
Terasa sangat dingin dan perutku sangat lapar, suara Bapak terdengar memanggil namaku, dan perlahan kulihat wajah Bapak seraya bangkit kupeluk bapak dan Tulang.
Jam tangan ku sudah berfungsi kembali, kulihat jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan, akan tetapi masih seperti subuh.
"Bapak..... Tulang......
kita dimana ini?"
"bang Mora...
kita berada di rumah oppung Dison."
Saya mengganguk dan terdiam kejadian horor yang kami lewati masih membuatku merinding.
"mangan ma Jo Hita amang, nga ture hubahen sipanganon." *dialog Batak
(mari makan, sudah tersedia makanan untuk kita).
Istri oppung Dison mempersilahkan kami untuk makan, karena makanan sudah disiapkan, saya makan dengan lahap karena sudah sangat lapar walaupun masakan istri oppung Dison sederhana tapi sangat enak.
Selesai makan, istri oppung Dison yang dipanggil oppung Dison Boru, menyajikan kami kopi hitam.
Kemudian oppung Dison Doli datang menghampiri kami sambil membawa tas dan handphone yang Persis seperti handphone ku.
Cara bicara oppung Dison seperti orang jaman Dulu, banyak kalimat-kalimat yang tidak saya mengerti.
Bahasa dan budaya banyak berubah, akan tetapi oppung Dison tidak berubah masih berpegang teguh pada Adat.
Saya memang mengerti bahasa Batak, tapi bahasa oppung Dison banyak yang tidak ku mengerti, tulang yaitu bapaknya Rohani memang orang Batak akan tetapi lahir dan besar di Medan serta sekolah di negeri, sehingga bahasa Batak nya sangat kurang.
Akhirnya Bapak satu-satunya yang menjadi penerjemah kami, bapak berasal dari desa ini, desa Aek Holong.
"nion ma telepon mu dohot pulun-pulun Muna na habang tuson" *dialog Batak
"bang Mora....
ini handphone mu dan tas yang terbang saat kita dijalan kemari".
"kok bisa ya pak?."
__ADS_1
Bapak yang menggelengkan kepalanya, seraya bertanya kepada oppung Dison.
"adong Do Tondong ni panorus ni Parbegu Ganjang on, narhadomuan tu sibolis, alai pulun-pulun ni Parbegu Ganjang on namarorot hamu."
"ada keluarga dari keturunan pemuja Begu Ganjang, yang bersekutu dengan iblis lain yang hendak mencelakai kita, akan tetapi barang-barang peninggalan dari keluarga pemuja Begu Ganjang ini yang menyangkal nya."
Bapak melihat ku dan tulang sambil menerjemahkan kata-kata dari oppung Dison.
"jadi oppung, kenapa barang-barang kami bisa sama oppung?"
Terlihat oppung Dison menarik napas panjang, oppung Dison mengerti bahasa Indonesia, karena cucunya dari Batam yang sering mengunjungi nya dan oppung Dison belajar bahasa Indonesia dari sinetron.
"oppung Poltak namarhahanggi dohot Ama ni si Tondi."
"oppung Poltak sepupu dari Bapak Tondi."
"siapa itu bapak Gopas oppung?"
"among ni si Gopas on margoar Horas, si Horas on Parbegu Ganjang, nungga diboto oppung Poltak Parbegu Ganjang, alai didok sihoras Lao mangusir simata bottar, alai holan sidalian doi, Alana nga tibu hehe sibottar mata i Sian luat on.
alai na adong ma asing di rohai si Horas, Ima Hamoraon, Hagabeon dohot Hasangapon jala marpangido dakdanak dinasida, ala ni Ima Gabe sipele Begu Ganjang ma.
"bapaknya Gopas bernama Horas..
Akan tetapi si Horas mempunyai niat lain, ingin memperoleh keturunan dan kekayaan dengan cara menjadi pemuja Begu Ganjang."
