
POV Rohani.**
Rohani mempersilahkan keluarga pak Didit untuk duduk di ruang tamu, sementara Gomgom sudah kembali ke rumahnya.
Gomgom dan Joan berbagi tugas, Joan menemani pak Didit dan keluarga sementara Gomgom akan menjaga keluarga nya yang di rumah, kelak nanti Gomgom bersama Cahaya yang akan bolak-balik ke rumah dan apartemen untuk berjaga-jaga.
"kak Ani, bisa kali. ke kafe yuk?"
"ayok, lagian juga bapak suntuk nih."
Sanggah pak Didit yang menyahut ajakan dari Joan dan anak itu langsung tersenyum sumiringah.
Joan langsung mengambil handphone nya dan sekita itu juga menelpon seseorang yang menguntungkan bahasa asing bagi keluarga pak Didit.
Setelah Joan selesai menelpon seseorang, Aris kemudian mendekati Joan.
"Joan bisa bahasa Mandarin ya?"
"bukan bahasa Mandarin itu bang, tapi bahasa hokkien medan yang di gunakan suku Thionghoa di medan.
bahasa hokkien ini seperti bahasa daerah yang lainnya, karena di Medan ini masyarakat masih kebanyakan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing untuk saat ngobrol dengan sesama sukunya.
jika sudah beda suku barulah baru menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia."
"ih.... Joan pamer deh, kak Aris juga bahasa Jepang!.
ujar Iren, kata kak yang di ucapkan oleh membuat Joan terheran-heran.
"sebentar deh, bang Aris kan laki-laki. kenapa di panggil kak?"
"Joan, kakak itu adalah panggilan universal. baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan." jelas kakaknya kepada Joan.
"Iyah..... jadi maksud kak Ani, laki-laki dan perempuan itu sama gitu? agak lain kakak ini lah?" dialog Medan
(agak lain maksudnya adalah berbeda dari yang lain, atau sulit diterima nalar).
"apanya sih yang lain?"
"kak Ani, ingat kita ini adalah masyarakat adat Batak yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. kakak jangan menyamakan antara laki-laki dengan perempuan.
semua sudah tertata rapi, laki-laki dipanggil Abang, perempuan dipanggil kakak. itu sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat dengan panggilan universal kakak yang agak lain itu."
__ADS_1
"Joan, kata kakak itu di popular kan di kegiatan Pramuka. menurut kamus besar bahasa Indonesia, kakak itu adalah panggilan kepada laki-laki dan perempuan yang lebih Tua, yang merupakan serapan dari bahasa Melayu."
"ngak betul Pak, salah itu."
"salahnya jika kita ngak jadi ke Kafe, ayok lah."
Ujar Aris kepada Joan untuk mengakhiri perdebatan yang tidak akan berakhir itu dan Joan pun langsung berhenti membahas perbedaan kata panggilan kakak dan Abang.
"oke lah kalau begitu, satu mobil yang cukup untuk kita ke Kafe sudah tersedia di loby, dan Joan jamin kafe itu akan merilekskan pikiran yang sudah mulai goyah. yuk...."
Ajak Joan kepada mereka semua, dan akhirnya mereka berangkat ke Kafe. tidak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai.
"Keren juga ya, tapi belum tentu dengan makanannya." ujar Iren yang seolah-olah menyindir Joan.
"tenang Kak, makanan dan minuman disini yang terbaik sekota Medan." jawab Joan dengan begitu percaya diri.
Joan terlihat begitu akrab dengan pegawai Kafe, dan kemudian Joan hendak berlalu.
"mau kemana Joan?"
Kakaknya yaitu Rohani mencegahnya yang hendak pergi, tapi Joan malah tersenyum kepada Nya.
Pelayan cafe itu langsung menuntut Rohani dan rombongannya untuk menuju meja yang di pesan oleh Joan dan si rese itu pergi begitu saja.
Pak Didit hanya mengelus dada melihat tingkah laku Joan, di tambah pelayanan Kafe yang tidak memberikan buku menu.
