
Lalu Aris mendekati Papa nya, lalu menyeka air matanya. setelah agak tenang barulah pak Didit menghela napasnya.
"entah kenapa hati ini sesak rasanya, dan air mata ini mengalir.
Air mata ini mengalir ketika si kakek itu masuk lagi ke lobang tanah yang sudah di gali Nya.
Perlahan si nenek menguburkan si kakek dan hanya kepada Nya yang terlihat, lalu si nenek menyiramkan darah ayam hitam dari guci ke kepala si Kakek.
Tiba-tiba saja ada dua sosok yang menyeramkan mendatangi kami, berbadan manusia dan kepalanya seperti kerbau.
Hanya mulutnya yang beda, mulut seperti mulut manusia tapi bertaring.
Entah kenapa diri ini melayang dan akhirnya kami bertarung.
Seperti dalam film laga, Papa bisa menghajar kedua sosok makhluk tersebut.
Tidak tahu berapa lama kami bertarung, hingga tercium bau ayam yang terbakar dan bau bangkai yang sangat menyengat.
Pada akhirnya dua sosok makhluk tersebut hancur seperti abu dan terbang dibawa angin.
Hanya suara Joan yang terdengar serta Isak tangis dari Iren, lalu di ikuti suara Mora yang memanggil Papa untuk kembali ke rumah.
Akhirnya Papa sadar dan kalian semua tergeletak di lantai."
"pa.....
Beda dengan mimpi Aris, setelah di pohon beringin itu. ada seorang kakek dengan perawakan seperti opa.
Bongkok dan kepalanya plontos, mimik wajahnya seram dan memakai pakaian serba hitam dengan sabuk merah di pinggangnya."
Pak Didit kemudian menoleh ke arah Aris, dan sepertinya orang mimpi itu tidak asing.
"atok Tarno, ciri-ciri nya persis seperti stok Tarno. lalu gimana lagi?"
Ujar pak Didit yang penasaran dengan mimpi Aris yang berbeda darinya.
"kakek tersebut berkata, kalau Aris harus mengikuti Nya. karena jalan yang di tempuh Papa berbeda dengan keinginannya.
*kamu harus menjadi pengabdi Ku, supaya kamu kaya raya.*
itulah yang di ucapkan kakek itu, lalu mengambil keris dan potongan rambut. potongan rambut tersebut di makan olehnya, kemudian menancapkan keris tersebut di pohon beringin.
Keris yang tertancap itu dibaluri dengan darahnya sendiri.
__ADS_1
Kemudian kakek itu komat-kamit dan tepat di hadapannya ada kepingan emas tapi ada beberapa ular yang berada diatasnya.
lalu Kakek itu berkata *usap lah tanda lahir mu itu tujuh kali, maka ular ini akan pergi dan semua kepingan emas itu akan jadi milik mu.*
dan Aris mendengar suara bang Mora, dan menyuruh Aris untuk tidak melakukan nya.
Bang Mora kemudian terpental jauh dan Kakek itu mengulangi lagi perkataan Nya, kemudian datang seorang kakek yang mirip sekali seperti Papa nya bang Mora.
Aris di dorong nya lalu kepala Aris di siram dengan cairan seperti darah yang amis, kemudian kakek yang seram itu menghilang.
Seketika kakek yang mirip dengan Papa nya bang Mora melihat tanda lahir Aris.
Tersenyum dan kemudian berkata *nga sae be sude* (semua sudah selesai).
suara Joan dan tangisan Iren yang selalu Aku dengar, dan bau bangkai yang menyengat.
Sinar silau itu membangunkan Aris dan semuanya sudah tergeletak di lantai kecuali Papa nya berusaha membangunkan Aris.
Setelah Aris bangun lalu kami berdua membangunkan yang lainnya dan terakhir bang Mora."
Joan berhenti mengunyah lalu minum air dan kemudian mendekati Aris.
