KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Diskusi


__ADS_3

Akhirnya sampai juga di rumah keluarga pak Didit, Bu Rida kemudian memeriksa betis Aris. betis nya sudah membaik, perban nya sudah dilepas, jalannya sudah normal kembali, sesampai di rumah kami langsung duduk di sofa ruang tamu, sementara mbak Tarni dan bu Rida langsung ke dapur.


"Bang Mora, Terimakasih ya bang karena sudah bersama keluarga kami ini, dan terimakasih juga karena selalu memberikan kepada Papa dan kami semua."


"sama-sama Aris, Abang sudah menganggap keluarga ini sebagai keluarga Abang juga.


Orang tua Abang menasihati, kalau di hidup di perantauan itu harus mencari orang tua. Abang sudah menemukan nya, yaitu keluarga ini, yang selalu membuat Abang nyaman dan serasa hidup bersama keluarga Abang sendiri."


Aris langsung memelukku, dan terlihat raut wajahnya pak Didit begitu terharu.


"nginap disini kan bang?"


"iya ris."


Rasa nya senang karna bang Mora menyetujui permintaan ku, memang bukan cuman sekali ini bang Mora nginap disini, sudah sering dan selalu tidur di kamar ku dan ranjang nya memang sengaja di beli yang bertingkat.


Bukan hanya sekali aku nginap disini bahkan sering, dan Aris berbagai kamar denganKu. tempat tidurnya sengaja di buat bertingkat.


"Jujur, saat baru pertama kali bertemu dengan Abang, Aris merasa aneh terhadap Abang.


Logat Abang yang aneh, dan suara Abang yang kuat.


Tapi Abang memberikan kasih sayang kepada Aris dan Iren serta ke Papa dan Mama.


Jujur, Aris sering cemburu melihat Mama, Papa dan Iren yang selalu memberikan kasih sayang kepada Abang.


Tapi akhirnya Aris menyadari, kalau Aris juga mendapatkan kasih sayang yang lebih dari abang."


"Aris.... Aris.....


Abang hanya merasa kalau Aris seperti Gomgom, dan Iren seperti Cahaya.


Adik-adik Abang memang selalu bermanja-manja kepada Abang, seperti Gomgom kemarin kan. tidak tahu tempat dan kondisi tapi mintak makan!


Itu karena Gomgom merasa ada Abang di samping nya."


Aris, Iren dan pak Didit hanya mengangguk dan seraya tersenyum.


"Oh ya pah...nanti di Medan kita tinggal dimana?


Aris melirik Papa nya, begitu juga dengan Iren. dan mbak Tarni pun datang menyuguhkan minuman buat kami, dan pak Didit kemudian menoleh Ku.


"Tenang Ris...


Jika keluarga pak deh yang di Medan tidak memperbolehkan kalian tinggal di rumah nya, ada apartemen teman Abang kebetulan dekat dengan rumah kami. dan itu sudah Abang booking."


"Kren juga ya bang Mora punya teman yang punya apartemen?"


"Ngak gitu juga Iren..


Dulu...waktu kuliah Abang itu sambil kerja, jadi saat itu Abang juga ber investasi di salah Bank, dengan tabungan harian.


Dan tanah kakek di kampung kena proyek dari pemerintah untuk membangun bendungan.


Nah.... oppung membagikan nya kepada kami cucu nya, uang tabungan Abang yang selama ini ku gabung dengan uang dari oppung itu untuk membeli tanah, lumayan juga luas nya, dan diatas tanah tersebut sudah dibangun apartemen dengan bagi hasil.


"Wauuu wauuuu""


Mereka semua pun kagum dan terheran-heran, mbak Tarni sedari tadi berdiri ikut berdecak kagum. Dan kemudian Bu Rida pun datang dan menghampiri kami.


"Masakan dah siap kalau makan bilang ya."

__ADS_1


"Ok"


serantak pun kami menjawab


"Bu....pak.... mas Mora , mas Aris dan non Iren mbak ikut ya Medan"


Tarni terlihat sangat berharap untuk ikut kami ke medan, dan Mama pun menoleh ke arah nya.


"Iya Tarni, lagian nanti teman mu disini siapa, nanti biar pak Tilan dan istri nya Mpok Isna aja yang kemari setiap hari seperti biasanya sambil bersih-bersih"


seketika wajah Tarni sumiringah, pak Titan adalah tukang kebun keluarga pak Didit yang membersihkan semua halaman rumah, dan Mpok Isna cuci gosok, datang pagi dan pulang sore nya, sementara mbak Tarni tinggal bersama tinggal disini bersama keluarga pak Didit.


karna ini adalah komplek mewah, security selalu monitoring setiap rumah jadi tidak perlu kwatir, akan keamanan.


"mas Mora, kenapa ngak di rumah bang Mora aja kita tinggal?"


"Nanti ngak muat mbak Tarni, bapak kami itu anak yang paling besar pasti lah nanti saudara-saudara dari adek-adek nya bapak nginap di rumah."


Tiba-tiba saja handphone ku berdering, kini nada panggilan nya sudah Aku ganti.


"Bang....siapa yang nelpon?


'tanyak Aris yang penasaran setelah aku selesai menerima telepon dari Gomgom.


"Gomgom.....


