KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Istrihat.


__ADS_3

POV Rohani.**


Rohani yang datang bersama Gomgom, dan mamanya Mora serta Cahaya adik perempuannya Mora.


Mereka menyusul Mora ke desa Aek Holong, karena merasa ada sesuatu yang terjadi.


"kakak bersihkan luka bang Mora dan juga Joan ya, kamu bersihkan dulu luka kaki amangboru."


"iya kak."


Mereka berdua membersihkan luka itu dengan begitu telaten.


"di ibukota kecamatan ada Cahaya lihat puskesmas yang lumayan besar, kita bawa aja ke sana ya kak?"


Pak Sarma dan pemangku adat langsung mendekati Cahaya dan juga Rohani, terlihat pemangku adat berbisik ke pak Sarma.


"begini boru, kata pemangku adat. harus dilakukan pembersihan jiwa sebelum meninggal desa ini.


Apa Mora dan Joan, serta pak Mora sudah sangat kritis sekali?"


"tidak pak, nanti di infus saja dan suntik anti tetanus.


lukanya tidak terlalu dalam serta tidak benda-benda yang berbahaya yang masuk ke tubuh mereka pak.


Tidak perlu dibawa ke puskesmas atau rumah sakit, Rohani dan Cahaya masih bisa menanganinya."


"baiklah boru, tapi kenapa Joan dan Mora ngomong ngaco tadi?"


"itu halusinasi karena kelelahan pak, mereka syok dan juga dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.


luka-lukanya sudah bersih dan tinggal infus serta menyuntikkan obat anti tetanus pak."


Ujar Rohani dan berama cahaya mereka melakukan itu.


Setelah memasang infus untuk Mora, Joan dan juga bapak Mora.


Mereka bertiga dalam keadaan tidak sadar, dan Rohani mempersilahkan pak Sarma dan pemangku adat untuk melaksanakan ritual pelepasan jiwa dengan roh dari desa Aek Simarmata.


Roh yang dimaksud adalah para korban begu ganjang yang selama ini, baik warga desa Aek Holong dan juga para peneliti yang datang.


Mora, bapak nya, dan Joan. sudah berada di tengah-tengah halaman, hanya Rohani dan Cahaya yang bersiaga untuk menjaga infus mereka bertiga.


Campuran bunga dan beras di taburi sekeliling mereka yang berada di tengah-tengah halaman rumah tersebut.


Kemudian pemangku adat duduk bersila diantara penghujung taburan bunga dan beras tadi.


Dihadapan sudah kemenyan yang dibakar, aroma yang semerbak dari hasil pembakaran kemenyan tersebut.


Terlihat pemangku adat kamot-kamit seperti dukun yang sedang membaca mantra.


Siur........briussss.........


Angin kencang yang diikuti oleh awan hitam menyelimuti tempat tersebut.


"tenang ya boru, pemangku berusaha melepaskan para roh yang menyertai mereka bertiga."


Ujar pak Sarma kepada Rohani dan Cahaya yang menjadi mereka bertiga.

__ADS_1


Berselang beberapa waktu, awan itu perlahan-lahan menghilang dan akhirnya lenyap.


uhu....uhu...uhu....


Uhu....uhu...uhu....


Uhu....uhu...uhu....


Mora dan Bapaknya serta Joan batuk seperti sahut menyahut, dan itu artinya mereka sudah sadar.


"kak Ani, infus nya habis. apa kita tambah aja?"


"ngak usah dek, kita suntik vitamin aja. bantu kakak untuk melepaskan infus nya."


Rohani menyuntikkan vitamin kepada Mora dan Joan melalui bokong, sementara Cahaya menyuntikkan vitamin kepada bapaknya.


Mora dan bapaknya sudah sadar, demikian juga Joan, perlahan-lahan mereka duduk dan kemudian pemangku ada mendekati mereka bertiga.


Pemangku adat memegang dahi Mora dan seketika pingsang lagi, lalu kebapakannya Mora kemudian Joan.


Mereka bertiga kembali tidak sadarkan diri, Rohani dan Cahaya yang melihat hal tersebut lantas heran.


Tapi pak Sarma memberikan isyarat kepada Rohani dan Cahaya agar tenang.


Pemangku adat memberikan isyarat lagi ke arah pak Sarma dan kemudian pak Sarma berdiri.


