KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Kembali Ke Jakarta.


__ADS_3

POV pak Didit.**


Pak Didit kemudian menatap pak Argap, orang kepercayaan untuk mengurus rumah dan kontrakan.


"Pak Argap..... Mbok Ayu, Laila dan Tika beres-beres aja ya, biar nanti kita sama-sama keluar dari rumah ini, saya ngak Mau keluarga ini terjadi hal-hal tidak kita inginkan, untuk sementara kalian tinggal di apartemen kami aja, tidak jauh kok dari sini, sampai masalah ini selesai ya.


"Baik pak Didit" ujar pak Argap dengan tegas.


Seketika mereka langsung beres-beres, demikian juga dengan istrinya dan Iren,


Serta mbak Tarni untuk membereskan barang-barang bawaan mereka, dan terlihat Mora mengemasi barang-barangnya dan barang-barang yang ditemukan temukan di rumah masa kecil pak Didit.


Setelah Mora siap beres-beres, Mora kembali ke sofa, sambil membawa keris yang sudah di kemas nya dalam kain, dan dimasukkan dalam kardus.


Kemudian mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang.


"Pak....sudah ku pesan pickup untuk keluarga pak Argap Untuk mengangkat barang-barang dan taksi untuk kita."


"Terimakasih kasih Mora."


"Sama-sama pak.


Oh iya pak...


Keris ini pasti di tolak kalau kita bawa naik pesawat, jadi sudah ku telpon kurir ke mari untuk mengirimkan ini ke rumah kami yang di Medan pak.


Untuk rambut dan yang lainnya sudah ku kemas untuk kita bawa."


Pak Didit hanya mengangguk tanda setuju, Mora memang selalu bisa diandalkan dalam segala hal.


"Bang Mora...


Nanti bang nginap di rumah kita kan bang?


Mora hanya mengangguk sambil melirik Iren, dan tak berselang lama, kurir datang untuk mengambil keris itu, untuk di kirim ke Medan alamat nya Mora tertera disana.


Setalah kepergian kurir itu, terlihat Pak Argap sudah selesai beres-beres, barang-barang nya lumayan banyak juga, maklum ada empat orang dalam keluarga ini, terlihat mbok Ayu hendak mengemasi alat penanak nasi itu.


"Mbok.....semua peralatan dapur, lemari dan sebagainya sudah lengkap di apartemen itu, mbok dan keluarga cukup bawa pakaian dan keperluan lainnya."

__ADS_1


"Oh....begitu toh pak Argap.


saya dan keluarga sangat berterima kasih kepada bapak dan keluarga, keluarga kami hidup layak dan anak-anak kami memperoleh pendidikan yang sangat layak dan bagus."


Bu Rida langsung memeluk si mbok dan begitu dengan Iren, rasa haru memenuhi ruangan ini.


"Mbok ....dan keluarga adalah orang baik, orang baik pantas mendapatkan yang baik juga, dan keluarga mbok sudah kami anggap keluarga sendiri."


Mereka kembali berpelukan dan Laila serta Tika juga ikut, mobil pickup yang di pesan oleh Mora sudah tiba, suara klakson yang membuat mereka melepaskan pelukan nya, supir pickup itu membantu keluarga Argap mengangkat barang-barang nya ke pick up, demikian juga Mora.


Dan tak berselang lama taksi yang di pesan Mora pun tiba, kami semua bergegas bergerak sambil membawa barang-barang kami ke depan rumah terlihat supir taksi itu turun untuk membantu kami.


Setelah semua barang masuk ke bagasi taksi dan pintu pun di kunci oleh pak Argap kami meninggalkan rumah itu, keluarga pak Argap akan menuju apartemen, dan kami akan ke bandara untuk balik ke Jakarta, terlihat Tika dan dan Laila berboncengan mengendarai scoopy sementara pak Argap dan istrinya naik pickup.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya mereka sampai di bandara, dan sudah cek in.


