
Kini aku sudah berada di dekat air terjun, kemudian pak Sarma membawa tubuh pak Didit yang masih pingsan dan terakhir tubuh bu Rida.
Kami bertiga di baringkan di batu besar, pak Didit sisi kananKu yang menghadap langsung ke air terjun.
Lalu bu Rida di tengah dan aku disampingnya bu Rida berbaring.
"on ma pinoppar mu horas, jala pinoppar mon dang olo gabe sipele begu ganjang songon ho."
(inilah keturunan mu Horas, keturunan mu menolak untuk menjadi pemuja begu ganjang)
"palua ma pinoppar mon, boan ma begu ganjang mi tu ho. palua ma sude sian nabarnit nabinahen mu."
(lepaskanlah keturunan mu ini, bawalah pergi begu ganjang itu, dan lepaskan kami semua dari kutukan yang telah kau mulai).
uhmm..... uhmm.....uhmm.....uhmm.....
bla....bla... bla.... bla.... bla.... bla....
Setalah mengucapkan kalimat itu, lalu pemangku adat seperti membaca mantra.
srrrt...... srrrt........
Cahaya yang silau dan sosok yang hitam pekat keluar dari tubuh pak Didit serta bu Rida.
Lalu kedua sosok itu menghilang ke arah air terjun.
Tiba-tiba saja air hujan sangat deras, akan tetapi hanya di area kami bertiga yang telentang di batu besar ini.
Hujan itu hanya sebentar dan kemudian berhenti.
"kenapa bapak dan ibu belum sadar?"
'ssstttttt......
Pak Sarma menyuruhku untuk diam, karena pemangku adat masih bertapa.
"muliate ma oppung, nungga di adopi oppung padan ni oppung i, saunnari mulak nama hami."
(terimakasih kakek, atas janji yang telah engkau tepati, sekarang kami hendak pulang.)
"Alai dungoi ma jolo pinoppar mon, rodi parsinonduk nai, asa mulak tu huta."
(tolong bangunkan keturunan yang engkau pilih ini, agar kami bisa pulang)."
Setelah itu pemangku adat diam, dan terlihat pak Didit serta bu Rida menggerakkan tangan mereka masing-masing.
"pak e, bu....
bangun pak, bangun bu. ayok kita pulang, sudah malam ini, Mora lapar pak, bu... Mora lapar."
"Mora...."
Jawab pak Didit dan bu Rida serentak, pak Sarma membantu pak Didit untuk bangkit duduk, lalu pemangku adat segera datang menghadap kami dan kemudian membantu bu Rida untuk duduk.
__ADS_1
"kita pulang ya, pak Aris bisa jalan? bagiamana dengan mak Aris?"
Pak Didit dan bu Rida serentak mengganguk, pertanda bahwa mereka berdua bisa berjalan.
"kaki Mora tertusuk akar kayu, sehingga tidak mungkin untuk jalan, biar saya aja yang menggendong Mora."
"tidak usah pak Sarma, saya bapak nya, biar saya aja yang menggendong anakku.
Mora, ayo naik ke punggung bapak. ayo kita pulang.
Pak Sarma, tolong bantu naikkan Mora ku panggung ku ya."
Jawab pak Didit dengan tegas, lalu pak Sarma membantu Ku untuk bisa naik ke punggung pak Didit.
Pak Sarma di depan kami, lalu di ikuti oleh bu Rida, lalu pak Didit yang menggendong ku, dan pemangku adat di belakang kami.
Hanya suara jangkrik dan katak yang terdengar, sinar bulan purnama menerangi jalan kami.
"bapak dan adek-adek gimana ya?"
Tidak yang menjawab pertanyaan Ku dan kami lanjut berjalan dibawah sinar bulan ini.
"sabar ya Mora, sebentar lagi kita sampai di pohon beringin, amang boru yakin kok, kalau bapak mu dan tunggane mu itu bisa menjaga dan melindungi Aris dan iboto nya (adik perempuan, dalam tradisi Batak Toba).
