KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Penderitaan Warga Desa Aek Holong.


__ADS_3

Benar kata Oppung Dison, keadaan sudah normal kembali. kabut nya sudah hilang dan alam sekitar sudah normal kembali.


Selanjutnya kami akan menuju aula kecamatan dimana warga desa Aek Holong tinggal untuk sementara waktu sebelum masalah Begu ganjang ini selesai.


Perjalanan kami tempuh dalam waktu 15 menit saja dan kami sudah sampai di aula kecamatan.


Tentunya bapak masih mengenal banyak warga, karena bapak lahir dan besar disini setelah dewasa baru merantau ke Medan.


"amangboru....."


Sapa bapak kepada salah satu warga yang sedang duduk termenung di dekat pintu masuk Aula kecamatan itu.


"horas Tulang pak Mora."


(amangboru adalah panggilan kepada suami dari adik perempuan dan sepupu pihak bapak.


Ayah dari bapak punya saudara perempuan dan juga Sepupu perempuan, dan suaminya itu akan di panggil Bapak dengan panggilan amangboru. dan bapak akan di panggil dengan panggilan Tulang.) *tradisi Batak Toba.


Sambutan itu begitu hangat, walaupun dari wajahnya terlihat duka yang mendalam akan keadaan musibah yang tidak bisa dijelaskan secara nalar manusia, yang telah menimpa warga desa Aek Holong karena kesalahan di masa lampau.


Bapak memperkenalkan Tulang pak Rohani dan juga memperkenalkan diri ku kepadanya dan nama panggilan bapak itu adalah pak Sion, karena anak pertamanya bernama Sion.


"amangboru, buado kabar keluarga na lain?" dialog Batak.


(gimana kabar keluarga yang lainnya)


Bapak bertanya dan pak Sion menghela napas panjang kemudian menatap bapak dengan tatapan Sendu.


"Begini keadaan Tulang, sudah empat hari rumah kami tinggalkan. Ternak dan kebun tidak tahu kabarnya gimana, semua warga juga sama.


Rencananya akan panen kopi, tapi semua hanya tinggal rencana. musibah ini seperti tidak ada akhirnya.


Musibah yang tidak masuk ke nalar pikiran manusia.


Seandainya ini di kabarkan kepada khalayak umum, pastinya akan merasa janggal. pastinya orang-orang akan bertanya.


Nah kami yang bingung untuk menjawabnya, masa kami akan menyampaikan kalau kami ini diserang Begu ganjang?"


Jawaban dari pak Sion sungguh sangat masuk akal, karena memang sulit untuk menjelaskan keadaan saat ini.

__ADS_1


"pak Sion, apa benar para peneliti itu tewas juga?"


Tulang pak Rohani bertanya dengan mimik wajah yang penasaran.


"sebenarnya oppung Doli Dison masih menangkal Begu ganjang seperti saat sebelumnya, tapi Begu ganjang itu mendapatkan tambahan kekuatan untuk melawan oppung Dison.


Dengan mengisap sesuatu dari tubuh para peneliti itu, Begu Ganjang memperoleh kekuatan baru yang pada akhirnya berimbas kepada kami."


"menurut pak Sion, apa benar di desa Aek Simarmata menyimpan emas dan harta-harta lainnya?"


Pertanyaan dari Tulisan pak Rohani membuat pak Sion berpikir keras dan menoleh ke arah Tulang.


"bagaimana kami tahu? tidak seorang warga pun yang berani masuk ke kampung.


Dulu pernah salah warga kami, yang kebetulan anak perantauan. sama seperti anak muda dari kota lainnya, yang tidak percaya dengan hal mistis.


ya sampai sekarang keberadaan belum di temukan, hanya kepalanya yang dikirim ke halaman rumah Oppung Dison."


Penjelasan Dari pak Sion ini, membuat kami geleng-geleng kepala.


"kejadian demi kejadian yang meneror warga desa kami, tanpa pandang bulu semua kena imbasnya.


Tapi kedatangan peneliti itu mempercepat amukan dan musibah Begu ganjang ini, oppung Doli Dison sampai menangis melarang peneliti itu masuk ke desa Aek Simarmata.


