KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Berakhir.


__ADS_3

Tibalah saatnya hari yang kami tunggu, bersama keluarga besar ku dan kami sudah berdiri di depan rumah Rohani untuk masuk ke rumah nya.


Karena sebentar lagi kami diberkati di gereja, terlebih dahulu acara doa dan juga adat permulaan.


Rohani begitu cantik dan anggun dengan balutan kebaya pengantin nya, senyumannya yang merekah membuat terkesima.


Selesai acara adat penjemputan lalu kami ke gereja untuk melaksanakan pemberkatan pernikahan.


Suasana begitu haru dan penuh dengan kebahagiaan.


Lagu pembuka dari Joan membuat susana teduh dan selanjutnya adalah ibadah.


Deg-degan dan akhirnya selesai juga, kini kami sah menjadi suami-istri.


Sesi photo dan kemudian ke gedung milik Joan untuk pelaksanaan adat pernikahan.


Acara adat demi acara telah selesai, dan tanpa terasa hari sudah sore.


Kami bersiap untuk pulang dan Joan bersama Aris dan Iren serta Gomgom sudah membawa koper ke wisma ini.


"berhubung acara adat nya sudah selesai, kita langsung liburan.


Semua hadiah mulai ulos, sarung dan sebagainya akan di urus oleh rekan kerja Ku, pokoknya kita semua harus berangkat ke Brastagi.


Ada yang komplain?"


"kakak harus pakai kebaya pengantin ini ya? apa kakak ngak bisa ganti pakaian dulu?"


"ngak perlu kak, ada mobil khusus untuk kakak dan bang Mora.


yuk berangkat...."


Aku berusaha menenangkan Rohani dan akhirnya kami berangkat ke Brastagi.


Perjalanan selama dua jam lebih dan akhirnya sampai juga di penginapan dengan khas bangunan Karo.


Sangat-sangat indah dan asri, udara dingin nan sejuk masuk melalui hidung dan sangat lega rasanya.


"Bang Mora dan kak Ani, di pojok sana dan yang lainnya ikut Joan.


Sebelumnya perlu Joan himbau untuk tetap menjaga kebersihan, di bawah tangga penginapan kita ada pemandian air panas.


Jika mau berenang silahkan tapi Joan sarankan sebaiknya isi perut dulu sebelum berenang.


Makanan dan minuman sudah tersedia, ruang keluarga yang dilengkapi dengan fasilitas karoke dan area tempat memanggang.


Bang Mora dan kak Ani, selamat menikmati bulan madu di tanah Karo."


Kata sambutan dari Joan, lalu menyerahkan kunci kepadaku dan kemudian memeluk kakaknya.

__ADS_1


Joan melepaskan pelukannya dan kedua bola mata itu terlihat berkaca-kaca.


"selamat ya kak, semoga pernikahan kakak dengan bang Mora awet hingga maut yang memisahkan kalian berdua.


Jadilah istri yang baik dan kelak menjadi ibu yang baik, setidaknya seperti mamak.


Walaupun kita sama-sama tahu, betapa cerewet nya mamak, tapi itu karena mamak mencintai kita kak.


Joan minta maaf atas semua kesalahanku, baik itu omongan maupun perbuatan Joan yang melukai hati kakak.


Joan tahu kalau kakak sudah resmi menjadi istri bang Mora, tapi satu hal yang harus kakak ingat kalau Joan tetaplah Joan yang menjadi adikmu sekaligus wali kakak di rumah.


Jangan pernah mengumbar kesalahan atau aib bang Mora ya kak, jika ada yang bertanya kepada kakak tentang sikap bang Mora dan perlakuan, katakan aja yang baik-baik.


Selalu jaga kehormatan dan martabat suami dan juga keluarga nantinya, jika ada masalah selesai di tempat tersembunyi.


Misalnya di kamar dan jangan di umbar ke luar hingga menjadi tontonan orang lain.


kakak mengaduk ke bou mak Aris, bisa ke Joan.


Intinya adalah komunikasi antara kakak dengan bang Mora.


Sikap kakak janganlah berubah, biasanya kakak selalu mengabari kemanapun kakak pergi, hendaklah seperti itu terus tapi kali ini ke bang Mora aja dan sesekali berilah kami kabar, setidaknya sehabis pulang gereja.


