KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Perbedaan Mimpi


__ADS_3

Di ruang tamu ini, dan bunyi bel pintu berbunyi pertanda ada orang yang hendak masuk.


Dengan segera Joan berlari dan membuka pintu, dan tidak berapa lama Joan menghadap Ku dengan membawa makanan yang terbungkus rapi di plastik.


"bang Mora, tolong bayar pesanan Joan ya. totalnya dua ratus tiga puluh ribu Rupiah."


Dengan tersenyum Joan meminta ku untuk membayar makanan yang dibelinya, kakaknya hanya bisa tepuk jidat akan kelakuan Joan.


Setelah membayar pesan Joan, makanan berupa sate, pisang goreng keju dan lainnya di sajikan diatas meja yang di bantu oleh Tarni.


"Joan, kapan ko pesan ini? terus kenapa ko berharap kalau bang Mora mau membayar nya?"


Dengan sorot mata yang tajam, Joan menatap kakaknya karena pertanyaan nya.


"dari tadi kak Ani, kalau bang Mora ngak mau bayar, jadinya kakak yang harus bayar. itu aja kok repot."


Seperti Rohani terlihat kesal, tapi Bu Rida menahan nya dengan cara memegang tangan nya.


"ngak apa-apa loh Ani, kan kita juga butuh Snack. masa ngobrol kayak gini ngak ada snack nya?


Terimakasih Joan, terimakasih karena sudah inisiatif. dan makanan ini terlihat enak."


"Bu, Joan itu bukan inisiatif tapi asas manfaat. Joan memanfaatkan segala keadaan untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.


Licik ini Bu, ibu jangan tertipu dengan muka nya yang terlihat polos. kami sekeluarga sering tertipu dengan wajah sok polos ini."


"idih, bilang aja syrik. dasar tukang adu domba."


"ih......"


Bu Rida lagi-lagi menahan Rohani yang hendak mencubit Joan.


"Joan sini, duduk dekat amangboru. biar aman negara ini."


Joan lalu duduk di dekat pak Didit, ntah kapan lah pak Didit jadi amangboru nya. tapi ya sudahlah semua terserah Joan aja.


"apa yang amangboru rasakan ketika tidak sadarkan diri kemarin itu?


tangan dan kaki amangboru dan bang Aris itu gerak ketika Joan, memanggil amangboru dan bang Aris. Apa amangboru merasakan itu? apa amangboru bermimpi atau hanya tidak sadarkan diri aja?."


Pak Didit dan Aris seketika menoleh ke arah Joan yang kemudian makan sate.


"rasanya aneh sekali, dan bingung. apakah itu mimpi atau nyata. amangboru tiba-tiba saja disebuah tempat. dan tempat itu persis seperti yang Mora sebutkan.


Dibelakang rumah panggung dan bersama Aris..."

__ADS_1


"lalu ada sepasang kakek nenek yang tiba-tiba memeluk ku dan memeluk Papa. pelukan itu begitu nyata, seperti pelukan Papa sebagaimana biasanya."


Aris menyahut omongan dari pak Didit dan sepertinya mimpi mereka berdua sama.


"loh, bang Aris kok tahu? kok bisa mimpi bersamaan ya?"


"iya Joan, karena mimpi papa sepertinya sama dengan mimpi Aris."


ujar Aris yang menyahut omongan Joan, dan seketika Bu Rida menoleh mereka berdua.


"gini aja, biar papa yang cerita dan kak Aris hanya mengangguk aja.


ntar kalau ada perbedaan baru Aris ngomong ya. kita harus melihat dimana perbedaan mimpi nya, siapa tahu bisa menjadi petunjuk nantinya."


ujar Bu Rida yang memberikan saran, lalu pak Didit dan Aris hanya mengangguk pertanda setuju.


"Kakek bicara, tapi Papa ngak ngerti apa yang di ucapkan Nya."


Bu Rida kemudian menoleh ke arah Aris setelah pak Didit memulai ceritanya.


"maulti tu oppung mula jadi nabolon, nga ro bea pinappar hun to jelon hu."


