KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Kisah Lain Dari Keluarga Pak Deh.


__ADS_3

Bapak menghampiri Ku dan duduk disamping Ku seraya memegang tangan kanan Ku. sorot tatapan matanya begitu serius.


"Bang, tadi bapak sudah menghubungi oppung Doli Dison, barang-barang akan kita bawa ke sana. nantinya Oppung Doli Dison akan mengatur semua yang kita butuhkan.


"emangnya bapak ikut?"


"iya, bukan hanya Bapak. Tulang serta beberapa rekan kerja nya akan ikut bersama kita."


"emangnya apa sangkut pautnya dengan Tulang?"


Bapak langsung melirik Tulang pak Rohani dan seketika itu Tulang langsung menolehku.


"begini Bere, Tulang kan kerja di Kantor dinas bidang investasi. dan Tulang adalah kepala bagian yang berurusan langsung dengan para investor yang menangani proyek desa Aek Simarmata."


(Tulang adalah panggilan kepada saudara laki-laki dan sepupu laki-laki dari pihak Mamak).


"bentar Tulang, ada apa dengan desa Aek Simarmata? proyek apa yang mau di garap?"


"Menurut catatan kuno Belanda yang tertinggal di dinas balai kekayaan, desa Aek Simarmata menyimpan cadangan minyak bumi, gas, permata, emas dan juga batu bara yang melimpah.


sudah beberapa dekade ini, penelitian yang dilakukan hanya satu yang berhasil dan catatan Belanda terbukti nyata.


ketika hendak melaksanakan proyek tersebut, penelitian selanjutnya di turunkan dan hilang seketika.


Peneliti kemudian di turunkan lagi, dan hilang juga. sudah banyak nyawa melayang dan ratusan milyar Rupiah melayang begitu saja.


Tulang bersama tim akan melakukan penelitian terlebih dahulu di desa Aek Holong, yang mana penduduknya adalah pindahan dari desa Aek Simarmata."


Demikian penjelasan Tulang pak Rohani, yang sepertinya berhubungan dengan pembicaraan kami di telpon bersama Mamaknya sihar.


"oh begitu, kemarin saat Mora bertelepon dengan Oppung Doli Dison, penyebab masalah pertama kali adalah adanya peneliti yang datang."


"sebenarnya bukan karena itu bang, tapi memang sudah saatnya Begu ganjang itu mencari waris pemuja Begu ganjang.


Peneliti itu hanya sebagai media bagi Begu Ganjang nya, terlepas dari itu semua. iblis itu mencari waris dari Pemuja nya.


Pak Didit hanya terdiam saat mendengar penjelasan dari Tulang pak Rohani dan juga dari Bapak. ternyata permasalahannya semakin ribet dan runyam.


"Sebelum Kris ini kita bawa ke desa Aek Holong, terlebih dahulu kita memandikan nya dengan kumbang tujuh rupa dan air sumur."


Bapak kemudian mengeluarkan keris tersebut, sementara Oppung Doli Saur sudah mempersiapkan mangkok yang berisi air dan kumbang tujuh rupa.

__ADS_1


Joan terlihat sangat memperhatikan keris itu dan kemudian memperhatikan handphone-nya, bapak dan oppung Doli Saur tetap melaksanakan pemandian keris tersebut.


"mahua ho pung? buasa asing panailum?" dialog Batak.


(kenapa kau cucuku? kok aneh gitu cara melihat Mu).


Tanya oppung Doli Saur kepada Joan yang terlihat sangat serius memperhatikan keris yang ada dalam rendaman air kumbang itu.


"begini Oppung Doli, Joan punya teman satu kelas tapi sudah almarhum.


Namanya Roy, dan temanku ini adalah keponakan dari keluarga yang aneh itu."


"apakah keluarga pak Deh yang Joan maksud?"


"benar bang, jadi keluarga si Roy ini di undang ke rumah om Indra, om dari almarhum Roy.


Maaf ni ya, almarhum Roy orang nya ngak bisa diambil. pengen tahu aja gitu, Om nya itu punya kucing hitam yang punya anak lucu-lucu.