"berarti ada sesuatu yang harus diselesaikan juga, berdasarkan mimpi yang awalnya sama dan berakhir berbeda.
Joan yakin bahwa ada hal yang berbeda, intinya keturunan dari pemuja Begu ganjang tidak menginginkan ini berakhir."
"Joan juga ngak ngerti bang Mora, tapi yang jelas dan kuat dugaan Joan, kalau jika pemujaan terhadap Begu ganjang berakhir akan ada keturunan yang lain akan menderita."
"iya juga Joan, hal ini perlu kita diskusikan nantinya."
Lalu kami terdiam lagi dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
"sebentar deh, menurut surat yang dibaca di rumah Abang kemarin itu. bahwa anak perempuan nya tidak mau menjadi hamba Iblis.
apa kemungkinan ini ulah dari keturunan pihak perempuan?"
"tapi Joan, menurut oppung Doli Sarma. kakek yang selamat dari desa Aek Simarmata saat mengambil tanah dan air tersebut.
bahwa seluruh keturunan dari pihak perempuan sudah meninggal dan ini artinya bukan ulah dari keturunan pihak perempuan."
"begitu ya bang Mora, tapi ada aneh ya. bou kan Istri nya amangboru.
Sementara dalam mimpi si nenek tersebut ikut andil dalam hal pemujaan terhadap Begu ganjang.
__ADS_1
Lalu kak Iren juga putri dari amangboru, tapi kenapa bou dan kak Iren tidak menceritakan apapun, baik itu mimpi atau peristiwa yang terjadi."
Benar juga kata Joan, dan kami pun menoleh ke arah Bu Rida dan Iren.
"Iren hanya sekali bermimpi, dan itu sudah lama.
Dalam mimpi Iren itu ada seorang nenek lalu berkata * bolo nung tardalan na asing among mu dohot ibotom, seat ma inang jari mu sihambirang, jala baen ma tu simakkudap ni na di pillit mu.* dialog Batak
(kalau ayah dan saudara laki-laki ini sudah menyimpang dari jalan yang baik, potong lah ibu jari kanan mu, lalu teteskan ke mulutnya.)
Holan Sada do naboi di pillit ho, boi duat na di pillit ho, Gabe ho ito tu hamatean.
(hanya satu yang bisa kamu pilih, jika kamu memilih keduanya maka kamu akan mati.)
Hoooooooooooooooo.........
Akka pinoppar hu, jaga ma ito mon. on do si boan nata tu hamu.
(wahai keturunan Ku, jagalah baik-baik saudari mu ini. karna karena hanya ini yang bisa menyelamatkan kalian dari hamba Iblis)
Paloas imana mamillit na tu rohana, unang pasombu sahalak di hariariangan i."
(biarkan dia memilih sesuai dengan keinginannya, dan jangan biarkan dia sendirian di hutan belantara itu.).
Awalnya Iren masih terlihat normal dan akhirnya seperti orang kesurupan dan terakhir pingsan.
Tidak berapa lama kemudian, Iren sudah sadar kembali dan tatapan matanya sudah normal.
Tarni memberikan air minum dan setelah itu giliran Rohani yang memeriksa fisik Nya.
"semuanya normal."
Ujar Rohani dan kembali merapikan peralatan medisnya.
"apa yang di ucapkan Iren barusan bang Mora?"
Aris masih memegang tangan Iren lalu bertanya kepada Ku.
Perkataan dari Iren ku terjemahan ke bahasa Indonesia, dan terlihat semua hanya terdiam.
Setelah semuanya agak tenang barulah kami saling bertatapan, dan ternyata malam sudah semakin larut.
Akhirnya kami putuskan untuk istirahat, Bu Rida bersama Iren, Rohani dan Tarni masuk ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1
Sementara kami yang laki-laki berada di ruang tamu ini, Johan dan Aris berebut tidur di samping Ku sementara Gomgom tidur didamping pak Didit.
Karena amat kelelahan, akhirnya bisa juga mata ini aku pejamkan.