
Tengah malam yang sunyi, berada satu tenda bersama Joan, bapak dan bapaknya Joan yang aku panggil tulang (paman).
Mereka sudah tertidur bahkan sudah mengorok, tapi mata ini tidak bisa terpejam.
Lalu aku keluar dan ternyata pak Sarma dan pemangku adat tidak tidur, mereka berjaga-jaga di luar.
"Mora kok ngak tidur?"
Pak Sarma bertanya, karena menyadari keberadaan ku yang menghampiri mereka berdua yang sedang berjaga.
"belum bisa tidur amangboru, tapi syukurlah amangboru dan oppung belum tidur."
"mau kopi?"
Pak Sarma menawarkan kopi dan juga ubi bakar, tentunya tidak aku tolak.
"Mora mau nanya pung, rambut, keris dan ulos itu kami temukan di rumah bapak Aris di Jogja.
Rumah itu adalah rumah masa kecilnya, dan benda-benda itu adalah peninggalan atok Tarno.
Kalau kita memanggilnya tulang lah, karena atok Tarno ini adalah kakek dari bapaknya Aris.
Keseharian atok Tarno ini sangat misterius, dan menyimpan benda-benda itu secara terpisah."
uhmmm.......
Pemangku adat bergumam dan itu membuatku berhenti bicara.
"huatussi do i pung, jadi sempat do di pakke si Tarno i bule-bule nai. makanan hatop mamora nasida."
(saya mengerti itu cucuku, jadi itu yang sempat dipakai oleh si Tarno sebagai pelaris, itulah sebabnya si Tarno itu cepat kaya ).
"Alai adong do korban disi, bereng ma annon di lantai dapur i, disi ma di tanom pitu poso-poso na baru tubu, sasudena poso-poso i borua do."
(tapi ada korban jiwa yang harus melayang, lihat nanti di bawah lantai dapur, di bawah lantai itu ada dikubur anak bayi perempuan).
"Tolu ma boru ni si Tarno, sisa nai ima tinodohon ni bapak si Aris."
(tiga orang dari korban itu adalah putri si Tarno, sisanya adalah adik perempuan pak Didit, atau adik perempuan bapaknya Aris).
"Ima na dilehon si Tarno tu begu ganjang, sekaligus ma i persembahan na."
(korban itu menjadi persembahan untuk begu ganjang, yang diberikan oleh si Tarno)
__ADS_1
"Jadi hamoroan ma jala tubu ma dakdanak nabawao di nasida."
(Tarno memperoleh kekayaan dan juga anak laki-laki sebagai penerus nya, sementara semua anak perempuannya di korban untuk begu ganjang).
"Nungga putus pinoppar naon tu begu ganjang, jadi malaua do sude akka tondi na di tahan ni begu ganjang marhite-hite si Tarno i."
(sekarang bapaknya Aris, sudah memutuskan tali ikatan dengan begu ganjang, jadi jiwa-jiwa yang terkurung di rumah si Tarno yang dipersembahkan kepada begu ganjang akan lepas dan kembali kepada penciptanya).
"Mungkin matutung do annon jabu ni nasida, jala bolo adong do pe jabu na nasida na asing, nama nippan partinggal ni begu ganjang, tong do i annon matutung."
(kemungkinan besar rumah itu akan terbakar, karena perlawanan sengit antara begu ganjang, yang menjadi pujaan si Tarno dengan para jiwa yang malang itu.
Jika ada rumah nya yang lain, yang menyimpan benda-benda peninggalan begu ganjang, maka rumah itu juga akan ikut terbakar)
Penjelasan dari pemangku adat ini masih di luar nalar sehat ku, tapi melihat semua kejadian ini yang memaksaku untuk percaya dengan semua penjelasan dari pemangku adat.
"Mora..... Mora......"
Pak Didit yaitu bapaknya Aris, yang tiba-tiba mendatangi kami bertiga yang sedang ngopi. wajah pak Didit begitu tegang dan penuh kekhawatiran.
