
kami berangkat dari penampungan warga di aula kecamatan sekitar jam 1 siang setelah selesai makan siang.
Rohani mengabari ku kalau pak Didit dan Aris belum sadarkan diri.
Gomgom sudah aku hubungi untuk mencari ayam hitam sesuai dengan yang disampaikan oleh Oppung Doli Dison.
Berhubung jalan lancar, akhirnya kami sampai Juga di rumah.
Setiba di rumah, mamak langsung menyuruh kami mandi dan pakaian yang kenakan harus di bakar.
Saya tidak tahu tujuan untuk apa, tapi saya patuhi saja.
Selesai Mandi dan berpakaian, bersama Gomgom langsung menuju Apertemen dimana keluarga pak Didit tinggal.**
"Syukurlah Abang sudah sampai, Ani bingung mau ngapain.
bapak dan Aris sudah aku Infus, supaya ketika sadar mempunyai tenaga."
Rohani langsung menyambut ku, terlihat rasa kwatir dari sorot matanya.
"Bagus, bapak dan Aris harus kuat."
Hanya Joan yang terlihat tenang sambil mengunyah peyek buatan Tarni.
"Abang bawa apaan tuh? kepalanya kemana Bang?"
Joan terlihat merinding ketika melihat ayam hitam tanpa kepala yang aku bawa beserta darah yang di bungkus dalam plastik.
"ngak usah bising, ambilkan bulan mangkok dan piring."
"Abang mau masak ayam hitam ini?"
Seketika itu juga Rohani langsung mencubit nya, hal itu karena Joan terlalu banyak bertanya.
Terakhir Tarni yang mengambil mangkok besar dan piring.
Ayam tanpa kepala itu aku letakkan dalam mangkok, sementara darahnya didalam piring. kemudian meletakkan di sudut ruangan Apertemen ini.
"bang Mora sini lah?"
Joan memanggil ku dan dia langsung duduk diantara pak Didit dan Aris, toples yang berisi peyek di letakkan nya di dada pak Didit.
"tangan amangboru ini dan bang Aris, akan bergerak ketika Joan panggil. liat ni bang.
amangboru.... oh amangboru.....
Kapan nya amangboru bangun? ngak jadi kita pergi ke Brastagi?
Jangan lah pura-pura tidur amangboru, bosan kali ini disini. bangun lah....."
pak Didit benar-benar bergerak, tangan dan kakinya merespon nya.
__ADS_1
"gerak kan bang, lihat nih biar kita coba ke bang Aris ya.
bang Aris.... oh bang Aris, bangun lah. dah jam brapa ini?
Abang bilang mau pergi kita ke toko gitar itu, bang Aris ..... oh bang Aris.....
Creak...... creak....... ' bunyi dari mulut Joan yang mengunyah peyek.'
Hadeh.....
ini Joan benar-benar ya, bisa-bisanya dia masih sempat makan peyek dalam keadaan seperti ini.
Tapi Aris benar-benar memberi respon ketika Joan memanggil nya.
"begini lah bang, papa dan kak Aris hanya bisa bergerak ketika Joan memanggil nya."
Joan langsung menoleh Iren, seolah-olah ada salah dengan ucapan Iren.
"kek mana nya kakak, bang Aris ini laki-laki loh, masa di panggil kakak?
Lihat nih punya bang Aris yang nongol dari dalam celana nya." * dialog Medan.
(kek mana\= bagaimana mana sih)
"Joan....."
Rohani meneriaki adiknya, karena menunju ke arah kelamin Aris yang terbaring di kasur. rupanya hanya masalah panggil kakak.
Bu Rida hanya tersenyum mendengar omongan dari Joan dengan segala tingkahnya yang aneh.
gimana? apa ada solusinya?"
Bu Rida bertanya dan sorot matanya yang terlihat kelelahan.
"warga desa Aek Holong saling bahu-membahu untuk memutuskan kutukan Begu ganjang ini Bu, mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk memutuskan kutukan ini."
"itu ayam Hitam tanpa kepala untuk apa? kak Ani itu infusnya kayak nya sudah habis deh."
