KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Berangkat Ke Medan


__ADS_3

POV pak Didit.**


Pagi hari seperti biasanya, setelah kami sarapan. Mora langsung berangkat ke kantor dan tinggal pak Didit serta anggota keluarga nya di rumah.


"pa.... kita beruntung punya Mora, yang selalu membantu kita."


"iya ma, selain Mora orang nya pintar, cekatan dan bijak.


Mora sangat ramah, baik dan sopan. awalnya memang kaget dengar logatnya, tapi lama-kelamaan menjadi asyik.


Mora menjadi teladan untuk adik-adiknya dan bertanggung jawab atas semua keluarga, papa benar-benar kagum terhadap Mora."


"iya pa... Aris merasa mendapatkan seorang Abang yang jauh lebih dewasa dan perhatian, rasanya keluarga kita sangat lengkap dengan kehadiran bang Mora."


"benar itu, Iren kan pernah di gangguan sama anak-anak lain disekolah.


Iren adukan ke bang Mora, dan langsung bertindak. tapi anehnya malah yang membuly Iren suka sama bang Mora. sejak saat itu tidak ada lagi yang membuly Iren.


Bang Mora asyik diajak diskusi, dapat aja gitu solusinya.


Selain kasih sayang dari kak Aris, Iren juga mendapatkan kasih sayang dari bang Mora."


"Iya benar, mama juga merasa kalau Mora itu memperlakukan mama seperti Mama kandungNya.


rasa hormatnya dan cara bicaranya yang begitu sopan."


"itulah yang membuat Papa menjadikan Mora sebagai asisten dan juga mengganggap sebagai anak pertama di rumah ini.


banyak lah kenangan bersama Mora, bahkan Mora tahu kalau Papa lagi ngak badan."


Begitulah kekaguman mereka terhadap Mora, anak perantauan itu mendapat hati di keluarga pak Didit.


Pak Didit dan keluarganya menyiapkan segala sesuatunya yang diperlukan, dan akhirnya selesai juga tinggal menunggu Mora kembali.


"pak.... Bu..... Aris.... Iren......"


Teriak Mora memangil penghuni rumah, satu persatu mereka berkumpul di ruang tamu.


"Pak... Bu... Mora sudah siap, sudah bisa kita berangkat?"


"sudah nak, ibu juga sudah memastikan apa saja yang harus dibawa."


"terimakasih Bu, oh Pak. kiriman dari Jogja sudah sampai di Medan ya pak. dan hasil tes DNA sudah keluar.


Hasilnya adalah bapak keturunan pemuja Begu ganjang, dan itu berdasarkan tes dari kedua sampel rambut yang Mora kirimkan."


"benar-benar ya, bapak ngak pernah menyangka kalau bapak dan keluarga adalah pemuja Begu ganjang.

__ADS_1


Bahkan mendengarkan itu pun bapak tidak pernah dengar."


"kita tidak tahu apa rahasia kehidupan kedepannya nanti, yang penting kita bersatu untuk menyelesaikan ini.


Mora yakin semua pasti ada jalan keluarnya, jika kita bersama-sama, seberat apapun masalah nya bisa kita hadapi."


Pak Didit hanya mengangguk setuju, bukan kali ini Mora memberikan semangat hidup bagiNya.


"sebaiknya kita berangkat saja sebelum macet menghadang kita."


Ujar Mora yang membuyarkan lamunan mereka semuanya.


Mora sudah memesan dua taksi online, dan barang-barang sudah masuk ke dalam bagasi mobil.


Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan, akhirnya mereka berangkat menuju bandara untuk terbang ke Medan.


Macetnya ibukota negara yang membutuhkan waktu hampir 2 jam. setelah drama perjalanan yang begitu macet, akhirnya mereka sampai juga di bandara.


Langsung cek in, dan tidak berapa lama ada pemberitahuan kalau jadwal penerbangan delay satu jam.


Pak Didit memutuskan untuk membawa keluarga ke salah tempat makan yang ada di bandara tersebut.


