
POV pak Didit.*
"Aris.... Kakak punya adek laki-laki tapi masih SMA nama nya Joan, tapi anaknya rese, mau kakak panggilkan kemari?"
Ujar Rohani yang berkata agak ragu, karena adik laki-lakinya rese.
"Mau kak....
Biar ada teman ku, takut juga tidur sendirian, apalagi ini tempat baru seperti ini. kalau masalah rese itu sudah biasa kak.
Nih Iren, rese, sok tahu dan sok akrab. tetap bisa Aris handle."
"Eh..... " jawab Iren yang menyanggah omongan Kakaknya.
Dengan julid nya Iren mengulur kan lidahnya kepada kakak nya Aris, tapi Aris hanya terdiam, terlihat rohani mengeluarkan handphone nya lagi dan menghubungi seseorang.
"Halo..... Joan.....
Kemari ya, ke apartemen bang Mora, jangan lupa bawa tas kakak yang di kamar dan bawa lah baju ganti mu ya."
Ternyata rohani menelpon Joan adik nya itu, dan rohani juga melihat ke arah Mora.
"Bang Mora....
Nanti pulang nya sama Joan aja ya, barang Abang kan dikit jadi bisa lah naik Kreta, sama Joan."
"Naik kreta kak, mangnya rumah kakak dari sini jauh, trus parkir nya dimana?"
Hahaha hahaha hahaha hahaha hahaha
Hahahaha hahahaha hahahaha hahaha
Mora dan rohani tertawa lepas sambil melihat ke arah Iren, sementara kami hanya terdiam heran.
Mangnya bang Mora ngak bilang (menyampaikan) ke Iren, kalau motor di Medan di bilang Kreta?"
"Ngak kak...."
"Di Medan ya.....
Motor di bilang Kreta, mobil di bilang motor, pasar dibilang pajak, sandal dibilang selop, uhmm apalagi ya."
" Sebut menjadi bilang...
Aris yang sedari tadi tertawa akhirnya nimbrung juga.
Lagi dan lagi kami tertawa, Sejenak melupakan semua masalah yang terjadi.
Dan tak berselang lama bel pun berbunyi,
Rohani membuka kan pintu tersebut, dan rohani terlihat bersama seorang anak laki-laki yang masih sangat muda.
"Bapak, ibu, Aris, Iren dan mbak Tarni, ini Joan adek Ku."
Joan pun bersalaman kepada kami satu satu per satu, dan terakhir memeluk Mora, seperti nya mereka sangat akrab.
"Joan, sini tas kakak, jadi kamu bawa baju ganti mu kan?"
"Ada kak di dalam tas kakak, nanti kakak keluarin ya."
"Iya....dasar pemalas, bukan di buat dalam satu tas lain."
"Ribet kakak ku cerewet."
seketika Mora pun melotot ke arah Joan, dan Joan pun hanya tersenyum menanggapi sorot mata Mora.
"Hmm bang Mora langsung marah...
Bang Mora pulang yuk, Abang dah di tungguin."
__ADS_1
Ucap Joan untuk mengalihkan sorot mata dari Mora.
"Ngapain pula Abang di tungguin?"
"Kan Abang pahoppu panggoaran gimana sih?"
"Bang Mora pahoppu panggoaran itu apa?
Iren bertanya seraya melihat ke arah Mora dengan mimik wajah yang ingin sok tau.
"Pahoppu panggoaran itu adalah cucu yang paling besar."
Oh....oh.......
'Iren hanya mengucapkan kata oh....
"Pak, Bu, Aris, Iren dan mbak Tarni saya pamit dulu ya. Joan ayok."
"Ayok..... ayok... kunci mobil yang Abang pegang kasih lah sama kak Ani."
"Oh iya lupa." sanggah Mora seraya tersenyum.
"Joan, nanti kalau mau balik kemari tolong belikan, di rumah makan Mandailing yang di persimpangan itu.
Ikan arsik, lele saleh nya, daun ubi tumbuk, ayam pop nya, ayam gule nya, ayam panggang, lalapan rebus, jangan lupa bilang siram pake kuah kacang dan juga yang seperti biasa, trus disamping rumah makan ada jualan pisang sisir, dan martabak Mesir serta kacang rebus ya."
Seketika Joan hanya bengong mendengar keinginan Kakak nya itu.
"Kak....ngak sekalian rumah makan nya ku bawa kemari?"
"Kalau bisa bawa aja." jawab Rohani kepada Joan.
Dengan ekspresi mengejek dari Joan ke kakak nya itu membuat kami tertawa lagi
"Dek.... Nanti wa kan aja ya, pesanan mu kan banyak itu takut nya Joan lupa, ntar kamu lagi yang marah."
"Betul itu bang Mora, kalau kakak ku yang cantik membahana ini nyuruh uhmmm sesuka hati nya aja, dan kyak gini ni ni......nyuruh beli ini, beli itu tanpa di kasih uang.
