
Susana tegang sudah berubah menjadi ceria karena tingkah Joan yang jahil tanpa melihat kondisi dan keadaan.
"Joan harus ikut bapak, karena Joan tidak akan membiarkan bapak tanpa Joan."
"Joan....."
"bapak......
Joan lebih kenal warga disana ketimbang bapak, Joan sering ke desa Aek Holong bersama amangboru pak Mora.
Bapak jangan membantah ya, bapak pergi Joan ikut, bapak stay di Medan maka Joan juga stay.
Joan juga jauh lebih paham dari bapak mengenai budaya Batak kuno, bapak kan ada sikap egois dan sikap acuh.
jadi Joan lah yang akan menjadi kompas bagi bapak, pokok bapak ngak boleh membantah ya. cuman bapak satu-satunya bapak kami berdua."
Kami hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Joan yang selalu mengundang tawa.
"terus mama mu gimana? kasih ijin ngak itu?"
Dengan raut wajah tertekan, calon mertua ku bertanya kepada Joan tentang ijin dari mama nya.
"iya kok nanya Joan, mamak kan istri bapak. dan bapak sudah terlebih dahulu mengenal mamak."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Akhirnya kami tertawa lepas dan suara tawa dari Gomgom yang paling besar diantara kami semuanya.
"iya bapak bujuklah, bapak tunjukkan dong kemampuan bapak yang selama ini.
Jangan bapak suruh kak Ani membujuk mamak, iya mama tertekan karena akan di ceramahin sama kakak.
Bapak harus membujuk mamak, Joan yakin bapak dapat melakukannya."
Setelah beberapa lama melirik Joan, akhirnya bapaknya itu mengangguk kan kepala seraya menatap Joan.
"gitu dong baru bapaknya Joan."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
kembali kami tertawa karena tanggapan dari Joan, kemudian Rohani pun mendekati bapaknya.
"bapak.....
kakak kan sudah selesai kuliah kedokteran, kali aja gitu butuh awak medis. kakak ikut ya pak."
"ngak, ngak bisa kak Ani. baru aja selesai belajar dokter.
kak Ani sayang, gelar kakak itu baru S.Ked. alias sarjana kedokteran. jadi belum pantas menyandang status awak medis. ngak usah sok medis lah kak."
Ucap Joan yang jelas menolak Rohani untuk bergabung dengan kami untuk berangkat ke desa Aek Holong.
__ADS_1
"Joan kok gitu sama kakak, jangan sepele sama kakak ya.
kakak sudah 3 tiga jadi relawan medis dari kampus."
"kak....
Nantinya juga ada tim medis dari Pemkab yang akan stay di sana."
"dengar kata bapak ya kak, pokoknya kakak ngak boleh ikut.
Abang kenal ngak dengan si ramot anak kepala desa Aek Holong?"
"iya kenal, emangnya kenapa Joan."
Sorot mata dari pariban ini begitu tajam ke arah Joan, apalagi setalah Joan bertanya kepada Ku.
"anak kepala desa itu suka sama kak Ani bang, jangan-jangan kak Ani ngotot ikut hanya karena ingin melihat anak kepala desa itu."
"jangan fitnah lah Joan, asal Joan tahu ya. kalau bang Mora itu lebih dari segalanya dari anak kepala desa.
Lagipula hanya bang Mora kok pria yang ada di hati kakak."
"cie.... cie... cie....sok romantis."
Ledek Joan kepada kakaknya, suara tawa dari yang lainnya karena pengakuan Rohani dan hal membuat ku malu, tapi bahagia dan senang.
Bahagia aja karena Rohani terang-terangan menyatakan dan mengakui isi hatinya di hadapan keluarga yang tercinta.
"kakak jangan membantah, kakak harus nurut ya."
Sanggah Joan dengan tegas tapi dengan tatapannya yang lembut ke arah kakaknya yang terlihat ngambek.
"adek ngak usah ikut ya, adek berdoa aja agar kami selamat dengan sehat tanpa kekurangan apapun.
