya bisa mengurangi seram nya di tempat ini.
auh...... auhhh........
"ingat ya, disini tidak ada lagi warga yang tinggal. jadi tidak mungkin ada manusia atau ternak.
Tetap fokus pada tujuan kita untuk memutuskan kutukan begu ganjang ini, kita bisa jika bersama dan saling menguatkan."
Kembali aku ingatkan kepada keluarga ini, agar tetap hati-hati dan fokus.
Berjalan beberapa meter ke depan, jalan yang dipenuhi semak belukar dan cahaya yang minim serta harus menuntun Aris dan Iren dengan mata yang tertutup membuat langkah kami menjadi lambat.
Berjalan dan berjalan, terdengar suara orang yang sangat ramai dan kami terus berjalan dan tepat dihadapan seperti ada perkampungan pada umumnya.
"tudia hamu amang inang? tokkin nai golap nama ari, beta ma tu bagas nami."
(mau kemana bapak ibu? bentar lagi akan malam, marilah ke gubuk kami untuk istrihat)"
"muliate ma oppung, naeng hatop mulak oppung. naeng mambuat bulung ni hariara do hami mambahen Pulungan ni obat."
(terimakasih kakek, kami ingin cepat pulang, kami ke sini hendak mengambil daun pohon beringin untuk obat.)"
Joan menjawab salah satu warga yang sudah berumur panjang, karena penolakan dari Joan, para warga yang lain terlihat berhenti beraktivitas lalu menatap kami dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
"Denggan ni basa ni oppung mula jadi nabolon, laho pahiashon dalan nami mangihot pangdioan nauli."
(berkas kasih sang pencipta, memberikan jalan terbaik untuk membuat yang terbaik untuk diri kami)
"ro pe hami tu luat ni amang dohot dainang harana biccir suada pambahanen ni oppung si mula-mula nami."
(kami datang ke tempat bapak-ibu ini, hanya karena penderitaan kami. semua itu karena perbuatan para leluhur kami dan berimbas kepada kami keturunannya).
"asi roha muna mamereng hami nadangol on, marpangido hami, lehon ma dalan nami laho tu julu."
(kasihanilah kami yang menderita ini, kami mohon tolong berikan jalan ke depan).
"harana disi do oppung mula-mula nami mambahen sitaonon nabarnit tu hami pinoppar na."
(didepan sanalah leluhur kami memulai masalah ini yang membuat kami menderita para keturunannya.).
Seperti itulah yang dikatakan oleh bapak dan akhirnya mereka yang terlihat seperti para warga pada umumnya menghilang begitu saja.
Pemukiman yang kami lihat tadi berubah menjadi sediakala, hutan belantara dan hanya puing-puing rumah yang lapuk yang tersisa.
Itu artinya pohon beringin dimana pemuja begu ganjang yang pertama kali, atau leluhur pak Didit di bakar sudah dekat.
Lalu kami berjalan dan aroma semerbak bunga yang memanjang hidung kami.
Dalam mimpiku, jika sudah tercium aroma bunga, itu artinya kami sudah tiba di dekat pohon beringin.
Hari sudah semakin gelap, dan senter kepala aku nyalakan.
Ternyata pohon beringin tersebut sudah di depan kami, dimana pemangku adat dan pak Sarma sudah berdiri di bawah pohon beringin itu. sekitar area pohon beringin di taburi beras bercampur kumbang dan mengelilingi pohon beringin.
"semua pertanyaan kalian, nanti saya jawab. Joan bawa rombongan itu kemari."
Perintah dari pak Sarma, lalu bapak, Joan, Aris dan Iren. masuk ke lingkaran tersebut. kemudian pak Sarma menancapkan obor yang menyela di dekat pohon beringin tersebut.
"pak Mora, Joan. tolong pastikan Aris dan adiknya tidak melepaskan kain putih itu dari matanya.
Pastikan juga jangan ada keluar dari lingkaran ini, apapun yang terjadi dan melakukan apapun.
Selama obor ini masih menyala, jangan pernah keluar dari lingkaran ini dan jika api obor ini mati, pulang lah ke desa Aek Holong, tunggu kami disana.
Jangan bertanya kenapa, karena saat ini bukan saatnya sesi tanya jawab, nanti kamu jelaskan setelah semua selesai."
Ujar pak Sarma dengan serius, terlihat jelas dari raut wajahnya yang penuh kekwatiran.
Lalu pemangku adat menaburkan beras yang bercampur kumbang ke area beringin dan melindunginya.
__ADS_1
Sebanyak tujuh kali pemangku adat melakukannya, tapi tidak satupun diantara kami yang bertanya.
Setelah pemangku adat selesai melakukan itu, lalu mendekati kami dan pak Sarma memegang tangan dan memberikan pisau kecil yang sudah berkarat.