
Lalu pemangku adat duduk di hadapan kami, dan perlahan Aris, Iren dan bu Rida sudah sadar dan duduk dihadapan kami.
Pak Sarma yang menjadi wakil dari pemangku Adat, akhirnya masuk ke dalam lingkaran dan duduk disebelah kanan pemangku Adat.
"bapak ku kok bisa ngomong pake bahasa Batak ya?"
Pemangku adat dan pak Sarma langsung tersenyum mendengar pernyataan dari Ku.
"itu bukan pak Aris, tapi roh leluhur nya yang mendiami tubuhnya sehingga bisa berbahasa batak dengan lancar."
Penjelasan dari pak Sarma, yang menjelaskan keadaan pak Didit, yang mereka panggil dengan sebutan pak Aris, karena anaknya yang paling besar bernama Aris.
Penjelasan itu tidak masuk akal menurutku, bagaimana bisa arwah masuk ke dalam tubuh manusia dan menjadikannya ahli berbahasa bata Toba dengan fasih.
"bang Mora, itulah namanya misteri. Joan tahu kalau bang Mora tidak mempercayai hal-hal seperti ini.
Ada banyak hal perkara dunia ini yang sulit untuk kita telaah.
Terkadang kita sulit untuk mencerna dengan akal sehat kita karena memang terlihat tidak masuk akal, karena kita belum melihat itu sebelumnya.
Itulah kehidupan bang Mora, segala sesuatu yang bisa membuat kita kebingungan dan terkadang seperti teka-teki kehidupan yang sulit untuk di pahami.
Sebenarnya tubuh dan pikiran amangboru pak Aris, telah di ambil oleh roh dan mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda.
Seperti parasit yang mengubah sifat inangnya, akan tetapi pada kali adalah roh yang bertindak seperti parasit dan itu hanya bersifat sementara.
Karena pada dasarnya, roh dari dunia lain tidak bisa menyatu selamanya pada manusia. sebab manusia sendiri juga punya roh."
Penjelasan Joan terdengar masuk akal, berhubung semua ini mengenai begu ganjang. maka ada kalanya sesuatu yang mustahil tapi bisa terjadi.
"apakah nanti harus ada yang menjadi korban?"
Seketika Joan langsung terdiam, begitu juga dengan pemangku adat serta pak Sarma sebagai perwakilan dari pemangku adat.
Lalu Joan meraih kain putih dari tas yang terbuat dari anyaman bambu, kain putih berjumlah tiga.
Kemudian Joan menatap pak Didit, dan tatapan seperti tatapan yang mengandung kesedihan yang dalam.
"amangboru.....
Tiga helai kain putih ini, harus amangboru pilih untuk dipakai oleh anggota keluarga amangboru sendiri.
Kain putih ini akan menutup mata anggota keluarga, yang artinya adalah bahwa anggota keluarga yang lainnya melimpahkan semuanya kepada amangboru.
Atau kepada mereka yang tidak memiliki penutup mata ini.
__ADS_1
Ambillah dan minta kepada bang Mora untuk menutup mata dari anggota keluarga yang amangboru pilih."
"Joan....
apalagi maksud dari semua ini, kenapa harus memilih?"
Pemangku adat tersenyum lalu pak Sarma mendekati Ku seraya merangkul pundak ku.
"luar biasa sekali tunggane mu, dia sangat paham tentang begu ganjang ini."
(tunggane adalah lawan dari lae, yang artinya adalah sepupu dari pihak mama)
Lalu pak Sarma mengambil ketiga kain putih itu dari tangan Joan, kemudian menyerahkannya kepada pak Didit.
"dalam tradisi Batak, kain putih melambangkan kesucian dan kehormatan.
Jika dalam hal permasalahan dengan makhluk halus, kata lain begu ganjang yang kita hadapi ini.
Jika pemakai kain putih yang berarti bahwa beliau sudah menyudahi hubungannya dengan leluhurnya.
Akan tetapi harus di pilih oleh bapaknya sendiri berdasarkan prioritas, dan tanpa kasih sayang yang timpang.