"bapak-bapak....


saya mintak bantuan untuk membawa pak Mora serta anaknya, dan Joan untuk masuk ke rumah pemangku adat."


Pinta pak Sarma kepada warga dan tiga orang laki-laki dewasa langsung berdiri dan menghampiri mereka yang ada dalam lingkaran itu.


Setelah masuk ke rumah, hanya keluarga pak Didit serta Rohani dan Cahaya yang di persilahkan masuk.


Rohani mengecek tekanan darah Mora dan Joan, sementara Cahaya mengecek keadaan bapaknya.


"bapak sudah normal kak, gimana bang Mora dan Joan?"


"aman dek."


Setelah di nyatakan aman, istri pemangku adat langsung memberikan selimut kepada mereka bertiga.


"pak.... bu..... adek-adek.......


kakak periksa ya, Aris sini dekat sama kakak. Iren sama kak Cahaya ya."


Rohani dan Cahaya melaksanakan tugasnya sebagai tenaga medis, lalu Cahaya mengacungkan jempolnya kepada Rohani.


"Iren aman kak, perlu kita suntik vitamin."


Rohani hanya mengganguk, lalu mendekati Cahaya dan membisikkan sesuatu.


Setelah itu meminta Aris dan Iren berbaring dan kemudian tengkurap.


Rohani dan Cahaya menyuntikkan sesuatu melalui bokong mereka berdua, setelah selesai menyuntik lalu Rohani mendekati istri pemangku adat.


"adong do pe salimut manang mandar ni oppung?"

__ADS_1


(apakah nenek masih punya selimut atau sarung?)


"adong pung, paima ma da asa hu buat."


(ada, bentar biar nenek ambil).


Rohani mengikuti istri pemangku adat masuk ke dalam, dan tidak berapa sudah membawa bantal empat dan juga selimut dua.


"Aris... Iren....


tadi kakak sudah menyuntikkan vitamin dan juga obat tidur.


kalian berdua istrihat ya, supaya kalian berdua ada tenaga untuk pulang nanti."


"iya kak."


Dengan serentak mereka berdua menjawabnya dan Cahaya langsung membantunya untuk menyiapkan tempat istirahat.


"pak.... bu.....


sini, bapak sama ibu juga perlu vitamin dan butuh istirahat."


"tapi...."


"ngak ada tapi-tapian pak, bapak dan ibu harus nurut."


"suka maksa ya pah, sama seperti calon suaminya."


Ujar ibu Rida, yang menyindir Rohani karena memaksa mereka berdua untuk istrihat.


Tapi sindiran itu tidak berguna untuk Rohani, dan Cahaya langsung menarik tangan pak Didit dan istrinya.


Pak Didit dan istrinya serta anak-anaknya sudah tertidur, begitu juga dengan Mora, bapaknya dan Joan.


"amangboru pak Sarma, gimana? apakah sudah selesai semua?"


"sudah Inang, tapi kita punya waktu tiga hari dari sekarang untuk meninggalkan kampung ini.


bisa panggil bapak mu kemari?"


Rohani langsung memanggil bapaknya masuk ke dalam rumah pemangku adat.


"apa yang bisa saya bantu pak Sarma?"


"begini pak Rohani, kita hanya punya waktu selama tiga hari untuk berada di kampung ini, bagaimana desa yang di janjikan itu?"


"saya sudah menelpon kantor dan kantor camat, semua surat-surat rumah, kebun yang akan diberikan kepada warga sudah selesai di urus.


Sebelum memasuki kampung yang baru, terlebih dahulu nanti menerima ganti rugi atas tanah, rumah, kebun atau sawah.


Nantinya akan dilaksanakan di kantor camat, dan semoga saja itu bisa digunakan untuk memulai hidup baru di tempat baru.


Rumah sudah layak huni, warga desa Aek Holong tinggal pindah saja ke rumah yang baru.


Lalu bagiamana dengan persiapan perpindahan para warga pak Sarma?"


"terimakasih pak Rohani, saya mewakili warga desa Aek Holong mengucapkan terimakasih kepada bapak dan Tim yang sudah mengupayakan yang terbaik untuk warga kami."

__ADS_1


Dengan air mata yang berderai, pak Sarma langsung memeluk bapaknya rohani.


__ADS_2