Katanya dia ijinkan libur selama lima hari dan nanti sore berangkat, dan langsung ke Medan.


"Oh......


"Dah jam tujuh nih makan yuk?


Iren melirik kami satu per satu, dan kami langsung menganggukkan setuju, kami langsung menuju ruang makan.


Setelah selesai makan kami beranjak ke ruang tamu.


"Pak..Bu.... Nanti barang-barang yang kita temukan itu biar saya yang bawa ke rumah, ntar secara perlahan saya ngomong sama bapak untuk mencari gimana jalan keluar nya.


Sementara bapak dan keluarga diskusi dengan keluarga pak pak deh yang di Medan, barang kali ada yang sesuatu yang kita tidak ketahui."


"Iya bang....... Aris setuju."


"Seharusnya gitu, Karna kemarin kata Bapak di telpon, semua waris pemuja Begu Ganjang harus berkumpul dan keturunan keluarga lainnya harus ngumpul juga."


pak Didit dan istrinya, Iren dan Tarni mendengar dengan serius dan penuh dengan tanya, dan kami pun melirik pak Didit secara bersamaan.


Pak Didit yang terdiam sedari tadi membuat kami semua sangat kwatir.


"Pak....kita akan bersama-sama menyelesaikan sampai selesai, Mora akan bersama keluarga kita ini sampai selesai dan kita kembali seperti semula."


Dan kami pun langsung berpelukan, kehangatan dari keluarga ini sangat terasa, dan langkah mbak Tarni membuat kami melepaskan pelukan kami.


"Mbak mau ke dapur buatin minuman ya"


"Iya Tarni."


Jawab mama sambil tersenyum ke arah mbak Tarni, mbak Tarni sudah hampir enam tahun kerja di rumah ini, hanya setiap lebaran mbak Tarni pulang kampung, mbak Tarni itu adalah tulang punggung keluarga nya, mbak Tarni bekerja keras untuk membiayai adek-adek nya yang masih sekolah.


Dan tiba-tiba handphone handphone Ku bergetar, dan itu adalah pesan WhatsApp dari pariban Ku yaitu rohani.


Photo Wisuda nya begitu cantik, Rohani terlihat Anggun dan menawan.

__ADS_1


"Oh......kak Rohani, cantik ya bang." ujar Iren yang tiba-tiba sudah duduk didekat Ku.


Begitu dengan Bu Rida kepo nya langsung melihat, sambil mengambil handphone dariKu.


"Oh...ini Rohani pariban mu itu nak?


Cantik ....


"Cie...cie ....bang Mora malu-malu.


Iren nyeletuk dengan tingkah jailnya, dan situ membuat malu.


Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Akhirnya kami tertawa lagi, karena Iren yang nyeletuk begitu saja.


Ternyata LDR itu tak selamanya buruk, tergantung dari orang nya, yang terpenting adalah kepercayaan.


Mbak Tarni sudah di depan kami, sambil menyuguhkan minuman buatan nya dan juga cemilan.


"Mas Mora kenapa Bu, kok muka nya merah gitu?"


Mbak Tarni memandangi wajah ku dengan raut wajah terheran.


"Ini pariban nya Mora mengirim photo nya ke Mora."


dengan kepo nya mbak Tarni pun melihat handphone Ku yang masih ditangan bu Rida.


"Cantik ya Bu"


Bu Rida hanya mengangguk aja, karena merasa malu ku tutupi wajah ku dengan kedua telapak tangan ini.


"Dah ah....jangan buli trus Abang nya"


Bu Rida akhirnya membela Ku dan mengembalikan handphone MilikKu.


"Mora.... Gimana rencana kita selanjutnya.?"


Tanya pak Didit setelah kami semua tenang kembali.


"Gini pak, besok pagi saya ke kantor dulu, nah habis itu kita langsung ke Medan, tadi sudah ku cek tiket pesawat ke Medan, penerbangan jam tiga sore sudah ku booking, dan apartemen yang di Medan sudah ku booking juga yang mempunyai kamar tiga.


Habis dari kantor, saya akan ke rumah dulu pak, untuk mengambil pakaian ku dan keperluan lainnya, habis itu saya ke sini lagi, dan dari sini kita berangkat bersama-sama pak.


"Ya dah kalau begitu, besok bapak ikut Mora ke kantor"


"Ngak usah pak, kasian ibu dan adek-adek pak, lagian saya ngak lama kok pak."


"Baik lah kalau begitu, Aris kapan wisuda mu?"


"Blum tau pak, blum keluar jadwal nya"


"Iren sekolah mu gimana sayang?"


"Kakak-kakak kelas ujian pak, jadi kami adek-adek kelas nya di liburkan.


kemudian Bu Rida pun berdiri, dan melihat ke arah kami satu per satu.


"Aris, Iren dan Tarni sana beres-beres pakaian kalian, habis itu istirahat ya.


Iren pun memegang tangan nya mbak Tarni.

__ADS_1


"Mbak.....kita ke kamar mbak dulu ya beres-beres. habis itu ke kamar nya Iren, kita tidur di kamar Iren aja ya mbak"


Iren menggandeng tangan nya mbak Tarni sambil menuju ke kamarnya mbak Tarni, sementara Aris langsung mengajak Ku masuk kamar.


__ADS_2