Artinya adalah bagi siapapun yang menerima kain putih penutup mata ini, maka dia memutuskan segala hal perkara dari leluhur.
Pemberi menjamin tidak ketertiban dari anggota keluarganya, untuk memikul kutukan ini.
Penjelasan dari pak Sarma sudah begitu jelas, lalu pak Didit berdiskusi dengan bu Rida, yang mereka panggil dengan panggilan pak Aris, karena anak pertama mereka adalah Aris.
Acara diskusi itu sudah selesai, lalu pak Didit menatapku.
"Mora....
kemarilah mang, tolong tutup mata dengan kain putih, karena bapak akan memilih."
Aku mendekati pak Didit, lalu menyerahkan ketiga kain putih itu kepadaKu.
"tutup mata Iren, lalu Tarni dan kemudian Aris."
Lalu aku menutup mata mereka bertiga dengan kain putih itu.
"kenapa pak Aris memilih mereka bertiga?"
Seketika pak Didit tersenyum setelah mendengarkan pertanyaan dari pak Sarma.
"Tarni adalah gadis yang baik, dia bekerja untuk keluarga kami demi adik-adiknya.
__ADS_1
Saya tidak ingin melibatkan nya, saya tahu kalau Tarni sudah siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi.
Akan tetapi ada adik-adiknya Tarni yang menunggu kepulangan Tarni lebaran nanti.
Tarni adalah tulang punggung keluarga, jika sesuatu hal terjadi kepada Tarni, lalu bagaimana nasib adik-adiknya.
Semua ini adalah leluhurnya dan sepantasnya saya mengorbankan nyawa orang yang sudah sangat baik terhadap keluarga Ku.
Aris dan Iren adalah anak-anak kami, hasil dari cinta kasih kami berdua. biarlah dosa leluhur kami yang akan tanggung.
Saya percaya kepada Tuhan Ku dan segenap kasihnya terhadap Ku.
Lagipula saya masih memiliki Mora, anak pertama Ku yang sudah dewasa.
Jika kelak saya mati disini, ada Mora yang siap memberikan kasih sayang kepada adik-adiknya.
Mora adalah Abang yang sangat menyayangi adik-adiknya, dan Mora adalah anak pertama Ku yang sangat aku sayangi."
Seketika kami semua terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari pak Didit, terlihat Aris seperti ingin melepaskan kain penutup matanya.
"lepaskan kain putih ini pa, Aris ingin menemani papa menyelesaikan ini semuanya."
"jangan Aris, jika seandainya Abang dan bapak mati nantinya, setidaknya ada Aris yang menjadi pelindung keluarga.
Tolong dengarkan Abang ris, Abang mohon kepadamu.
Abang tidak pernah meminta sesuatu apapun kepada Mu, tapi kali ini Abang mohon, tolong jangan lepaskan kain putih itu."
Akhirnya Aris berhenti merengek dan terdiam, tapi terdengar suara isak tangis nya, begitu juga dengan Iren dan Tarni.
"kalian bertiga tolong dengarkan abang ya, apapun yang terjadi, jangan lepaskan kain putih itu dari mata kalian.
Ini adalah permintaan abang, tolong nurut ya adek-adek."
Lalu Joan memegang tangan Aris dan Iren, kemudian menatap mereka secara bergantian.
"saya yang menuntun kalian berdua nantinya, ingat lah akan permohonan dari bang Mora.
Jika kalian melanggar nya, maka bang Mora akan memutuskan kasih sayangnya kepada kalian berdua.
Untuk mbak Tarni, akan tetap berada disini. karena mbak Tarni tidak lagi menjadi bagian keluarga."
Apa maksud dari perkataan Joan ya? tapi kemarin itu Tarni wajib ikut.
Apakah karena kain putih itu?"
__ADS_1
Lagi-lagi Joan menatapKu, seolah-olah dia bisa mendengar suara hati ku ini.
Menatapku seraya tersenyum, sebenarnya aku tidak suka melihat senyuman Joan yang seperti mengejek.