Joan bertanya seraya dari ranjang dan lebih memilih duduk disamping Bu Rida, karena takut di cubit kakak nya.
Pariban itu langsung bertindak, infus tersebut di ambilnya. tapi jarum penghubung ke nadi pak Didit dan Aris tidak di cabut nya.
"kenapa jarum yang di tangannya ngak di cabut dek?"
"infus sudah cukup dulu bang, infus ini hanya untuk berjaga-jaga sebagai penguat tenaga untuk bapak dan Aris.
jarum itu tertinggal untuk antisipasi membutuhkan Infus lagi, jika bolak-balik menusuk nadi takutnya tangan akan bengkak.
Jarum itu berfungsi untuk menyuntikkan obat yang akan diperlukan nantinya."
"oh begitu kak Ani, bang Mora.... itu ayam Hitam untuk apa?"
__ADS_1
Joan kembali mempertegas pertanyaan nya setelah Rohani selesai menjelaskan tentang infus dan jarum tersebut.
"bapak dan Aris sedang berada di alam lain, dan saat ini bapak dan Aris sedang bertarung dengan iblis peliharaan dari ahli waris yang lainnya."
"seram ya bang, Abang tahu dari mana?"
"dari Oppung Dison, beliau adalah Pemangku Adat yang bisa membantu kita untuk memutuskan kutukan ini."
"oh......
Penjelasan Abang kemarin, kalau pemuja Begu ganjang itu di bakar hidup-hidup waktu itu dan dua anak kabur.
Amangboru inilah yang menjadi keturunan dari anak pemuja Begu ganjang yang kabur itu.
jika semua keluarga amangboru ini ke desa itu, apakah mereka akan membakar amangboru dan keluarganya bang?"
"tidak Joan, malahan mereka bersyukur jika keluarga dari waris Pemuja Begu ganjang ini datang ke sana dan memutuskan kutukan ini.
jika mereka masih melakukannya, maka mereka akan mengalami penderitaan yang lebih dahsyat lagi dari kejadian ini."
"bang.....
apakah suatu keharusan amangboru dan keluarganya kesana? apa tidak bisa diselesaikan dari sini aja?"
"harus Joan, dan ini harus diselesaikan tepat di kediaman pemuja Begu ganjang yang pertama kali."
"itu dimana bang? apakah di kampung Abang itu?"
"tidak, tapi di kampung Aek Simarmata. di samping air terjun."
"jauh itu dari kampung Abang itu?"
"kalau jalan kaki sekitar 1 jam, karena akses ke kampung tersebut sudah tidak memadai untuk dilalui kendaraan."
"apakah amangboru dan keluarganya yang kesana? maksudnya apakah warga desa Aek Holong akan menemani keluarga amangboru ini?"
"Abang yang menemani bapak dan keluarga ke sana, yang di dampingi oleh Oppung Doli Dison.
Warga desa Aek Holong akan melakukan beberapa ritual adat di desa Aek Holong untuk membantu kami nantinya."
"begitu ya bang, syukurlah setidak amangboru di temani oleh Abang.
oh ya, kenapa harus Abang? Kenapa ngak warga desa Aek Holong aja secara beramai-ramai?"
"saat Abang pingsan di rumah sakit karena melihat tanda lahir di pundak bapak dan Aris. dan saat itu juga Abang bermimpi tepat berada di air terjun Aek Simarmata.
Ada sepasang kakek dan nenek yang mengatakan kepada Abang, kalau Abang harus membawa keturunannya ke sana.
Menurut keterangan salah satu penduduk desa Aek Holong, seorang nenek yang sudah sepuh berkata.
kalau abang adalah orang yang dipilih untuk membantu waris pemuja Begu ganjang memutuskan kutukan ini."
__ADS_1
"nenek sepuh itu canggih ya bang, terus apakah sudah ada warga yang masuk ke desa Aek Simarmata itu?"
Semua perhatian tertuju kepada Joan, karena pertanyaan yang langsung berhubungan dengan peristiwa ini.