KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Tingkah Joan


__ADS_3

Rohani lalu mendekati ku lagi, tapi si pengacau ini selalu ada di tengah-tengah kami berdua.


"jangan dekat-dekat ya, Joan masih memantau."


"iya Joan."


Sanggah Rohani singkat kepada Joan yang rese itu, tapi senyuman Rohani membuat ku meleleh.


"tenang bang, Minggu depan jadwal Koas Ani akan keluar dan Ani sudah dapat bocoran kalau permintaan Ani di kabulkan.


Ani di tempat di Jakarta, ntar Ani akan mengambil Speaslis jika kita sudah menikah. dan itulah atas seijin bang Mora kelak nantinya."


Sangat terharu akan ucapan Rohani, kekasih hatiku itu. ingin rasanya memeluk Nya tapi terhalang sama si pengacau ini.


Si pengacau ini menarik tangan kakak nya, sehingga kakak nya itu tetap duduk di tempatnya.


"pak e, seharusnya harus ada kerbau loh pak dan itu harus kerbau jantan yang sudah memiliki tanduk."


"sudah disiapkan oleh warga desa Aek Holong mang."


Jawab bapak Joan kepadanya, lalu Rohani langsung menoleh Bapaknya.


"iya kak, itu bagian dari adat yang tidak bisa di pisahkan."


"benar kata bapak kak, jadi nantinya kepalanya itu akan dibawa oleh Istri waris pertama yang mengunjungi desa Aek Holong nantinya.


di taro dalam tampi dan disekelilingnya ada kumbang tujuh rupa, air dan tanah serta darah ayam jantan hitam.


(tampi adalah kerajinan tangan yang terbuat dari bambu, biasanya digunakan untuk menampi atau membersihkan beras dari sisi kulit nya)


lalu nanti kepala kerbau ibu akan di junjung menuju desa Aek holong, disini bou Mak Aris yang melakukannya."


"Joan, apa itu di junjung? dan kenapa harus mama yang melakukan Nya?"


Iren bertanya kepada Joan, karena sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Joan.


"menjunjung itu artinya adalah meletakkan beban diatas kepala dan membawa beban tersebut ke suatu tempat yang dituju, dalam tradisi Batak, perempuan atau istri yang melakukannya. sementara sang suami yang memimpin jalannya suatu ritual adat.


Setiap tempat atau wilayah pemukiman masyarakat Batak, terdapat beberapa perbedaan dari tatanan adat Nya.


Tapi secara umumnya laki-laki lah yang menjadi pemimpinnya dan istri serta anak-anak mengikuti dari belakang pemimpin"


"oh....."


Dengan kompaknya kami berkata 'oh' akan penjelasan Joan, sementara bapak dan bapak ku terlihat kagum dengan penjelasan Joan begitu dengan oppung Doli Saur.


"nga pas be ho pung raja perhata?"


(Cucuku, kamu cocok jadi pemimpin marga dalam hal upacara adat).


Ucap oppung Saur, dan bapak menerjemahkan nya ke dalam bahasa Indonesia.

__ADS_1


"ah oppung ini ada-ada aja, tapi Joan berterima kasih kepada oppung, karena telah mengakui Nya.


beda dengan kak Ani dan bapakku sendiri, yang mengganggap Joan sebagai si gaor dodak."


Iren terlihat garuk-garuk kepala, karena ucapan Joan yang terakhir yang membuat kami tertawa kecuali pak Didit dan keluarganya.


"Iren....


sigoar dodak itu artinya pengacau, atau pembuat ke onaran.


dodak adalah kulit padi, dan biasanya di gunakan untuk makanan ternak. sementara goar artinya menghamburkan atau membuat berantakan.


jika kulit padi di hambur kan, maka itu akan menambah pekerjaan untuk membersihkannya.


disebutlah si goar dodak alias si pembuat masalah atau keonaran."


"cocok itu bang, gelar itu cocok untuk Joan."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Lagi-lagi kami tertawa serentak, seharusnya ini adalah kabar duka tapi kami malah tertawa lepas.


