
Joan akhirnya di ijinkan untuk ikut bersama kami, Bocah yang meresahkan itu akhirnya berhasil meluluhkan hati mamak nya.
Gomgom, Rohani dan Cahaya. tidak ikut, karena tugas mereka adalah untuk menjaga keluarga yang ada di rumah.
Joan sebagai penanggung jawab konsumsi dan juga keperluan adat, semua Joan yang memegang kendali nya.
Hari keberangkatan sudah tiba, ternyata pickup yang dibutuhkan berjumlah lima. itu semua untuk mengangkut bahan makanan, alat masak dan juga alat musik.
Satu pickup khusus mengangkut ternak yang di butuhkan, seperti dua kerbau jantan dan betina, dua ekor kambing jantan dan betina, ikan mas yang masih hidup serta ayam hitam yang berhasil di kumpulkan bapak.
Bapak bersama oppung Doli Saur, Tulang pak Rohani dan dua koki yang dibawa oleh Joan.
Sementara aku dan Joan satu mobil bersama keluarga pak Didit termasuk Tarni, untuk para juru masak lainnya dan juga para pemain musik, kami khusus menyewa bus serta supirnya.
Dua mobil pribadi, satu besar dan lima pickup. kami berangkat beriringan, mobil yang di tumpangi bapak yang di depan, lalu nyusul mobil yang kami tumpangi, berikut dengan bus lalu pickup.
Segala syukur kami panjatkan, karena perjalanan lancar. tidak seperti perjalanan kami sebelumnya yang penuh tantangan dan horor.
Untuk yang kalinya kami istrihat di jalan untuk melepaskan kebosanan dan kepenatan, sebuah kafe di pinggir jalan dengan panorama pemandangan alam yang indah.
"alam nya indah sekali ya bang, banyak sekali kejadian dan kenangan selama kita bersama. semuanya indah seperti pemandangan ini."
Ucap Iren yang bersandar di lenganku, dia terlihat lelah setelah berjam-jam duduk dalam mobil.
"tidak masalah yang tidak terselesaikan, yang terpenting adalah niat kita untuk menyelesaikan."
"terimakasih ya bang karena sudah membantu keluarga kami."
"kita kan keluarga Iren, sudah sepantasnya saling membantu."
"terimakasih karena sudah mengganggap kami sebagai keluarga, abang jelas tahu kalau keluarga kami sendiri tidak bersedia membantu kami.
terkadang orang lain yang tidak ada hubungan darah yang bisa jadi keluarga, sementara keluarga sendiri menjauh dan menghindar."
"itulah hidup Ren, terkadang sulit untuk dimengerti. tapi mengalir begitu saja. kita hanya perlu menikmati alur nya."
Tanpa segan Iren memelukku, memang selama ini Iren sangat dekat kepada Ku dan selalu mengandalkan aku di dalam banyak hal.
__ADS_1
Demikian juga dengan pak Didit, Bu Rida dan Aris mereka memelukKu dengan erat. akhirnya pelukan kami berakhir karena pelukan dari Joan si tukang pengacau.
Rasa haru berubah menjadi komedi dan itulah Joan, bahkan Iren meminta untuk satu mobil dengan kami.
Sepanjang perjalanan Joan mengoceh terus, tanpa henti yang membuat kami menjadi terhibur.
Setelah merasa cukup beristirahat, kemudian kami lanjutkan perjalanan.
Mobil melaju sudah hampir satu jam setelah peristirahatan ke-dua, dan akhirnya Joan tertidur pulas, terdengar suara ngoroknya yang aneh dan itu membuat kami tertawa.
Karena tawa kami akhirnya Joan terbangun dan mulai mengoceh lagi.
Hari sudah mulai petang, sekarang sudah pukul tiga sore kemungkinan kami akan tiba ke desa Aek Holong sekitar setengah jam lagi.
Tanpa terasa kami sudah tiba di ibukota kecamatan, dimana para warga desa Aek Holong di tampung untuk sementara.
