
Joan masih menempelkan kepalanya di lenganku dan kemudian bapaknya duduk disamping Ku.
"apalagi selanjutnya bere?"
Tulang pak Rohani bertanya untuk acara selanjutnya, dan aku hanya menggelengkan kepalaku, karena aku juga tidak tahu apa acara selanjutnya.
"bapak e dan bang Mora, acara selanjutnya adalah pembersihan diri untuk keluarga amangboru pak Aris dan juga warga lainnya.
Mereka yang merasa kopi nya manis akan di bersihkan terlebih dahulu, setelah itu selesai, nantinya akan dikasih kopi yang baru lagi.
jika warga yang lain masih merasa kopi nya manis maka pembersihan akan dilakukan lagi tapi tidak untuk keluarga amangboru pak Aris."
"kenapa gitu Joan?"
"hadehhh....
kan pak Aris dan keluarganya waris dari pemuja begu ganjang, gimana sih?"
"lah, jadi menurut mu pak Aris itu ketempelan hantu gitu?"
"begitulah kira-kira bang Mora, jika mereka tidak ketempelan hantu atau apapun itu jenisnya, pak Aris dan keluarganya tidak akan datang kemari."
Jawab Joan kepadaku, lalu bapaknya menoleh Joan dengan tatapan yang ragu.
"sok tahu kamu."
"benar kata anak Amang ini, kami yang disini yang merasakan kopi pahit. tidak pernah diganggu oleh begu ganjang itu.
Hanya mereka semua yang diganggu, saya juga tahu alasannya kenapa."
Ujar salah seorang ibu-ibu yang duduk bersama kami, yang merasakan kopi nya pahit juga.
Lalu Oppung Doli Sarma bersama dua orang oppung-oppung atau kakek, menaburkan sesuatu di sekeliling mereka yang merasakan kopi nya manis.
"Joan apa itu?"
Tanya bapaknya Joan, dan kali ini Joan di tarik nya disisi-Nya lalu memeluknya.
"bapak tenang ya, itu prosesi melepaskan arwah jahat yang mengikuti mereka."
Ucap Joan dan kemudian memegang tangan bapaknya, alhasil kami bertiga malah berpegang tangan.
Ibu-ibu yang duduk dibelakang kami malah mendekat ke arah kami bertiga, kini posisi duduk kami semakin rapat.
__ADS_1
"Kumbang dan tanah yang di ambil dari sekitar pondok kakek buyut amangboru pak Aris, di tambah dengan tepung tawar dan juga potongan rambut dari warga desa ini.
Setelah itu nanti mereka akan di percikkan menggunakan air dari air terjun Simarmata."
Jelas Joan yang terlihat santai, dan ibu-ibu yang bicara tadi mendekati Ku.
"siap-siap ya, karena diantara mereka nanti pasti ada yang kesurupan."
Ucap ibu-ibu tadi, dan terlihat kedua kakek-kakek itu sudah selesai menaburkan benda-benda aneh itu dikelilingi mereka semua.
tong...... ktong.... tung.... tong.....
Suara tagading atau gendang yang di mainkan oleh pemusik membuat dan Tulang pak Rohani kaget, tapi tidak dengan Joan.
"Amang pargocci namai, namalo marembes. naeng maruloan nama hami. baen mo jo gondang mula-mula i, asa marmula Hasangapon di tonga-tonga nami.
(wahai pemusik yang pandai bermusik, tolong mainkan musik awal kehidupan, agar bermula kehidupan yang baru untuk kami)
Pinta pak Sarma kepada pemusik, dan terdengar suara gondang, sarune bolon, yang berpadu menjadi satu.
(Sarune Bolon adalah salah satu instrumen musik tiup yang ada pada masyarakat Batak Toba. Instrumen musik ini juga merupakan sesuatu yang sangat disakralkan pada masyarakat Batak Toba)
Gondang, sarune bolon, botol dan besi. semua itu di sebut dengan Gondang Sahabangunan.
