KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Rumah di Jogja.


__ADS_3

Setelah kami makan bersama dan lebih tepatnya makan siang, kami semua kembali ke ruang tamu.


Tarni yang sudah menyajikan teh khas kampung nya, ikut juga duduk disamping Iren. anak perempuan nya dari pak Didit.


"Sebelum nya masih baik-baik saja, berawal dari mimpi itu yang selalu berulang-ulang, di tambah dengan kejadian aneh dan teror di keluarga ini.


Bapak bingung Mora, apa yang harus bapak lakukan?"


"kita mulai saja dulu dari rumah bapak yang di Jogja ya, kita harus tahu dari awalnya."


"benar kata Mora pa, barusan sudah mama hubungi pak Argap yang menjaga rumah kita di Jogja."


"bagus lah bu, tiket pesawat sudah Mora pesan, nanti jam 5 sore kita berangkat. pakaian Ku dan pakaian Gomgom sudah ready kok."


"pakaian non Iren dan mas Aris sudah Tarni siapkan Bu, oh iya Tarni ikut iya bu." Pinta Tarni yang tidak mau ketinggalan.


"iya Tarni, lagian siapa teman mu disini? pakaian gimana? dah siap?"


"sudah bu, tinggal ibu dan bapak saja. karena Tarni segan untuk menyusun Nya."


"iya sudah, tolong bantu ibu siap-siap ya!"


Bu Rida dan Tarni bersiap-siap, setelah jam 2 kami semua sudah bersiap-siap. berhubung jalanan ibukota negara ini sangat macet, kami langsung berangkat ke bandara.


Benar saja, baru setengah jam perjalanan kami sudah dihadapkan dengan kemacetan ibukota negara ini.


Hampir dua jam dalam perjalanan dan akhirnya kami sampai juga di bandara, setelah membeli oleh-oleh di bandara untuk keluarga pak Argap, kami terlebih langsung cek in dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan.


Akhirnya kami berangkat juga ke Jogja, hanya butuh waktu kurang lebih satu jam dan kami akhirnya sampai di Jogja


Dari bandara ke rumah masa kecilnya pak Didit membutuhkan waktu tiga puluh menit jika tidak macet, dari bandara kami naik taksi.


setelah perjalanan hampir satu jam karena agak macet dan akhirnya kami sampai di rumah masa kecil pak Didit.


Rumah itu sangat klasik, berada diantara beberapa rumah mewah yang sudah modern. dan itu semua adalah milik keluarga pak Didit yang di sewakan karena dekat dengan universitas dan juga rumah sakit besar di kota ini.

__ADS_1


"Pa.... Kok bengong?" ujar Iren kepada Papa nya yang melamun.


Bu Rida langsung memegang tangan kanan pak Didit untuk memberikan beliau semangat, dan pak Argap yang sedang membersihkan halaman rumah menghampiri kami, seraya membuka pintu gerbang dan mempersilahkan kami masuk.


Pak Argap adalah orang kepercayaan pak Didit yang mengurus rumah kalasik, dulu nya pak Argap dan keluarga tinggal di rumah ini, tetapi akhir-akhir ini, beberapa kejadian aneh menimpa mereka, sehingga mereka pindah ke rumah di depan juga adalah rumah peninggalan orang tua pak Didit.


"Bapak, ibu apa kabar nya?" sapa pak Argap dengan logat khas Jogja nya.


"Baik pak Argap, keluarga apa kabar nya pak Argap?"


"Baik-baik aja pak, setelah ibu kabari untuk datang kemari, istri saya sudah menyiapkan kan semua yang bapak perlukan, dan sebentar lagi kemari pak.


Bapak, ibu, Mas Aris, non Iren, mas Mora, dan mbak Tarni dan satu lagi masnya siopo toh?"


Tanya pak Argap yang pertama kali melihat Gomgom datang kemari, aku dan pak Didit sudah sering kemari untuk berbisnis dan sekedar berkunjung.