Ternyata ada disana hanya ibu-ibu yang masih memiliki anak balita, sisanya sudah kembali ke desa Aek Holong.
Desa Aek Holong sudah dinyatakan aman, tapi tidak untuk ibu yang baru melahirkan dan anak balita.
Kami lanjut ke desa Aek Holong, dengan menempuh perjalanan lima belas menit dan kami akhirnya tiba.
Oppung Doli Dison dan beberapa warga lainnya yang di dominasi oleh bapak-bapak menyambut kami.
Kami di taburi beras yang bercampur dengan kelopak bunga, lalu kami dipersilahkan duduk di halaman rumah yang beratap tenda.
Kemudian rombongan ibu-ibu datang dengan membawa kopi dan cemilan berupa ubi rebus dan menghidangkan nya.
Bapak Sarma sebagai juru bicara yang lancar berbahasa Indonesia kini berdiri dan menghadap kami.
"saya mewakili warga desa Aek Holong, berterima kasih kepada pak Aris dan keluarga yang sudah bersedia datang kemari untuk menyelesaikan semua musibah ini.
Keluarga saya awalnya adalah pendatang di desa ini, dan tidak hubungan dengan pemuja begu ganjang yang pertama.
Saya di tunjuk oleh pemangku Adat untuk menuntun pak Aris dan keluarga untuk menyelesaikan ini semua.
selanjutnya setelah kita makan malam bersama, baru bahas acara adat yang akan kita laksanakan."
__ADS_1
Kami hanya terdiam mendengar penjelasan dari pak Sarma, dan kemudian pak Didit mengangkat tangan nya.
"mohon maaf, saya mau tanya. apakah ada keluarga atau keturunan dari kakek buyut yang datang kecuali keluarga saya?"
"tidak ada pak Aris, kami sudah berusaha menghubungi dan mereka tidak bersedia datang kemari.
Mereka mempunyai cara sendiri untuk mengakhiri nya, dan itu adalah hak mereka.
Kami disini hanya mengakhiri hubungan warga dengan iblis itu, selanjutnya kami akan pindah dari desa ini.
Kami sudah mendapatkan rumah masing-masing serta kebun dan sawah dari pemerintah.
Karena desa ini akan digunakan sebagai tempat penampungan air dari air terjun Simarmata.
lalu sebagian desa ini akan jadi tempat tinggal para pegawai proyek, pemangku Adat sudah menjelaskan semuanya tapi mereka tidak mengindahkan nya.
Bersama kepala desa, pemangku adat, penatua Marga dan perwakilan warga sudah menandatangani kesepakatan bersama.
Kami tidak akan bertanggungjawab atas apa yang terjadi setelah mereka memulai proyek tersebut."
"mohon maaf pak Sarma, saya sebagai penanggung jawab untuk perpindahan para warga desa Aek Holong ini ke tempat yang baru.
Mengenai surat-surat rumah, kebun dan sawah serta ganti rugi akan desa bapak-ibu ini bagaimana?"
ucap tulang pak Rohani, sebagai ketua pelaksana perpindahan para warga desa Aek Holong ke tempat yang baru.
"sebelumnya saya mewakili para warga, dengan mengucapkan terima kasih kepada pak Rohani ya.
karena pak Rohani sudah memperjuangkan hak dan kepentingan kami semua warga desa Aek Holong.
Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada bapak.
Mengenai ganti rugi, kami sudah menerima setengah dari perjanjian, yaitu harga lahan disesuaikan dengan pasaran di tempat ini. sisanya setelah kami meninggalkan kampung ini dan tinggal di desa yang baru itu.
Kami sudah menandatangani surat kepemilikan rumah, kebun dan sawah. terimakasih pak Rohani, semoga Tuhan memberkati bapak dan keluarga."
amin.....
__ADS_1
Serentak kami berkata Amin, dan terlihat Tulang pak Rohani lega setelah mendengar penjelasan pak Sarma.
Tidak berapa lama, Joan dan beberapa juru masaknya yang di bantu oleh para warga menyajikan makanan dan minuman untuk kami semua.