"Dah ayo ayo..."
Mora menarik tangan Joan keluar dari apartemen, dan Pariban nya Mora pun melihat ke arah keluarga pak Didit dengan muka malu-malu.
"Saya ngak pelit kok pak, Bu.
Kalau Joan di kasih banyak uang lama pulang ke rumah, makanya mama dan bapak ngasih uang pas-pasan ke Joan, karna kalau uang nya dah habis pasti cepat balik ke rumah.
Soal makanan tadi itu adalah khas makanan Mandailing pak, di restoran itu enak-enak, Ani itu kenal dengan anak perempuan yang punya restoran dan sering belajar masak disana. Dan itu hanya seporsi tiap menu pak... Bu.....
Pariban nya Mora seperti menjelaskan kepada calon mertua akan tindakannya barusan.
"Kak Ani kok kyak berhadapan sama calon mertua ya pah?"
Celetuk iren membuat mereka tertawa, dan setelah nya Ani pamit ke belakang untuk memasak nasi, karna bentar lagi Joan adek nya akan membawa pesanan nya.
"Duduk disini aja mbak Ani, biar saya aja yang masak nasi nya."
Pariban nya Mora itu terlihat malu dan masih tertunduk.
"Kak Ani setiap hari bawa mobil?"
"Ngak ren.....
Kadang-kadang aja, saya lebih nyaman pake Kreta.....eh motor maksud nya."
Pak Didit pun tertawa lagi, karna ini pertama kali mendengan kalimat-kalimat berbeda.
"Itu mobil dari bang Mora, hadiah ulang tahun, sempat ku tolak pemberian dari bang Mora.
Dan cahaya membujuk ku untuk menerimanya, karna jika mau ke kampus kami bisa naik mobil itu."
__ADS_1
"Kak... emangnya bang Mora ngak ngasih mobil ke kak Cahaya?"
"Kalau pun di kasih pasti di tolak nya, ren?"
"Kenapa kak?"
"Karna cahaya ngak bisa bawa mobil, dah capek kakak ngajarinnya."
Dan lagi-lagi pun tertawa dengan jawaban dari Rohani.
"Kalau bapak dan mamak nya bang Mora kak?"
"Sama juga kayak orang tua kakak, sama-sama ngak bisa bawa mobil.
Makanya kakak sering jadi supir pribadi kedua keluarga itu."
Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
"Oh ya kak, mangnya rumah kakak dekat ya ke rumah bang Mora?"
"Dekat....
Tinggal nyebrang jalan aja dapat."
"Kok bisa gitu kak?
"Bou itu atau mamak nya bang Mora kakak kandung bapak ku, dan sama-sama merantau ke Medan, bou menguliahkan bapak sampai tamat sarjana, sementara bou jualan di pajak.
Bou dan amang Boru berjodoh di pajak."
"Pajak artinya pasar, kalau Amang Boru itu apa kak?"
"Amang Boru itu adalah panggilan untuk suami nya bou, bapak nya Mora."
oh.....oh.....
Iren sangat semangat dan antusias ngobrol sama Rohani, sementara yang lainnya hanya sebagai pendengar aja.
"Bou dan amang Boru pun menikah, saat itu katanya masih ngontrak, dan bapak tinggal di rumah bou, sampai bapak jadi PNS.
Bapak membeli kan rumah buat bou, dengan menggadaikan SK PNS nya, bou yang membayar sampai lunas, dan SK PNS tersebut kembali digadaikan untuk membeli rumah di depan nya, dan cicilan pembayaran nya di bantu oleh bou, dan ketika bapak menikah sama mamak yang kebetulan PNS juga akhirnya cicilan nya dibayar semua oleh bapak dan mamak."
CK....CK....CK.....CK....
Terlihat Iren kagum dengan kisah yang di ceritakan oleh Rohani.
Dan pintu kembali di ketok, sesegera mungkin Tarni yang dari tadi berdiri langsung membuka pintu.
"Joan, semua yang kakak pesan lengkap kan?"
"Lengkap kakak ku cerewet"
"Mbak Tarni nasinya dah matang kah?"
"Sudah mbak?"
"Kita makan dulu yuk, dah terasa lapar nih."
Ujar Rohani yang mengajak semua untuk makan dan langsung ke meja makan, begitu juga dengan Joan.
"Joan ngapain ikut makan?"
"Ya Tuhan kakak ku sayang, adek mu ini lapar juga, mamak sedari tadi siang ngak masak, ngak ada yang bisa di makan, untung ada kak Cahaya yang ngasih uang jajan."
"Bacot.....
Ambil itu piring."
Tingkah Kakak beradik itu membuat keluarga pak Didit tertawa lepas.
__ADS_1
Bersambung......