Karena usaha pencegahan yang dilakukan oleh Oppung Doli Dison akan sia-sia karena masuknya peneliti itu.


Oppung Doli Dison sudah berpesan, jika mau ekplorasi desa Aek Simarmata. harus di selesaikan dulu dengan waris pemuja Begu ganjang.


Namanya peneliti, mereka tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti ini. karena mereka berkata kalau mereka adalah pelajar intelektual."


"apa pernah pak Sion mendengar berita tentang kekayaan alam desa Aek Simarmata?"


Tulang pak Rohani bertanya untuk mempertegas kembali misi proyek tersebut.


"saya tidak tahu pak, Jangan kan pergi ke desa Aek Simarmata. menceritakan tentang Aek Simarmata saja kami tidak pernah apalagi kekayaan yang seperti bapak sebutkan.


Bapak lihat sendiri kan, peneliti itu tidak ada yang kembali. hanya mayat yang terlempar ke halaman oppung Doli Dison."


Kami sejenak terdiam, dan Tulang pak Rohani akhirnya berhenti bertanya.

__ADS_1


"amangboru, kira-kira apa artinya mayat peneliti itu dilemparkan ke halaman rumah Oppung Doli Dison?"


Pak Sion menatap wajah bapak dengan begitu lirihnya, raut wajahnya terlihat cemas saat memandang Bapak.


"itu artinya kalau Oppung Doli Dison di mintak untuk segera menghadirkan waris Pemuja Begu ganjang tersebut.


tapi kan tidak segampang itu untuk menghadirkan waris nya, semua butuh proses. lagi pula mau kemana mencari waris nya."


"begitu ya amangboru, jika seandainya waris datang kemari untuk menyelesaikan semua musibah ini. apakah warga akan membakar waris nya itu?"


"tidak mungkin Tulang pak Mora, kami semua yang kena imbasnya jika kami membakar waris nya atau melukai waris nya.


karena warisnya yang sekarang ini tidak bersalah, mereka juga tidak bisa memilih untuk menjadi waris Pemuja Begu ganjang.


Tulang pak Mora, siapa yang mau menjadi waris Pemuja Begu ganjang. menjadi waris nya artinya kutukan, saya yakin waris pasti menderita."


Lega juga akhirnya, pernyataan oppung Doli Dison sama dengan pernyataan dari pak Sion ini, itu artinya pak Didit dan keluarga akan aman jika datang kemari.


"amangboru tahu apa yang di persiapkan oleh Oppung Doli Dison?"


"tahu, Oppung Doli Dison sedang mengumpulkan 80 ekor ayam Hitam, kembang dari berbagai sudut desa Aek Holong, tanah dan air langsung dari Aek sipangolu desa Aek Simarmata."


Pertanyaan bapak benar-benar yang saya butuhkan, dan bapak kemudian menoleh Ku. seolah-olah ingin aku mengajukan pertanyaan kepada pak sion.


"oppung, diantara semua persyaratan itu. yang mana yang paling sulit untuk di penuhi?"


"begini Mora, untuk ayam Hitam itu bisa di ambil dari ternak warga tapi untuk tanah dan air dari Aek sipangolu itu sangat berbahaya.


Tempat adalah rumah bagi Begu ganjang serta korbannya yang lainnya, dan itu sudah terjadi sejak Indonesia di jajah oleh Belanda dan juga para peniliti yang di turunkan oleh pemerintah.


tempat itu benar-benar berbahaya, tempat yang tidak pernah di jamah oleh manusia."


"Aek sipangolu? maksudnya air terjun, jalan menuju air terjun itu di penuhi dengan pohon aren dan juga tanaman kopi yang sudah terlanjur dan di dekat air terjun ada gubuk dimana ada tergantung guci dari tanah liat dan tongkat berkepala boneka. apa itu maksudnya Oppung?"


"Mora.....


dari mana kamu tahu pung? di kampung ini hanya beberapa orang saja yang tahu persis letak nya."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2