Kafe tersebut berkonsep modern, mewah dan live music. keluarga pak Didit duduk di dekat panggung.
Saat pak Didit memanggil pelayan, tapi panggilan itu tidak di gubris.
Beberapa saat kemudian pelayanan datang menghampiri mereka, dengan membawa minuman terbaik di kafe tersebut.
Setelah itu pelayan lain membawa berbagai makanan ke meja keluarga pak Didit, pelayan menjelaskan kalau semua hidangan berupa dan minuman terbaik dari kafe itu di sajikan semuanya. jika merasa kurang bisa memanggil pelayan.
Makanan dan minuman sudah tersaji semuanya, tapi Joan tidak kunjung terlihat. beberapa saat kemudian Joan hadir di panggung.
"selamat siang para pengunjung dan selamat menikmati makanan dan minuman terbaik kami, di sela-sela menikmati makanan dan minuman yang tersaji, ijinkan saya menyanyi.
Lagu ini terkhusus untuk keluarga pak Didit yang berada di meja 14, keluarga pak Didit adalah calon mertua dari kakak ku tersayang, yaitu kak Rohani calon dokter kami."
prok.... prok.... prok... Prok.... prok.... prok...
__ADS_1
Prok.... prok.... prok... Prok.... prok.... prok...
Suara Tepuk tangan pengunjung memenuhi ruangan ini, membuat Rohani tersipu malu. pak Didit dan istrinya hanya tersenyum saat melihat Rohani tersipu malu.
Lagu yang dinyanyikan oleh Joan membius semua pengunjung, begitu juga dengan keluarga pak Didit.
Setelah dua lagi yang kemudian digantikan oleh penyanyi yang lain nya, Joan turun dari panggung dan menghampiri keluarga pak Didit.
"bagus juga suara mu nak Joan." ujar Bu Rida istri dari pak Didit.
"terimakasih Bu, oh iya Joan juara dua saat festival lagu daerah Batak yang di lomba kan sekitar sebulan yang lalu Bu."
Jawab Joan kepada Bu Rida, sementara Rohani kakaknya hanya bengong mendengar penuturan dari Joan.
"Joan, ngak ngomong sama kakak atau ngomong sama mamak."
"maaf ya kak, Joan ngak ada ngabarin. bapak lagi sibuk dengan proyek nya, sementara mamak lagi sibuk blusukan ke masyarakat dan kakak lagi fokus untuk menyelesaikan skripsi.
Joan ngak mau merepotkan semua nya kak, dan Joan juga berpikir untuk hal positif yang tidak merugikan siapapun."
Rohani langsung memeluk adiknya, rasa haru tercipta diantara mereka berdua yang selama terlihat tidak pernah akur.
"pak, Bu, bang Aris, kak Iren, kak Ani, dan mbak Tarni. gimana makanan dan minuman nya? enak ngak?"
"Jujur aku akui ini enak banget, maaf ya tadi sudah berprasangka buruk terhadap makanan dan minuman nya."
Ujar Iren kepada Joan, dan mereka saling melemparkan senyuman satu sama lainnya.
"Joan, tadi maksud apa? kenapa ko bilang kalau keluarga pak Didit adalah calon mertua Ku?"
Rohani bertanya kepada adiknya disela-sela menikmati makanan itu, dan terlihat raut wajah Rohani yang tersipu malu.
"iya.... gimana sih kakak ini, kan bang Mora sudah menganggap keluarga pak Didit sebagai keluarga nya, dan secara otomatis nantinya keluarga pak Didit akan jadi mertua kakak. agak Laen memang kakak ini."
"cie..... wajah kak Ani langsung merah. cie... cie...."
Ujar Iren yang menyanggah omongan Joan, dengan jahil nya mengolok-olok Rohani yang tersipu malu.
"sudah dong Iren, jangan di olok-olok ah kakak nya."
Bu Rida menegur putri nya, karena Rohani yang salah tingkah karena ucapan dari Iren dan Joan yang seolah-olah memojokkan Rohani.
__ADS_1