Bapak mu asli orang sini, dan Joan adalah orang yang berpengalaman dalam hal adat Batak.
Akhirnya kami tiba di pohon beringin, dan melihat bapak, Joan, Aris dan Iren sudah terkapar.
"oh iya, pak Sarma. gimana sudah selesai? apa ada yang terluka?"
"aman kok pak Mora, disini bagiamana?"
Pertanyaan pak Sarma tidak di jawab bapak, dan akhirnya pemangku adat menyalakan senter.
"bangun amang, bangun inang...."
Pak Sarma membangunkan Joan, Aris dan Iren yang belum sadar dan perlahan-lahan mereka bertiga bangun juga.
"jangan bicara dan jika tidak bisa berdiri angkat tangan aja ya."
Ternyata bapak dan Joan yang tidak bisa berdiri, dan Aris bersama adiknya yaitu Iren membantu Joan untuk berdiri.
Sementara bapak di papah oleh pemangku adat.
"yuk kita pulang, urusan kita sudah selesai disini. jangan lihat kebelakang dan terus berjalan ya."
Ujar pak Sarma, dan kami melanjutkan perjalanan pulang ke desa Aek Holong.
Kali ini hanya suara-suara aneh yang kami dengar, mulai dari orang mintak tolong, menangis, tertawa, teriak dan kemudian suara gondang.
Pak Sarma selalu mengingatkan agar tidak menoleh kebelakang, karena sumber suara itu berasal dari belakang kami.
Aneh memang dan akhirnya suara-suara itu hilang seketika dan yang terdengar suara para warga desa Aek Holong yang memanggil kami.
__ADS_1
Sepertinya desa Aek Holong sudah dekat, dan suara gondang terdengar lagi.
Suara itu gondang itu berhenti, dan kali ini suara mamak, suara nantulang mak uli, suara cahaya dan suara Uli yang terdengar sangat jelas.
Suara itu semakin dekat dan sangat dekat, lalu alam sekitar terlihat bergoyang.
Pohon-pohon disekitar seperti mengapa ku dan mereka semua tersenyum ke arahku.
"pohon di depan punya tangan pak e, buahnya kok besar kali.
Mora lapar pak, ingin makan. Mora bisa makan buah pohon itu pak."
"sabar ya Mora, nanti bapak belikan makanan yang enak-enak."
"pohon-pohon itu kok bergoyang ya pak. buahnya kok banyak..
pak.....pak e.......
kok hujan lagi, tapi kenapa hujannya bisa Mora pegang ya?"
Hujan kali ini sangat aneh, seperti tali plastik yang berwarna putih, hujan itu bisa ku pegang dan aku letakkan diatas kepala Ku.
"bang Mora..... bang Mora...."
"iya Uli, ngapain kalian disini? loh tali yang abang kumpulkan dimana?
Ada bawa makanan ngak?"
"kayaknya ngak ada bang Mora, kan Joan dah bilang sama abang, kalau kak Uli itu adalah kakakku yang paling p.....e.....l......i.......t......"
"iya iya Joan, kakak mu memang pelit, masa ngak ada bawa makanan.
tadi banyak buah dijalan, Joan ngak ada ambil ya?"
"ngak bang, tadi tangan Joan di pinjam kerbau oppung Sanggap, katanya mau panen pisang.
tangan Joan belum dikembalikan, gimana Joan mau ambil buahnya.
tapi kenapa Abang ngak mengambil buahnya?"
"iya kelupaan, karena sibuk ambil tali."
"untuk apa tali itu bang? oh kasih aja sama Ani, biar di jual untuk beli makanan.
bang .... kok gelap ya, apa mati lampu?"
"berisik, Abang mau tidur. jangan putar musik itu lagi, matikan dulu ya."
Suara Joan tidak terdengar lagi, gelap dan sunyi.
Kenapa tiba-tiba sangat dingin?
Ini Joan kenapa menarik selimut Ku, memang bocah ini lah.
__ADS_1