
Bapak juga menatapku dengan raut wajahnya yang penasaran, demikian juga dengan Tulang pak Rohani.
"saat itu aku melihat tanda di bahu kanan dari Didit, dan sinar kilau menyelimuti pandangan ku pak.
Tiba-tiba saja sudah berada di suatu tempat, di dekat air terjun yang sangat indah dan menakjubkan.
kemudian Aku menikmati indah pandangan itu, air terjun itu begitu nyata. sejuk dan rimbun pohon disekitar membuat suasana semakin sejuk.
Sepasang kakek dan nenek yang berkata, *bawa kemari keturunan Ku, ketempat ini. ingat tempat ini.*
mimpi ku berakhir karena suara adikku yaitu Gomgom yang memanggil Ku, persis seperti panggilan Gomgom waktu kecil."
"uhmmm....
Pung.... kamu harus ikut menyelesaikan nya, kamu harus membawa waris parbegu ganjang itu ke air terjun itu.
Nanti oppung Doli Dison akan membantumu, persiapan dirimu."
"apa yang harus Mora persiapan?"
Sejenak pak Sion terlihat seperti berpikir, lalu menolehku kembali.
"saya kurang lebih tepatnya, tapi siapkan mental mu dan selalu waspada."
"baik lah oppung, saya paham maksud oppung."
Sejenak suasana menjadi hening, terlihat beberapa penatua Marga yang ada di penampungan ini menghampiri kami.
"kamu Mora kan?"
Beliau adalah oppung Doli Sarma, Aku masih mengenali nya. karena oppung ini sering mengajariku main gitar saat berkunjung ke kampung ini.
Berdiri lalu memeluknya, terlihat wajahnya yang keriput terukir rasa ketakutan.
"oppung dari mana?"
Oppung Doli Sarma kemudian tersenyum, giginya yang sudah banyak copot tapi semangatnya yang luar biasa. senyuman itu begitu ikhlas.
"dari Aek Simarmata, kami tiga orang ke sana dan hanya oppung yang selamat.
Dua orang lagi tertelan kabut putih yang tebal itu. sudah satu harian Oppung menunggunya tapi tidak muncul juga.
Tapi ada yang teriak dan suara itu seperti oppung Doli Sean.
Suara itu menyuruhku segera pergi dari tempat itu."
__ADS_1
"emangnya oppung ngapain disana?"
"untuk mengambil tanah dan air dari Aek Simarmata, dari antara gubuk peninggalan par Begu ganjang itu.
Tanah dan air itu memenuhi keperluan Oppung Doli Sanggap, untuk memutuskan hubungan parbegu ganjang dengan keturunannya agar kampung bisa aman kembali."
Terdiam dan kemudian menarik napas dalam-dalam, mungkin karena sudah termakan usia sehingga napas nya terkadang tersengal-sengal.
"kenapa oppung berani kesana? dan apa masih ada kemungkinan kalau teman oppung tadi masih hidup?"
"oppung disini adalah pendatang baru, jadi secara otomatis oppung tidak hubungan nya dengan mereka yang membakar parbegu ganjang tersebut.
Sementara dua teman oppung tadi sudah pasrah, sebenarnya oppung sendiri kian nya yang mau ambil.
tapi mereka berdua ikut, demi warga desa Aek Holong.
Menurut mereka berdua, oppung mu ini sudah terlalu tua. nantinya mereka berdua yang turun ke air terjun untuk mengambil air nya.
Oppung hanya menunggu diatas, pertama oppung Leo berhasil melempar tanah dari gubuk itu yang sudah di bungkus kain, dan kemudian membantu Oppung Sean untuk mengambil kendi lalu mengisinya dengan air.
Air dan tanah sudah di tangan Oppung ini, tapi tiba-tiba kabut tebal, sehingga mereka berdua menghilang.
Namanya terus menerus oppung panggil, tapi tidak menyahut. dan beberapa saat kemudian terdengar suara dari Oppung Sean yang menyuruh oppung untuk segera pergi.