Aris kemudian berkata demikian seperti menyambung omongan dari mimpi pak Didit dimana kalimat yang tidak di mengerti Nya.


itu kalimatnya kan bang Aris? amangboru seperti itu kalimat Nya?"


Ucap Joan yang memperjelas penuturan dari Aris.


Aris dan Didit mengganguk setuju, sepertinya yang dikatakan benar adanya.


"itu artinya apa Joan?"


Tanya Iren yang terlihat penasaran, karena kalimat yang belum di dengar Nya.


"ucapan terima kasih kepada leluhur, karena amangboru dan bang Aris selalu keturunan dari kakek nenek itu sudah tiba kak Iren."


Rohani langsung menatap tajam ke arah Joan, mungkin kekasih itu heran kenapa Joan bisa menebaknya dengan benar.


"kak Ani ngak udah heran kenapa Joan bisa menebaknya.


Oppung mula jadi nabolon adalah Tuhan bagi suku Batak sebelum agama hadir di kehidupan masyarakat Batak.


Oppung mula jadi nabolon itu adalah leluhur yang dianggap Tuhan.


Biasanya para orang tua akan mengatakan demikian jika bertemu dengan anak-anak nya ataupun cucunya.

__ADS_1


hal itu di ungkapnya atas segala puji syukur karena bisa bertemu dengan keluarganya."


"oh......"


Dengan serentak kami berkata 'oh' atas penjelasan dari Joan, tidak ku sangka kalau Joan punya pengetahuan tentang kebudayaan Batak Toba.


"amangboru, lanjutkan cerita nya."


Kami semua kembali menatap ke arah pak Didit setelah permintaan dari Joan.


"kemudian kami berdua dibawa menelusuri setapak jalan, persis seperti yang di sampaikan oleh Mora."


Aris mengganguk dan itu artinya mimpi nya sama dengan Papa Nya.


"lalu kakek itu berkata, 'Unang paili tu podin mereng ahatun pa namarhulin...


"Unang paili tu pudi manang aha pe na di bego hamu, bereng tu jolo torus. * bahasa Batak Toba


yang artinya, jangan lihat ke belakang. apapun yang kamu dengarkan dan teruslah melihat ke depan."


Seketika perhatian tertuju kepada Ku, pak Didit dan Aris hanya mengangguk setuju. seperti mimpi Ku juga sama.


"kemudian banyak pohon aren, lalu ada pohon beringin seperti yang sudah aku jelaskan. tidak berapa lama tercium aroma bunga semerbak dan tidak berapa lama terlihat pondok beratap jerami serta air tersebut yang sangat mengagumkan."


"benar itu bang Mora, dalam mimpi Aris juga sama. tapi kenapa semua sama ya bang?"


"pasti ada yang beda Aris, karena Aris dan bapak adalah keturunannya langsung. sementara Abang hanya keturunan orang yang hendak memberikan solusi."


"benar kata Mora, di pohon beringin itu Aris di suruh untuk tinggal. bersama kakek dan nenek itu, kami menuju sebuah pondok.


Lalu Nenek itu kemudian menari seperti tari tortor dan itu tanpa musik. mengenakan kain seperti yang kita temukan dari kamar atok Tarno.


Kemudian Si kakek memotong 7 ayam hitam dan menampung darah itu ke suatu wadah berbentuk guci yang terbuat dari tanah liat.


Komat-kamit tapi suaranya tidak keluar dari mulutnya.


lalu menggali tanah, tanah yang digalinya persis seperti lahan untuk mengubur jenazah.


Kemudian si nenek menari tor-tor mengelilingi tanah yang di gali itu, setelah berapa lama si kakek keluarga dari lubang tersebut.


Menari tor-tor bersama istrinya mengelilinginya."


Pak Didit kemudian berhenti berbicara, tapi anehnya air mata pak Didit mengalir di pipinya.


Kami bingung dengan keadaannya saat ini, tentang kenapa pak Didit menangis.

__ADS_1


__ADS_2