
Kesepakatan hari tanggal pernikahan sudah ditentukan, sinamot atau mahar sebesar lima puluh juta rupiah sudah sah.
Acara marhusip ini sekaligus membahas tentang sinamot.
"begini bere (keponakan), tulang (paman) menginginkan pernikahan kalian berdua di berkati di gereja.
Berhubung Mora sudah dibabtis dan mengaku percaya di gereja protestan, dan itu masalah bagi tulang.
Tulang hanya menginginkan pernikahan boru (putriku) ku ini di gereja.
Jika nantinya bere memilih agama parmalim nantinya silahkan, tapi untuk pernikahan ini tulang berharap di gereja."
(agama parmalim adalah agama asli suku batak, atau disebut juga penghayat kepercayaan).
Bapak menoleh mamak lalu mamak memberikan kode berupa kedipan mata. kemudian bapak menoleh Ku.
"bang Mora, kami semua sudah resmi menjadi agama Kristen protestan. Sekarang terserah kamu Mora.
Mora sudah dewasa dan anak pertama bapak, bahkan bapak selalu mendapatkan pencerahan dari bang Mora.
Menurut bapak, bang Mora adalah pria yang bijak, abang yang dapat diandalkan untuk adik-adiknya dan terlebih-lebih kami orang tua mu."
"Mora juga ngak yakin mengenai agama parmalim pak, Mora hanya mengagumi agama itu karena merupakan percampuran budaya dan keyakinan.
Sejak kecil juga Mora sudah diperkenalkan tentang ajaran Kristen, walaupun Mora ngak pernah gereja tapi setidaknya sudah dibabtis dan sudah mengaku percaya.
Mora tidak keberatan untuk pemberkatan pernikahan di gereja, dan bersama Rohani nantinya kami akan selalu ke gereja."
Joan tepuk tangan yang diikuti oleh yang lainnya setelah mendengarkan pernyataan dariKu.
"Untuk gedung, undangan, catering, musik, syuting video dan juga photo. itu urusan Joan.
Untuk adat nya, urusan Uda pak Daren, amangboru pak Robert dan amangboru pak Mora.
Menyebarkan undangan itu urusan Joan, mama dan bou.
Dibantu oleh bang Gomgom dan kak Cahaya, sementara kak Iren, bang Aris, amangboru pak Aris Aris dan bou membantuKu untuk membuat dekorasi dan juga mempersiapkan makanan.
Ada yang komplain?"
Tidak ada yang komplain dengan ucapan dan pembagian tugas dari Joan.
"sor kali Uda nengok kau Joan, paten kali ku lihat.
Berikan waktu dua hari untuk mengurus keluarga kita, gereja dan tata cara adat nya."
"saya juga suka kali liat Joan ini bah, benar-benar paten ya pak Daren.
Untuk paranak (keluarga pihak laki-laki), biar saya yang mengurus, raja parhata (pembawa acara adat).
__ADS_1
berikan saya waktu dua hari juga, agar kita melaksanakan martuppol sekaligus marhata sinamot nantinya."
(martuppol adalah tunangan atau mengikat janji di gereja sebelum melangsungkan pernikahan dan marhata Sinamot adalah negosiasi ulang mahar serta penyerahan mahar kepada pihak keluarga mempelai perempuan).
Kesepakatan demi kesepakatan telah disepakati.
"sebentar dulu, dek....
gimana dengan koas mu? sudah capek-capek kuliah kedokteran dan itu bagaimana?
Abang sanggup memberikan nafkah serta anak-anak kita nantinya tanpa kamu bekerja, tapi apa ngak sayang sekolah kedokteran mu itu dek?"
"tenang bere (keponakan).....
nantulang sudah mengaturnya, calon istri mu ini akan koas di Jakarta, dan rumah sakitnya dekat dengan tempat tinggal pak Aris.
Kalau belum dapat disekitar itu, ngontrak aja dulu.
Nantulang sangat berterimakasih sama mu mang, karena memberikan kesempatan kepada Rohani untuk menjadi dokter.
Jika nanti istrimu hamil, ya berhenti lah sebentar, setelah melahirkan baru lanjut lagi. tidak ada kata terlambat untuk semua itu."