"kenapa ngak oppung Doli Dison yang mengambil nya?"
"Mora.....
Suara oppung Doli Sarma begitu pelan saat memanggil namaKu dan tatapan yang begitu syahdu.
"kalau nanti oppung Doli Dison yang mengambil nya dan jika kabut itu membawanya pergi, terus siapa yang akan membantu waris par Begu ganjang itu mengakhiri semua ini?
Kami bertiga sudah bersiap untuk mati, toh juga kami bertiga sudah sangat tua. anak cucu kami lebih penting.
Sedih memang kehilangan oppung Doli Seon dan Oppung Doli Leo, karena teman oppung pasti akan berkurang.
Tapi semua demi anak cucu kami, masa depan mereka masih panjang.
tidak ada yang menginginkan peristiwa ini, tapi apa boleh buat. namanya juga musibah, dan saat ini kita bisa menyalahkan siapapun.
Kita hanya perlu bertindak tanpa saling menyalahkan, lebih cepat lebih baik.
Sebab Kebun, ladang serta ternak kami sudah terlantar. dan itu adalah sumber penghasilan kami warga desa Aek Holong."
Suaranya semakin pelan dan air matanya mengalir di pipinya yang sudah berkerut itu, semoga pengorbanan nya dan pengorbanan oppung Doli Leo dan Oppung Sean tidak sia-sia.
__ADS_1
"Mora, tolong jaga waris parbegu ganjang itu. hanya itu harapan kami."
"pasti oppung, dan semua ini harus berakhir tanpa ada penderitaan lagi."
"Amin...."
Secara kompak kami berkata Amin, dengan harapan semua berjalan dengan baik.
"oppung Doli, bagaimana keadaan desa Aek Simarmata itu?"
"oppung bingung menjelaskan nya, mungkin kedua mata oppung ini yang sudah rabun sehingga sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata.
Selama kami bertiga berjalan menelusuri jalan kampung itu, terlebih seperti kampung yang normal pada umumnya. persis seperti kehidupan kampung Aek Holong.
Tapi kemudian berubah menjadi hutan rimba, dan seketika hanya terlihat puing-puing rumah yang sudah lapuk di makan usia.
begitu seterusnya berulang-ulang, kemudian oppung bertanya kepada teman oppung. dan mereka malah melihat kebun kopi yang berbuah dan siap petik.
Sementara oppung Doli Sean hanya melihat hutan rimba biasa."
Penuturan dari Oppung Doli Sarma ini persis seperti dalam mimpiku, semuanya berubah-ubah.
kadang seperti perkampungan pada umumnya dan kemudian berubah menjadi hutan belantara lalu berubah seperti bekas perkampungan yang sudah bertahun-tahun terbengkalai.
"oppung, apa yang Oppung sampaikan barusan persis seperti mimpi Ku."
"kalian berdua adalah harapan dari waris parbegu ganjang itu, kalian berdua yang di tunjuk untuk membantu nya.
Oppung Doli Sarma sudah selesai bertugas, sekarang giliran mu pung."
Tiba-tiba saja seorang nenek-nenek yang sudah sangat tua menyahut omonganku, kata bapak, nenek tersebut sudah berumur 100 tahun lebih.
Biasa di panggil Oppung Boru Isma, sebenarnya aku kurang paham maksud dari perkataan Nya karena bahasa Batak yang banyak tidak saya pahami.
Bapak yang menjadi penerjemah nya, sehingga bahasa tersebut tidak menjadi masalah lagi .
Akhirnya kami di minta untuk segera pergi penampung sementara ini, karena pak Didit sedang membutuhkan ku di samping nya.
Sebenarnya bingung dari mana oppung boru Nisa ini mengetahui hal tersebut.
Kami di berangkat oleh warga yang berada di tempat penampungan ini.
Mereka berharap kepada kami agar bisa membawa pak Didit dan keluarganya ke desa Aek Holong untuk memutuskan Begu ganjang yang telah membuat mereka menderita.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena daerah ini masih pemukiman warga.
__ADS_1