Karena anak kucing hitam lucu itu pergi ke suatu ruangan karena di kejar oleh Roy, dan Roy masuk ke kamar itu.


Nah si Roy melihat pemandangan yang aneh, bang Mora coba lihat photo ini!"


Demikian juga dengan keris sama persis, begitu dengan ulos yang berwarna hitam itu. semuanya sama dengan barang-barang peninggalan atok Tarno yang bawa dari rumah pak Deh yang di Jogja.


"terus apa yang terjadi dengan teman mu itu?"


"jadi almarhum bang Mora, jadi setelah pulang dari rumah om nya itu. Roy menggigil tapi tidak demam, dan akhirnya di bawa ke klinik dekat rumahnya.


Anehnya dokter mengatakan kalau Roy dalam keadaan baik-baik saja, kedua orang tuanya tidak puas. karena wajah Roy semakin pucat, terus dibawa ke rumah sakit menuju IGD.


Dokter di IGD itu pun tidak bisa mendiagnosis penyakit Roy, dokter di IGD itu hanya memberikan infus ke Roy karena wajahnya pucat.


Tiba-tiba saja Roy muntah darah dan tidak lama kemudian jadi almarhum di IGD tersebut.


Anehnya lagi lehernya membiru seperti habis di cekik, lidah almarhum menjulur. Dokter berusaha memasukkan kembali lidah tapi masih terus keluar, dan akhirnya mulut almarhum di plester agar lidahnya tidak keluar.


Itulah sebabnya bang Aris dan kak Iren, aku larang untuk menemui keluarga aneh itu."


"Joan, ini cerita mu bukan fiktif kan?"


"ya ampun kak Ani, kakak ingat ngak sebulan yang lalu kakak menemani Joan melayat?"

__ADS_1


"ingat, jadi itu yang ko ceritakan?"


"iya kak, seram ngak itu?"


Joan dan Rohani terlihat merinding saat menceritakan hal itu.


"tapi Joan, kenapa kakak tidak melihat tanda-tanda itu?"


"wajar kakak tidak lihat, kakak kan lagi ngobrol dengan Dokter yang membawa jenazah almarhum."


"oh iya-iya."


"nanti setelah tiba di kampung angker, bapak, amang Boru, dan bang Mora harus hati-hati ya. kami semua yang ada disini menunggu kepulangan kalian di rumah ini.


Pak, Bu, bang Aris, kak Iren, dan mbak Tarni. tolong jangan temui lagi keluarga aneh itu ya, setelah semua masalah ini selesai kita harus berlibur ke Brastagi."


"hadeh..... Joan.... Joan.... "


"kak Ani.... kak Ani...."


Seketika itu juga Rohani hendak mencubit Joan, dan masih berhasil Aku cegah.


Oppung Doli Saur kemudian membereskan keris tersebut dan menyusun kembali barang-barang aneh ke dalam tas.


"oppung Doli, apakah kemungkinan keluarga pak Deh itu keturunan dari anak laki-lakinya? "


"mungkin Ra pung, alai patakkas hamu annon tu oppung Doli Dison." dialog Batak.


(kemungkinan iya, tapi lebih jelasnya tanya saja sama Oppung Doli Dison.)


"oh ya, keluarga dari kampung kapan nyampe kemari?"


"mungkin nanti sore nyampe bang, tadi juga sudah bapak telpon."


"syukur pak e, jika tidak muat di sini. satu Apertemen sudah Moro kosongkan pak."


"ngak usah, rumah sebelah ini rumah kita juga. yang sudah dibeli oleh Cahaya, nanti mereka semua tinggal di situ saja.


Tadi sudah kami beres kan disitu, bahan makanan juga sudah lengkap berikut dengan peralatan dapur nya."


Ujar Bapak dan itu membuatku bernapas lega, dan ternyata persiapan ke desa Aek Holong sudah di siapkan oleh bapak dan Tulang pak Rohani.

__ADS_1


__ADS_2