Ujar calon ibu mertua ku, dan terlihat Aris sibuk membuka tasnya dan kemudian mengeluarkan map kuning dan diberikan kepada bapaknya.
Kemudian pak Didit menghampiriku, lalu di susul oleh bu Rida, lalu bu Rida meraih tangan Rohani kemudian mengisyaratkan untuk duduk disamping Ku.
Mereka berdua duduk berhadapan denganku, dimana Rohani sudah duduk disamping kananKu.
Lanjutkan pah...."
Agak lucu memang pasangan suami istri ini, kini air mata pak Didit malah mengalir deras di pipinya dan dengan kocaknya Joan langsung memberikan tissue untuk pak Didit.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Pak Didit tidak jadi menangis setelah kami tertawa.
"Mora adalah anak bapak, kebetulan yang disamping rumah kita itu sudah pindah ke luar negeri karena berhasil menjadi duta Indonesia di Thailand.
Bapak membeli rumah nya untuk kalian berdua, orang tua mu ini tidak mau jauh dari kamu bang Mora.
Semua perlengkapan rumah sudah lengkap dengan yang baru, ini sertifikat rumah nya dan juga surat pajak nya."
Sangat terharu dengan sikap pak Didit dan istrinya, dan keharuan itu harus berakhir karena Joan langsung meraih sertifikat itu dari tanganku.
"amangboru....
bou......
Hadiah ini nanti diberikan saat pernikahannya, karena ada sesi pemberian hadiah pernikahan.
__ADS_1
Orang Batak identik dengan pamer, nanti amangboru dan bou pamer nantinya ya.
Sertifikat ini Joan tahan dulu, nanti diberikan waktu sesi pemberian hadiah pernikahan."
Kami semua saling bertatapan satu sama lainnya dengan tingkah Joan, dan sertifikat itu dimasukkan lagi ke tas Aris.
"apa kak Ani? kakak tenang aja. biar Joan yang mengatur semuanya.
Kakak tenang dan jangan stress, fokus sama bang Mora aja ya."
Lagi-lagi kami tertawa lagi dengan semua tingkah Joan.**
Pagi-pagi sekali Joan sudah tiba di rumah ini dengan kakaknya yang membawa tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan yang lengkap dengan peralatan kamera serta alat make-up.
Untungnya aku sudah mandi dan telah sarapan.
"bang Mora, kita harus pergi ke suatu untuk photo prewedding.
Kak Iren mau ikut?"
Dengan malu-malu Iren mengganguk setuju tapi Aris harus ikut.
"amangboru dan bou, nanti akan ada anggota Joan yang membawa amangboru dan bou untuk melihat gedung sekaligus memilih mencicipi hidangan disana. Nanti akan ditemani mamak.
Kalau begitu kami pamit dulu ya."
Kami berangkat ke suatu taman yang indah dan sejuk, kemudian melakukan photo prewedding disana.
Joan sudah menyiapkan segalanya, dan kami hanya tinggal melaksanakan.
Akhirnya sesi photo prewedding selesai, Rohani terlihat begitu cantik dan bahagia setelah selesai melaksanakan sesi prewedding dan juga video untuk keperluan undangan online sekaligus kenangan.
"tempatnya bagus banget ya, segar dan indah. tapi lapar juga."
"tenang bang Aris, di sudut taman ini ada kafe dengan menu yang enak.
Yuk kesana, karena Joan sudah booking tempat dan pesan makanan yang paling enak disana."
Lalu kami pergi ke kafe itu berserta dengan kru photography nya.
Tidak tanggung-tanggung Joan memesan kursi yang panjang untuk kami makan siang dan benar-benar enak sajiannya ditambah lagi pemandangan yang luar biasa indahnya.
"iya ampun Joan, lihat ini tagihan ini. tujuh juta rupiah."
"issh......
langsung keluar jiwa-jiwa pelit nya, kakak kasih aja sama bang Mora, itu aja kok repot."
Kami hanya tertawa dengan jawaban dari Joan.
__ADS_1
Calon Istriku yang cantik itu hanya bisa mengelus dadanya melihat tingkah adiknya yang rada-rada aneh.