"kenapa pak e?"
"rumah yang di Jogja terbakar hingga ludes, pak Argap dan istrinya selalu memperhatikan kondisi rumah.
Penangkal petir juga lengkap di atap rumah, dan anehnya lagi, air dari pemadam kebakaran tidak berpengaruh terhadap api yang melalap rumah itu.
Hanya rumah peninggalan itu terbakar, dan api itu seperti hanya ingin menghabiskan rumah itu."
Pemangku adat meminta pak Didit untuk duduk, kemudian pemangku adat memberikan kopi yang baru diseduh kepada pak Didit.
"minum..."
Tanpa ragu pak Didit langsung meminum kopi tersebut, karena memang pak Didit suka ngopi.
"Mora, berikan bapak gula dong , kopinya pahit."
Pemangku adat dengan tersenyum mengambil gula, kemudian menaruh gula satu sendok di kopi pak Didit lalu mengaduknya.
"ini baru kopi, gulanya pas dan aromanya luar biasa."
Ucap pak Didit setelah menyeruput kopi yang sudah ditambahkan gula, tapi aku fokus melihat pemangku adat.
"tadi oppung tersenyum ketika bapakku kepahitan saat meminum kopinya, kenapa oppung?"
__ADS_1
Pemangku adat tersenyum, begitu juga dengan pak Sarma.
"itu artinya bapak mu ini sudah terbebas dari begu ganjang, tidak ada lagi hubungannya dengan begu ganjang dari leluhurnya.
Oppung mu ini tersenyum karena sudah berhasil memutuskan kutukan itu."
Pemangku mengganguk setelah pak Sarma menjelaskan hal tersebut.
"oppung Doli Dison ini, sudah membakar benda-benda yang kalian itu. dibakar di rumahnya di desa Aek Holong.
Itulah yang melemahkan jiwa atok Tarno yang sudah bersekutu dengan begu ganjang, sehingga jiwa-jiwa yang malang itu, yang sudah dikorbankan oleh atok Tarno akhirnya berhasil melawan dan menang.
Efeknya adalah rumah tersebut terbakar, dan melepaskan korban jiwa yang malang itu.
Oh ya pak Aris, apakah bapak pernah mendengar kalau atok Tarno itu bersekutu dengan begu ganjang atau sejenis iblis?"
"pernah, cuman aku mengira itu hanya cerita belaka atau hanya cerita mistis gitu aja."
"tidak pak Aris, itu benar adanya. anak perempuan atok Tarno dan juga saudara mu yang perempuan di korban untuk menjadikan atok Tarno kaya raya.
Kemudian memudahkan atok Tarno memperoleh keturunan laki-laki.
Pada umumnya parbegu ganjang atau pemuja begu ganjang kesulitan untuk mendapatkan anak laki-laki."
"dulu juga almarhumah ibu pernah cerita, kalau ibu sering melihat penampakan banyak perempuan di dapur.
Seharusnya saya sudah punya tiga kakak perempuan tapi semua meninggal dunia setelah berusia tujuh hari dari kelahiran nya.
Meninggal dengan cara yang sama, wajah pucat, leher menghitam seperti bekas cekikan dan lidah sedikit menjulur.
Apakah saudari perempuan itu adalah korban begu ganjang juga?"
Pak Sarma dan pemangku adat mengganguk saat menjawab pertanyaan dari pak Didit.
Sejenak kami terdiam dan hanya suara jangkrik yang terdengar, dan cahaya bulan yang menerangi malam yang sudah mulai dingin.
"bagiamana rumah yang di Jakarta pak? aman kah?"
"aman kok Mora, hanya rumah Jogja yang sudah ludes terbakar."
Pemangku adat tersenyum lagi, dan itu artinya pak Didit tidak menyimpan apapun benda-benda peninggalan leluhur nya terkait pemujaan terhadap begu ganjang.
Berita yang menyejukkan hati, karena pak Didit dan keluarga sudah terbebas dari kutukan begu ganjang.
__ADS_1