Kami hanya terdiam sesaat dan istri oppung Dison datang menghampiri kami sambil membawa tiga piring ubi jalar rebus.
Sambil menikmati ubi rebus ini dan juga hari yang mendukung seperti masih subuh dan kabut tebal yang menghalangi pemandangan kampung ini.
"oppung....
apa horas ini kaya raya?"
Bapak langsung siaga untuk menterjemahkan kata demi kata dari oppung Dison
"daong, massai leleng do nasida i dililit andorna, Alana padan tu Begu Ganjang tu gelleng Na do museng."
"Tidak..
__ADS_1
bahkan mereka lama punya anak, janji iblis itu hanya untuk keturunan berikut nya."
Oppung Dison akhirnya terdiam, dan kami semua pun ikut diam, saya berpikir apa karna itu pak Didit menjadi kaya raya.
Apakah ini yang disebut dengan kutukan? yang berakibat kepada keturunannya kelak nanti nya.
"dung Tubu ma dakdanak dijolo ni Nasida, Gabe tiur ma hangoluan na, suan-suan hasea sude, alai gok akka poso-poso namonding, dohot akka dakdanak bajar-bajar, rope akka na hea pasoal dohot si Horas.
taon tu taon dang adong ma garang mangadopi sihoras, disada borngin Poltak ni bulan tula, disarat ma sihoras Sian bagas na tu Tonga ni Huta, jala ditutung ma Nasida nadua, bolo dohot Hian gelleng ni sihoras di tutung, dang adong Hian be Begu Ganjang on.
alai dang disodar akka luat namangamuk i.
"setelah mereka punya anak, dan lama-kelamaan kehidupan mereka menjadi lebih baik, panen mereka selalu berhasil, akan tetapi selalu ada korban bayi, anak remaja dan orang-orang yang pernah berselisih paham dengannya meninggal dunia dengan cara yang sangat tidak wajar.
Bertahun-tahun warga tidak berani untuk bertindak bertindak lebih lanjut, hingga suatu malam bulan purnama warga desa berbondong-bondong datang ke rumah Si Horas.
Suami-istri itu di seret ke tengah kampung diikat lalu dibakar hidup-hidup.
Tidak ada seorang warga pun yang membela nya termasuk oppung Poltak karena emosi warga.
Para warga baru sadar kalau masih ada keturunan Nya atau anaknya yang sudah melarikan diri.
Jika seandainya anaknya itu dibakar hidup-hidup saat itu juga, maka Begu Ganjang akan lenyap juga.
Sekarang sudah terlambat, warisnya harus mengakhirinya Kalau tidak maka malapetaka akan selalu Datang."
"Oppung, kata Oppung Doli Saur. selain Gopas masih ada anak perempuan, dan siapa nama anak perempuan itu? dan apakah anak perempuan itu punya keturunan?".
"guarni dakdanak boru i ma si Duma, hasomalan ni parbegu ganjang do, dang mar danal-danak sian tubu ni boru."
"nama anak perempuan bernama Duma, tapi kebiasaan dari pemuja Begu ganjang, anak perempuan nya tidak akan pernah mempunyai anak."
Selesai bapak menerjemahkan nya kepada kami berdua, dan kemudian bapak menoleh Ku. hal itu berhubungan dengan pembahasan kami tentang keluarga pak Deh yaitu keluarga pak Didit yang ada di Medan, yang disebut keluarga aneh.
Dari sini sudah jelas kalau pak deh itu adalah keturunan dari Gopas.
"oppung jika ahli warisnya datang kemari apakah warga desa ini akan membakar nya hidup-hidup?"
"bolo tung ditutung Gopparan ni Parbegu Ganjang on, dang adong lapatanna, alai Gabe bala do museng i."
__ADS_1
"Membakar hidup-hidup waris pemuja Begu Ganjang tidak ada gunanya, malah akan membuat masalah akan semakin ruwet dan korban selanjutnya akan semakin banyak."
Bersambung....