Abang melarang mu ikut bukan karena anak kepala desa itu, tapi karena misi ini berbahaya.
Jika seandainya ibu, Iren dan Tarni bukan keluarga dari keturunan Horas. mereka bertiga akan Abang larang ikut, tapi wajib ikut dek dan harus.
Abang tahu kok isi hatimu, karena isi hatiku juga sama dengan isi hati mu."
Akhirnya kekasih itu nurut juga setelah kami bertiga membujuk Nya.
"amangboru pak Aris, setelah semuanya ini selesai. kita jadikan jalan-jalan ke Brastagi tanah Karo itu?"
"huuuuuuu......."
Rohani mencubit Joan sambil meneriakinya, mungkin kekasih itu balas dendam karena di talok untuk ikut dengan kami nantinya.
"mudah-mudahan semua ini berjalan dengan lancar ya Joan, dan amangboru janji akan membawa semua keluarga ini jalan ke Brastagi itu.
Sisanya kamu atur lah Joan, kan Joan yang merekomendasikan."
__ADS_1
Joan langsung tersenyum sumiringah dan kemudian berlalu mendekati pak Didit dan memeluk tangan kirinya pak Didit.
"Joan, sejak kapan pak Didit jadi amangboru mu?"
Bapaknya Joan akhirnya mewakili pertanyaan dariku.
"eh si bapak inilah, Bapaknya bang Aris ini kan sudah dianggap oleh bang Mora sebagai bapaknya, dan mamak nya bang Aris sebagai Mamaknya.
bang Aris dan kak Iren sebagai adiknya, nah Joan memanggil bapak bang Mora dengan panggilan amangboru.
Tentunya itu berlaku dengan Bapaknya bang Aris ini, cocokkan?"
"suka hati kau Joan. (terserah kepada mu lah)" dialog Medan.
Hanya Rohani yang menanggapi penjelasan dari Joan, sementara bapaknya hanya mengelus dada.
"kalau begitu tolong Joan hubungi teman mu yang ahli dalam Gondang Batak itu ya."
"siap amangboru."
Joan langsung meraih handphone Nya, lalu menghubungi seseorang.
Setelah terhubung Joan bicara dengan orang yang di hubungi nya dengan menggunakan bahasa Batak Toba yang fasih.
Bapaknya Joan hanya geleng-geleng kepala mendengar Joan berbicara dengan seseorang melalui handphone dengan menggunakan bahasa Batak Toba, karena bapaknya Joan tidak bisa berbahasa Batak.
Lumayan lama juga Joan ngobrol karena dibarengi dengan candaan dan itu terdengar jelas tawa dari Joan serta rayuan nya.
Akhirnya Joan selesai bertelepon dan kemudian tersenyum ke arah Ku.
"Joan kok lancar kali bahasa Batak nya?"
Dengan kagum nya, Bapaknya Joan bertanya kepada anaknya itu.
"Bapak ku yang ganteng, Joan ini pemenang Toba idol dan tentunya Joan banyak belajar tentang budaya Batak dan bahasa Batak Toba.
Maka dari itu, Joan wajib menemani bapak ke desa Aek Holong ya."
"iya....."
Dengan bangganya Joan mengatakan demikian, lalu di jawab oleh bapaknya dengan begitu singkat.
"bapak datang kemari ngak bawa makanan atau minuman enak gitu?"
"ya ampun Joan, baru aja loh kita makan. baru aja kita ngemil. lambung mu ada berapa sih Joan?"
"kakak ku yang cantik, Joan sekarang lagi butuh banyak energi untuk masa pertumbuhan. kepo kali kakak ku ini lah, heran awak nengok nya." *dialog Medan.
(awak\=aku,. kepo\=ingin tahu,. nengok\=melihat.).
ujar Joan kepada kakaknya yang terus julid terhadap Nya.
__ADS_1
Terkadang mereka berdua seperti bermusuhan tapi sebentar lagi sudah akrab dan saling perduli.