Bapak terlihat memperhatikan pak Didit dan keluarganya yang tertawa lepas tanpa terlihat ada beban.


"Tulang Joan, terimakasih ya. karena sudah membuat pak Aris dan keluarganya tertawa lepas."


"sama-sama amangboru."


"kok lapar lagi ya, mbak Tarni ada persediaan makanan?"


"ada mas Joan, tunggu sebentar ya."


Rohani hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu, lalu mengikuti langkah Tarni ke dapur.


Ada beberapa cemilan yang dibawa oleh Tarni, berikut dengan jagung rebus, kacang rebus dan ubi jalar rebus.


Dengan ditemani oleh kopi, kami menikmatinya secara bersamaan dan kehangatan keluarga ini terlihat dari tawa canda kami.


Beruntung juga punya sosok Joan hadir ditengah-tengah kami, selain wawasannya yang luas, dia juga lucu dan kocak yang selalu menghibur tanpa melukai hati siapapun.


"Lusa pagi hari nya kita akan berangkat, agar persiapan kita lebih matang."


"setuju amangboru, karena bapak harus memikirkan sejuta jurus untuk membujuk mama, agar Joan bisa ikut."


Lagi dan lagi kami tertawa karena sanggahan Joan terhadap bapak yang menggelitik kami semua.


"pak e, bujuklah mamak agar Ani bisa ikut."


"tidak kak Ani, jangan membantah ya."


Rohani langsung terdiam setelah larangan dari Joan, lalu kekasih itu menatap Ku.

__ADS_1


"sudah...


dengarkan aja kata Joan, adik mu itu ngak salah kok.


kita disana ngak lagi kemping atau jalan-jalan, abang juga merasa berat hati akan ke ikut sertaan ibu, Iren dan Tarni karena itu berbahaya.


Tapi wajib ikut, mau tidak mau abang harus mengijinkannya untuk ikut bersama kami nantinya."


"sudah jelas kan kak Ani, kakak memang jenius dan selalu menjadi juara dalam hal akademik.


tapi kakak tidak pernah pergi ke hutan, dan wawasan kakak terhadap budaya Batak sangat minim.


nantinya kami yang repot kakak buat, Joan ngak benci kok sama kakak, Joan sayang kali sama kakak.


Selama jantung Joan berdetak, kakak dan mamak akan selalu Joan jaga dan ku sayangi. Joan harap kakak mengerti ya."


Buset dah, dalam amat penjelasan Joan ini. terlihat Rohani kagum terhadap adiknya itu.


"adik kakak yang Tampan."


"ngak usah lebay kak, biasa aja."


Tuh baru aja terasa haru, sekarang sudah jadi tegang lagi.


Joan.... Joan.....


Bu Rida dan Iren hanya tersenyum menanggapi tingkah kakak beradik itu, ya begitulah Joan.


"bang Mora, buruan transfer DP nya ke rekening Joan. diam-diam aja nih aja ni kayaknya.


gimana tim ku buat persiapan jika ngak ada panjar, mikir dong bang."


"biasa aja kali, ngak usah ngegas gitu dong. santai anak muda."


Ucap Rohani yang membela Ku dari kejahilan adiknya, dan Bapaknya Joan hanya geleng-geleng kepala mendengar Nya.


"sini biar amangboru aja."


Ujar pak Didit, dan Joan langsung mendekati pak Didit seraya memberikan nomor rekening kepada pak Didit.


Tidak berapa lama kemudian, notifikasi transfer terdengar dari handphone milik Joan dan Joan langsung bengong melihatnya.


"total keseluruhan Nya itu seratus sembilan puluh lima juta Rupiah, kenapa amangboru transfer dua ratus juta Rupiah.


Lagi gabut ya amangboru? ini kelebihan bayar namanya."


"ngak Joan, amangboru ngak lagi gabut. gunakan aja seperlunya, jika ada sisa nya nanti, ya untuk biaya kita jalan-jalan ke Brastagi itu."


Muach....


Terdengar suara kecupan ke pipi kanan pak Didit dari Joan, setelah mendengar penjelasan dari pak Didit.

__ADS_1


__ADS_2