
Setiba di rumah, bapak langsung menangis di pelukan ku, demikian juga dengan mamak, Gomgom dan cahaya juga ikut memeluk Ku.
Antara kangen dan dan rasa duka yang sangat dalam, seharusnya oppung makan malam bersama bapak dan mamak tapi oppung ku hanya terbaring tak berdaya di peti itu.
"Gomgom....kenapa lama pulang nya, bukan semalam sore ko bilang pulang?"
"Ah....ud.mm.mmmm
Gomgom seperti membuat alasan yang tak jelas.
"Sudah lah bang, yang penting kita semua ngumpul."
Bapak menyudahi pertanyaan ku ke Gomgom, terlihat ada sesuatu yang disembunyikan nya.
"Oh ya pak kapan oppung di kebumikan? Kasian liat nya wajah nya harus di perban gitu."
"Rencana besok bang, karna bou dan amang Boru mu dari Sibolga sebentar lagi nyampe, sebaiknya abang mandi dulu dan ganti baju mu."
(bou adalah panggilan kepada saudara perempuan dari pihak bapak dan pasangan bou ku panggil amangboru.* tradisi Batak Toba).
"Ya pak."
Selesai mandi dan saya kembali duduk dekat bapak, tak berselang lama bou Mak Tinur datang, melihat keadaan oppung Doli dan oppung Boru yang di balut perban dan sudah masuk peti membuat bou Mak tiu pingsan.
(oppung Doli artinya Kakek dan Oppung Boru artinya Nenek.
Dalam tradisi Batak Toba, jenasah tidak langsung di makamkan. terlebih dahulu menunggu sanak saudara untuk melihat almarhum untuk terakhir kalinya.
Jika sudah mempunyai Cucu dari anak laki-laki dan punya cucu dari anak perempuan, maka akan di buat kan pesta adat saur Matua, adat terakhir bagi suku Batak).
Sementara Mindo di peluk oleh bapak nya karna menangis melihat mamak nya pingsang.
Tinur yang sudah ber umur 15 tahun hanya diam dan ikut serta menenangkan adiknya yang masih menangis.
Cahaya langsung mengoleskan minyak angin ke hidung bou Mak Tinur dan beberapa saat bou pun sadar dari pingsan nya.
"bou..... gimana deh enakan bou?
Cahaya tolong ambil kan air minum buat Bou."
Ku suruh Cahaya mengambil air minum buat bou sementara Bou Mak Tinur masih saja menangis, sambil sesekali melirik ke arahku dan suami nya serta anak nya.
"bou..... minum dulu biar tenang."
Cahaya memberikan minum buat bou Mak Tinur, dan setelah itu memeluk bapak dan mamak dan terakhir memeluk ku.
"Ito.... gimana dengan bapak Uda yang di kampung?"
(Itok adalah panggilan kepada saudara laki-laki ataupun sebaliknya, bapak Uda adalah panggilan kepada adik laki-laki dari pihak bapak. *tradisi Batak Toba).
"Tenang ya edak Mak Tinur, Semua keluarga sudah ada disini, ku suruh istirahat dulu rumah eda Mak Rohani."
__ADS_1
(Eda adalah panggilan terhadap ipar perempuan, dan biasa juga dalam kehidupan sehari-hari pergaulan kehidupan masyarakat Batak Toba).
"Terimakasih ya eda ku."
Tamu yang melayat semakin berkurang, mata pun semakin berat dan akhirnya saya tertidur dekat jenasahnya oppung.
**
Pagi telah tiba acara adat di mulai, terlihat pak Didit dan keluarga yang di temani oleh Rohani datang menyalami kami, dan setelah itu duduk di kursi yang disediakan.
Acara adat hampir selesai saat nya oppung harus di makamkan, setelah bersiap kami berangkat beriringan.
Perpisahan dengan oppung memang harus terjadi cepat atau lambat, tidak ada kehidupan abadi di dunia ini, istirahat lah oppung ku, semoga mendapat tempat layak disisi sang pencipta.
Pemakan telah selesai, karna bapak sudah lemas ku suruh Gomgom yang menggendong, akan tetapi bapak menolak nya, kami pun meneruskan perjalanan pulang ke rumah.
Sesampai di rumah tamu yang melayat sudah tidak ada lagi, ku mintak bapak dan mamak ber istirahat tapi ditolak, walaupun wajah bapak sudah kelihatan pucat.
Kutarik dengan pelan tangannya Cahaya ke arah dapur, saya ingin cahaya melakukan sesuatu untuk Bapak.
"Cahaya...... lakukan sesuatu buat bapak, liat tuh wajah bapak sudah pucat, kalau mamak kayak nya masih kuat."