Joan siap menjadi tempat curhatan mamak, dan selalu ada buat kakak. jangan pernah ragu untuk cerita ke Joan ya.


Mamak dan bapak adalah tanggungjawab Joan, jadi kakak ngak perlu khawatir. jika memang Joan tidak mampu nanti, maka ijinkan Joan untuk mengadu ke kakak."


"bang Mora....


Tolong jaga kakak ku yang cerewet ini, kalau kakak ku ngomel, abang diam aja. ntar juga capek sendiri ngomelnya.


Jika abang tidak sanggup membahagiakan kakak, kembalikan ke keluarga Joan.


Jika bang Mora menyakiti kakak, maka Joan akan memotong kedua tangan abang.


Joan yakin dan percaya kalau bang Mora bisa membahagiakan kak Ani."


Ucapan Joan benar-benar menyentuh hati ini, nasihat dan permintaan dari seorang adik laki-laki yang biasanya pecicilan dan kini berkata dewasa.**


Berduaan di dalam kamar dengan suasana kamar yang pengantin yang dihiasi dengan bunga-bunga segar.


"Ani mandi dulu ya bang, sanggul ini membuat pening."


"mau abang bantu?"


Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, mandi bersama wanita cantik yang tidak lain adalah istriku sendiri yang sangat aku cintai.**


Lemas setelah mengadu kasih bersama istriku tercinta dan perut ini keroncong, ternyata Rohani juga sama.

__ADS_1


Akhirnya kami memutuskan untuk keluar kamar dan hendak mencari makanan.


Di sudut taman ada kafe dan segera kami ke sana, susana malam yang dingin yang membuat kami bergandengan tangan.


"bang Mora.....


kak Rohani......


pasti kelaparan ya?"


Ujar Aris yang duduk bersantai dengan kedua orangtuanya, Iren serta Joan.


"iya dek, dingin soalnya jadi cepat lapar."


"sama kak, kami juga kelaparan."


Jawab Iren dengan santai, dan pemandangannya malam hari disini sangat luar biasa ditambah sejuknya alam sekitar.


"Joan.....


mamak, bapak dan amang sama Inang, Cahaya dan Gomgom kok ngak diajak?"


"sudahlah kak, biarkan aja mereka istrihat. beraktivitas mulai dari jam tiga pagi hingga sore hari dan kebanyakan berdiri.


beda sama kami, ya.....


hanya ngikut aja, karena itulah kami juga tidak membangunkan kakak dan abang.


Tapi datang sendiri, jujur ya kak baru kali ini Iren melihat pesta pernikahan yang unik dan luar biasa."


Iren langsung menjawab pertanyaan istriku dan kemudian kami duduk satu kursi yang panjang.


Ikan nila bakar, ayam bakar dan lele goreng berikut dengan sambal nya tersaji.


Sengaja tidak memesan nasi, dan air minum yang hangat yang disusul dengan minuman rempah-rempah alami yang disebut dengan bandrek.


"amangboru, bou dan bang Aris serta kak Iren. apa ada sesuatu yang terjadi setelah kita mengalami semua masa-masa sulit itu?"


"kalau amangboru hanya sekali bermimpi, waktu di kemah kantor camat itu, seorang laki-laki mendatangi amangboru dan berkata.


Semuanya sudah berakhir dan bawa pulang semua keluarga mu dan semoga kebahagiaan yang menyertai keluarga mu dan orang-orang yang kamu cintai.


Begitu lah ucapnya, dan menarik wajah itu begitu familiar, mirip almahum bapak ku.


Selain itu tidak ada lagi, rasa nya lebih damai dan tenang.


Dengan dampingan keluarga yang luar biasa, dan sukacita yang luar biasa."


Ungkap pak Didit dengan begitu tenang, bu Rida, Aris dan Iren juga mengatakan jauh lebih damai.

__ADS_1


Berarti kutukan begu ganjang itu benar-benar berakhir di keluarga kami ini.


Kerjasama yang baik, kekompakan keluarga dan cinta kasih yang besar yang berhasil memutuskan kutukan begu ganjang ini dari keluarga Ku.


__ADS_2