"Kenalin pak, ini adek saya, nama nya Gomgom, kebetulan lagi libur, makanya saya ajak kemari juga pak."


"Oh....gitu toh mas, pantasan mirip, tapi seperti polisi ya mas." sanggah pak Argap yang memperlihatkan penampilan Gomgom.


Sambil kami bersalaman dengan pak Argap, dan Gomgom hanya tersenyum.


Aris dan Iren Salim ke pak Argap, satu hal yang membuat ku kagum dengan keluarga pak Didit adalah sopan santun yang begitu baik. anggota keluarga pak Didit sangat baik, sopan dan sangat menghargai siapapun itu tanpa memandang status sosial.


"Semuanya mari masuk." pinta pak Argap


Kami semua mengikuti pak Argap menuju ruang tamu, ruang tamu yang rapi dengan rak-rak yang besar. semuanya klasik tapi sangat berkesan mewah.


"Bapak, ibu mohon ijin ke belakang mau buat minuman"


Tarni juga mengikuti pak Argap ke Dapur, sementara kami semua langsung duduk di sofa klasik yang masih terawat dan sejenak kami terdiam, mungkin karena kelelahan, tak berapa lama pak Argap dan Tarni sudah menyajikan teh, setelahnya Tarni duduk disebelah Iren sementara pak Argap duduk dekat mora.


"Kita istirahat dulu ya." ujar pak Didit seraya merebahkan tubuhnya di sofa klasik yang mewah ini.


"Pak... rumah bapak besar juga ya, klasik dan mewah."

__ADS_1


Pak Didit hanya tersenyum menanggapi pernyataan dari Gomgom, terlihat Gomgom memperhatikan sekeliling ruangan ini.


Seketika terlihat seseorang datang, ternyata itu adalah istri pak Argap, namanya mbok Ayu, kemudian mbok Ayu menyalami kami satu per satu. Setelah nya mbok Ayu duduk di dekat Tarni.


"Bapak...ibu....


Nanti semuanya kita di rumah depan ya, karna disini kalau malam seram." ujar mbok Ayu istri nya pak Argap.


"Kenapa mbok...?


"Ntah lah Bu, setiap malam sekitar jam 11 gitu, suara aneh selalu kedengaran dan itu musik Batak, tapi sangat seram." jawab mbok Ayu yang terlihat merinding.


"Mbok Ayu tau dari mana kalau itu musik Batak?"


"Anak mbok yang bilang mas Mora, karna anak mbok itu kuliah seni tari, jadi jelas dia tau jenis musik."


"Iya Bu.... Kadang-kadang sering ada penampakan seperti atok Tarno." ujar pak Argap yang menyahut omongan istrinya.


"Atok Tarno....." tanya pak Didit yang penasaran.


"benar Pak, kan saya juga kenal dengan atok Tarno. tapi wajahnya benar-benar menyeramkan, beda sewaktu masa hidupnya."


"masa hidupnya saja sudah pak Argap, apalagi setelah jadi Arwah." sanggah pak Didit.


Hanya Gomgom yang terlihat tenang, sementara yang lain terlihat merinding dan ketakutan.


"Pak Argap, mbok Ayu, kedatangan kami kesini untuk menyelesaikan semua nya, supaya kembali seperti semula, oh ya pak cangkul dimana?"


"Ada di belakang dekat pohon bunga sakura itu, tapi pak lebih besok saja. karena sebentar lagi mau magrib, dan suara-suara aneh itu mulai terdengar dari Maghrib dan puncak jam 11 malam."


"benar itu pak, kita ke rumah depan saja. anak-anak sudah mempersiapkan makan malam kita." ujar mbok Ayu yang mendukung perkataan suaminya.


Kami setuju dengan saran dari keluarga pak Argap, dan kami semua berangkat ke rumah yang di tinggali keluarga pak Argap.


Begitu sampai di rumah pak Didit, kami disambut hangat oleh kedua putri pak Didit yang bernama Laila dan Tika.

__ADS_1


__ADS_2