"bapak ngak habis pikir tentang peristiwa, tidak sedikitpun terlintas dalam benak ini. awalnya semua berjalan dengan baik-baik, keluarga bahagia. dan Mora hadir di keluarga bapak yang menambah kebahagiaan keluarga ini.


tapi semuanya buyer karena teror yang tiada kunjung berakhir dan jauh dari nalar bapak." ujar pak Didit di sela-sela mereka menunggu di ruang tunggu keberangkatan.


"sabar pak, semua itu sudah yang mengatur. dari awal juga Mora ngak percaya mengenai cerita begu ganjang ini.


"Dari awal juga bapak sudah ada yang aneh, atok Tarno yang berumur panjang serta perawakan yang seram.


Jarang keluar kamar dan kedua orang tua bapak yang selalu tertutup dalam segala hal, di tambah lagi Keluarga pak Deh yang di medan.


mereka seolah-olah menutup rapat-rapat tali silaturahmi diantara kami, bahkan bapak tahu tahu asal-usul kenapa mereka bisa saya panggil pak Deh.


Ketika bertanya, bapak hanya dapat amarah saja dari kedua orang Ku.


Semua seperti tersembunyi rapat-rapat, tadi penjelasan sedikitpun yang bisa bapak dapatkan."


"begini Pak, berdasarkan surat dari kamarnya atok Tarno. bahwa ada anak perempuan nya juga.


Menurut Mora, pak Deh bapak yang di Medan itu pasti keturunan dari anak perempuan itu pak."


"bisa jadi, tapi untuk saat ini hanya bisa memprediksi nya saja.


atau apakah mungkin pak Deh itu anak dari Istri yang dari atok Tarno?

__ADS_1


semuanya tertutup rapat Mora, seperti aib yang disembunyikan dan tutup secara rapat. dan membuat logika bapak jadi ngaur."


Ucap pak Didit dan beliau menghela napas dan kemudian berusaha tenang, tidak banyak yang bisa dilakukannya tapi harus segera diselesaikan.


"pa... di Surat yang bang Mora kemarin, tertulis keris nya ada dua. satu tersimpan di kamar eyang Kakung dan satu lagi kemana ya?


Papa sudah menjelaskan kalau Keluarga pak Deh yang di Medan menutup rapat-rapat tali silaturahmi, apakah pak deh di Medan dan atok Tarno memperebutkan keris itu?"


Aris akhirnya nimbrung omongan Papa nya dan juga Mora, raut wajahnya Aris di sambut rasa penasaran dari Mora.


"iya juga ya, tapi ngak tahu juga lah. karena di sebutkan kalau anak perempuan nya tidak mau menerima keris dan bagian rambut itu."


Ujar Mora yang menyanggah omongan dari Aris.


"bang Mora, anak perempuan yang menolak itu adalah keturunan pertama setelah pernikahan di Siantar itu.


Menurut Aris ni bang, keluarga pak Deh ini adalah anak perempuan dari keturunan yang diatasnya.


"maksudnya gimana dek?" tanya Mora yang tidak paham akan penuturan dari Aris.


"gini bang, nama buyut yang menjadi pemuja Begu ganjang bernama Horas. nah Horas ini punya dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan.


Anak laki-lakinya itu menikah dan punya satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.


yang menolak keris itu adalah anak perempuan nya, dan akhirnya diserahkan kepada anaknya yang laki-laki.


anaknya yang laki-laki yang menikah dengan perempuan suku Jawa.


Aris yakin kalau Keluarga pak deh adalah anak perempuannya dengan pernikahan dengan suku Jawa itu.


atau pun cucu perempuan Nya."


"Abang paham maksudnya, bisa jadi. tapi kita perlu bertanya kepada keluarga pak Deh setelah di Medan nanti."


"Mudah-mudahan kita bisa dapat jawaban yang pasti ya bang."


Ujar Aris kepada Mora, hanya berharap yang bisa dilakukan saat ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2