Menjadi seorang partaganing atau penabuh gendang tidak bisa sembarangan. Seseorang harus berguru terlebih dahulu pada pargonsi (pemain musik gondang) yang sudah memiliki keahlian bermusik. Namun, konon katanya ada seorang memiliki keahlian tersebut dari Batara Guru atau bakat.
Seorang partaganing, bersama dengan parsarune (peniup sarune) menurut kepercayaan lama Batak Toba, mereka ini disejajarkan dengan dewa. Karena keduanya mampu menyampaikan semua permohonan dan harapan kepada Debata Mulajadi Nabolon atau penguasa tertinggi.)
Jujur, sangat merinding ketika mendengar perpaduan dari musik tersebut, karena ini pertama kalinya bagiKu mendengar nya.
Tulang pak Rohani semakin erat memegang Joan, dan anaknya yang rese itu terlihat kalam dan berusaha menenangkan bapaknya.
Krung tong... tong.... Ting.....
Suara musik berhenti, karena pak Sarma memberikan aba-aba dengan mengangkat tangan kanannya ke arah pemusik.
"muliate Amang pargocci, nungga di pareade hamu sipangidoan namai." *dialog Batak
(terimakasih pemusik, karena kalian memainkan musik yang kami mintak).
Ucap pak Sarma setelah musik berhenti dan tangan nya di turunkan.
"Gabe amang gabe." *dialog Batak
__ADS_1
(sama-sama amang).
jawab salah pemusiknya, kemudian sarune bolon di mainkan lagi, tapi hanya sebentar.
"Amang pargocci nama i, hupangi do Hami saunnari. baen damang Jo gondang parhorason las ruhut ma gondang si liat-liat on i. asa marliat liar mangido pasu-pasu sian oppung mula jadi nabolon.*dialog Batak.
(kepada pemusik, sekarang kami ingin meminta musik lagi. semoga Leluhur memberkati kami dan kami ingin mengadukan nasib kami kepada sang leluhur.)
"nauli amang,. (baik).
Trung ... tung.... Trung ... tung.... Trung ... tung.... Trung ... tung....Trung ... tung....
Salah satu pemusiknya menjawab ucapan dari pak Sarma dan kemudian memainkan gondang.
Kemudian musik di mainkan, dan itu semakin membuat ku sangat merinding. membuat bulu kuduk berdiri semua.
"kenapa bang Mora? kok kyak ketakutan gitu? biasa aja dong."
Ucap Joan yang mencoba mau usil, bersama Tulang pak Rohani, kami bersama-sama memegang tangan Joan.
Semakin menegangkan karena para warga yang ada dibelakang keluarga pak Didit kini sudah berdiri.
Mereka semua menari tor-tor, tarian nya tidak seperti tarian saat pesta pernikahan adat Batak pada umumnya.
"Joan, itu ngapain? kenapa tari tortor nya berbeda dari yang biasa Abang lihat?"
"itu namanya tortor somba bang, jadi para warga melakukan penyembahan terhadap oppung mula jadi nabolon atau leluhur untuk meminta berkat.
berkat dan keselamatan agar mereka terhindar dari gangguan makhluk halus yang jahat.
Nantinya mereka akan menari tortor keliling dan kemudian berkumpul lagi."
Tutur Joan, dan itu benar-benar terjadi. para penari tortor kini sudah berkeliling dan membentuk lingkaran.
Anehnya lagi adalah pak Didit dan keluarganya terlihat sangat mahir dalam hal menari tortor.
"Joan, kenapa pak Didit dan keluarganya sangat mahir manortor?
(manortor artinya sedang menari tortor tarian khas Batak Toba).
"itu pak Didit dan keluarganya serta para warga lain sudah mulai kerusakan bang. itulah yang menyebabkan pak Didit dan keluarganya menjadi jago manortor."
Sungguh sangat sulit bagiKu untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Joan, tapi nyata pak Didit semakin mahir manortor.
__ADS_1