"bukan cuman bapak yang pucat, wajah bang Mora juga dah mulai pucat, Abang duduk dekat bapak aja, biar kuambil peralatan ku."
Cahaya meninggal kan di dapur, katanya untuk mengambil peralatan nya, walaupun Cahaya belum jadi dokter, saya yakin Cahaya bisa melakukan sesuatu untuk Bapak.
Duduk kembali dekat Bapak sembari memandang wajah bapak yang sudah menua dengan wajah pucat dan kelelahan dan Cahaya pun datang sembari membawa tas.
Saya dan Bapak hanya mengangguk aja mengikuti perintah dari Cahaya calon dokter kami.
Saya dan Bapak disuruh tengkurap dan membuka celana sedikit di bagian bokong, seperti digigit semut suntikan Cahaya yang kurasakan.
Setelah selesai disuntik oleh Cahaya, ku lihat bapak mulai ngantuk, dan akhirnya tertidur.
"Gomgom gendong bapak ke kamar ya, supaya bapak bisa istirahat."
Tanpa berbicara Gomgom langsung menggendong bapak masuk kamar, tak berapa lama mata ku terasa berat dan sangat mengantuk.
"Cahaya apa yang kamu berikan sama Abang?"
"Sama kyak bapak bang, vitamin sekaligus penenang, biar Abang bisa istirahat."
"Cahaya..... Abang harus terjaga."
"Abang tenang aja, ada Cahaya dan bang Gomgom, sebaiknya Abang istirahat aja dulu."
"Cahay........
****
Kulihat wajah bapak yang sudah mulai menua itu, ku perhatikan sekeliling ternyata saya sudah berada di kamar bapak dan Mamak, ku lihat jam yang sudah usang yang tertempel dinding kamar sudah pukul 7.
__ADS_1
Kulangkah kaki menuju keluar kamar, ku lihat Cahaya dengan senyuman manis dan ku sambut lagi dengan senyuman ku.
"bang Mora.....
ini handuk dan baju ganti ya segera mandi ya. habis itu kita makan, amang Boru sudah bangun bang?." ujar Rohani dengan senyum nya yang manis.
"sudah inang."
Tiba-tiba saja bapak sudah berdiri di belakang ku, hal ini membuat terkejut.
"Bapak......"
"maaf ya bang, dah buat kaget."
Kulangkah kaki ku menuju kamar mandi, setelah siap mandi dan berpakaian, kemudian kembali ke ruang tamu.
Ku lihat pak Didit dan keluarga serta keluarga besar sudah berkumpul di sana, dan kemudian bapak menyusul.
Kami makan malam di ruang tamu ini, tidak ada bersuara, hanya Joan dan Aris yang ngobrol sambil makan, seperti nya mereka sudah akrab.
Selesai makan ruang tamu di bersihkan oleh Cahaya, Rohani dan mbak Tarni.
"Bapak...... apa ada paket dari Jakarta pak?"
"ada bang dah bapak taro di lemari yang di kamar itu."
"oh.... terimakasih ya pak."
"sama-sama bang."
"Gomgom, tolong ambilkan paket itu dek dan juga kotak yang di tas Abang ya."
"ya bang, bentar ya"
Semua yang di ruangan melihat ku dengan cara aneh dan terheran-heran. tapi tak satu pun yang berani bicara, Cahaya menyajikan ke kami semua, kopi dan cemilan. tak lama kemudian Gomgom pun datang menghampiri kami.
Dua paket, satu dari alamat rumah pak Didit dari Jogja dan satu lagi dari rumah sakit Citra Jogja, pertama ku buka paket dari rumah sakit Citra Jogja, setelah nya ku dekati pak Didit.
"pak.... ini hasil tes DNA sudah keluar lebih cepat dari perkiraan ku, dan hasil nya pak ....
Pak Didit hanya terdiam sementara yang lain melihat kami dengan wajah penasaran.
Bapak, mamak, Cahaya, Gomgom, oppung Doli saur adek nya almarhum oppung kami, rohani dan kedua orang tua nya Serta Joan, keluarga pak Didit, dan keluarga bou Mak Tinur.
Itu lah kami yang berkumpul di ruang tamu ini, ku buka lagi kotak kaleng yang ku bawa dari Jakarta, akan tetapi semuanya terdiam membisu.
Hanya oppung Saur Doli yang mulai mendekati ku dengan mimik wajah yang penuh dengan pertanyaan.
Dan paket terakhir ku buka, Semua yang ada di ruang tamu terlihat syok seketika setelah melihat keris yang ku buka.
bersambung.....
__ADS_1