"hadeh.... sudah lah macet ditambah lagi pesawat nya delay, ada aja ya rintangan nya."


Ujar Iren yang mengerutu, Iren menghela nafas dan kemudian menatap Mora.


"iya-iya bang. nanti oleh-olehnya untuk kak Rohani kan?"


"iya buat keluarga yang lainnya juga, masa cuman buat Rohani aja."


"cie.... telinga bang Mora jadi merah, malu ya?....


Ujar Mora yang tersipu malu, dan hal itu menjadi bahan olok-olokan bagi Iren yang jahil.


"oh iya bang, nanti dari bandara kita naik apa ke rumahnya pak Deh?."


"Rohani sudah membawa mobil untuk kita."


"kak Rohani, bang Gomgom kemana? seharusnya kan sudah sampai bang." tanya Iren yang heran karena Rohani yang akan jemput.


"ngak tahu dek, ntah kemana dulu dia pergi."


"kenapa harus kak Rohani bang? kan banyak tuh taksi di bandara?"


"Rohani yang mau jemput kita kok."


"oh..... biar Abang bisa cepat ketemu ya sama kak Rohani, kebaca tuh modusnya."

__ADS_1


Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Mereka tertawa karena olok-olokan dari Iren, seolah-olah tidak masalah berat yang menghadang mereka.


"ma... Aris, Iren dan Tarni. nanti jika sambutan keluarga pak deh tidak begitu menyenangkan, tolong jangan dibawa ke dalam hati ya."


"iya pah...."


jawab Aris dan serentak, sementara Bu rida istrinya dan Tarni hanya mengangguk.


"ntar Abang temani, pokoknya keluarga Abang ini harus prioritas.


Nanti jangan kaget ya mendengar logat Medan yang agak keras."


"kalau itu dah paham bang, kan sudah ada contohnya, yaitu Abang."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Lagi-lagi Mora menjadi bahan ledekan buat Iren yang sangat jahil dan hal membuat mereka tertawa lagi.


Selesai makan dan mereka semua menunggu di ruang tunggu keberangkatan, dan akhirnya mereka bisa naik ke pesawat.


Mora yang duduk disamping pak Didit memperhatikan nya, dari raut wajahnya terlihat kegelisahan.


"pak.... semua masalah pasti ada jalan keluarnya, Mora akan selalu bersama keluarga kita ini.


Kita harus bersama-sama untuk menyelesaikan masalah ini pak, jika bapak tidak semangat seperti ini, bagaimana dengan kami anak-anak bapak.


Semangat ya pak, kami butuh bapak untuk menyelesaikan semua masalah ini.


Bapak harus kuat supaya kami kuat, bapak tidak boleh lemah karena bapak adalah sumber kekuatan bagi kami."


"terimakasih ya nak, kamu memang benar-benar anak pertama dalam keluarga ku ini, kamu selalu bisa membuat hatiku tenang."


"sama-sama pak, pokoknya kita segera menyelesaikan ini semua. Mora ingin kita kembali seperti semula Pak.


Mora ngak sanggup melihat keluarga kita di ancam teror gaib itu.


Bukan kita yang salah, ini sudah ada dari dulu nya dan tugas kita yang harus menyelesaikan ini dengan secepatnya. Mora yakin kita pasti bisa."


Ujar Mora menyemangati pak Didit, dan mereka saling berpelukan untuk mengisi semangat dalam jiwa yang rapuh.


Mereka berdua terharu satu sama lainnya, dan Bu Rida yang duduk dibelakangnya hanya bisa meneteskan air matanya karena terharu.


Mora adalah pegawai biasa yang diangkat pak Didit menjadi asisten, karena kinerja Mora yang memuaskan bagi pak Didit.


Tapi kasih sayang dari Mora punya tempat di hati keluarga pak Didit, yang dianggap sebagai anak pertama di dalam keluarga.

__ADS_1


Mora notabenenya anak perantauan dari Medan, yang mencoba mengadu nasib ke ibukota negara dan beruntung bertemu dengan keluarga yang sangat baik.


__ADS_2