
Karena merasa terharu sehingga pak Sarma memeluk bapaknya Rohani, kemudian pak Sarma melepaskan pelukannya dan menatap mata pak Rohani.
"warga desa Aek Holong sudah siap pindah, semua barang-barang sudah berada di aula kecamatan.
Begitu juga dengan ternak serta bibit tanaman, kami hanya tinggal menunggu informasi dari pak Rohani."
"baik Sarma, lebih cepat lebih baik. apakah kita bisa pindah ke aula kantor camat nanti sore?
Karena disini sangat menyeramkan pak, sangat dingin dan itu sangat berbeda.
kadang sangat panas, lalu sangat-sangat dingin. takutnya banyak warga yang sakit karena cuaca yang tidak menentu.
Tim sudah ada di aula kantor camat, yang menyediakan makanan dan tempat tinggal sementara buat kita semua."
Lalu pak Sarma menoleh Rohani dan juga Cahaya.
"obat penenang itu hanya dua tiga saja bertahan, dan itu cukup membuat tubuh rileks setelah bangun.
kita bisa pindah secepatnya, karena disini sangat menyeramkan."
Ujar Rohani dan pemangku adat langsung memerintahkan warganya untuk beres-beres barang-barang yang tersisa secara bersamaan.
Pemangku adat juga memerintahkan kepada warga, agar tidak menjauh dari rumahnya dan tidak boleh pergi kemanapun.
Para warga secara berkelompok melakukan persiapan, dan kemudian mengumpulkan barang-barang yang hendak dibawa di halaman rumah pemangku adat.
Atas perintah dari pemangku adat, barang-barang tersebut dimasukkan di dalam mobil yang dibawa oleh rombongan Mora ketika ke datang ke Desa.
Akhirnya pak Didit dan keluarganya, begitu juga dengan Mora, bapaknya serta Joan sudah bangun dan mereka langsung bergerak ke mobil untuk segera pindah.
Pemangku adat tidak ikut bersama mereka, karena harus melakukan perpisahan secara adat di desa ini.
Desa Aek Holong yang harus mereka tinggalkan karena akan diambil alih oleh suatu perusahaan untuk mengeksplorasi kekayaan alamnya termasuk desa Aek Simarmata yang menjadi rumah bagi begu ganjang dan juga para korban nya.**
Para warga sudah tiba di aula kecamatan, dan tenda-tenda sudah berdiri untuk para warga sebagai tempat tinggal sementara sebelum memasuki kampung yang baru.
Kampung yang dibuat pemerintah untuk warga desa Aek Holong karena desanya akan dibuat sebagai benteng pertambangan.
Pak Sarma dan beberapa tetua kampung, serta Mora dan rombongan nya menunggu kedatangan pemangku adat.
Dari kejauhan mereka melihat pemangku adat sudah datang, sejenak mereka tersenyum setelah melihat pemangku adat berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
Bersama pemangku adat, kepala desa, dan perangkat camat.
Ganti rugi atas kebun dan juga rumah diterima oleh para warga desa Aek Holong, dan mereka akan memasuki desa yang baru untuk hidup yang baru lagi.
Ganti rugi dan pembagian surat-surat tanah dan kebun sudah diterima semua kepala keluarga desa Aek Holong.
Kemudian pemangku adat mengumpulkan warganya di aula kecamatan, begitu dengan yang lainnya.
Keluarga pak Didit duduk di hadapan para warga, yang didampingi oleh Mora dan juga Joan.
Sebelum mengampulkan para warga di aula, terlihat pak Sarma dan pemangku adat begitu intens berdiskusi.
"selamat malam bapak-ibu, saya sebagai kepala desa dengan ini mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pemangku adat, pak Sarma, yang sudah bahu-membahu untuk keselamatan para warga.
Terlebih-lebih kepada pak Aris dan keluarga, yang sudah berani datang kemari untuk memutuskan kutukan Begu ganjang ini terhadap warga Ku.
Begitu juga kepada Mora dan pak Mora, serta Joan, yang sudah menemani keluarga bapak Aris untuk memutuskan kutukan ini.
Pak Rohani, terimakasih atas bantuan bapak yang berusaha dan berjuang untuk kami warga desa Aek Holong.
Terimakasih kami ucapkan atas bantuan bapak.
Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya ucapan terimakasih yang bisa aku sampaikan saat ini.
Pemangku adat lah yang banyak berinteraksi dengan warga, alam dan juga semuanya pokoknya.
Amang ....
berikanlah kami nasihat, dan tetaplah ajari kami untuk melakukan yang terbaik untuk hidup kami."
Kepala sudah membuka acara malam, dan kemudian pak Sarma yang berdiri yang memiliki pemangku adat.
"saya adalah perwakilan pemangku adat, dan saat ini juga mewakili seluruh warga adat desa Aek Holong.
Berterimakasih kepada pak Aris dan keluarganya yang bersedia memutuskan kutukan ini.
Mempertahankan nyawa dan segala materi, kepada Mora, bapak Mora, Joan.
Terimakasih ya, kalian telah membantu kami untuk lepas dari kutukan ini. nyawa menjadi taruhannya, terimakasih, terimakasih....
Pak Rohani, terimakasih atas dukungan dan juga perjuangan bapak untuk warga adat kami.
__ADS_1
Sehingga kami bisa mendapatkan tempat yang baru untuk hidup kami yang baru.
Kepala seluruh warga adat, terimakasih atas kerjasamanya dan terimakasih atas semuanya.
Kejadian demi kejadian yang kita alami, kita jadikan pelajaran berharga untuk kita. untuk memulai kehidupan yang baru.
Menjadi kaya raya tentu impian semua orang, tapi jangan dengan cara berhubungan dengan iblis.
Kita mulai kerja keras, berdoa dan tekun. kita akan memulai hidup yang baru di tempat yang baru.
Bapak-ibu yang saya hormati, sesuai dengan perjanjian dengan parbegu ganjang.
Jangan lagi kita ke desa Aek Holong dan juga desa Aek Simarmata.
Jika masih ada yang berani kesana, seketika dia akan meninggal, dan kutukan itu akan berakhir di keturunan berikut nya.
Pemangku adat memberikan usul, barang siapa yang ketahuan memasuki desa Aek Holong dan desa Aek Simarmata.
Maka akan di usir dari kampung kita, demi kenyamanan kita bersama.
Apakah setuju bapak-ibu?"
Setuju.......
Jawab para warga serentak, itu karena mereka sudah mengalami kepahitan hidup karena berurusan dengan begu ganjang.
"bapak-ibu kita sudah mengalami peristiwa yang pahit, yang banyak meninggalkan luka yang dalam.
Banyak anggota keluarga kita yang harus menjadi korban begu ganjang, dan hendaklah kita saling menjaga satu sama lain agar tidak terjerumus lagi menjadi parbegu ganjang.
Masih banyak hal lain yang bisa mendatangkan rejeki bagi kita, ada sawah, kebun dan ternak.
Itu sudah bisa menghidupi keluarga kita masingmasing dan yang terpenting itu adalah kerja keras dan bukan menjadi pemuja iblis.
Kita petik pelajaran dari kejadian yang alami, peristiwa yang pahit dan memilukan.
Semoga kejadian pahit ini tidak terulang lagi kepada kita dan kelak keturunan kita nantinya.
Mari kita bergandengan tangan untuk menjaga satu sama lain, kita adalah keluarga dan sudah saatnya kita saling melindungi satu sama lainnya."
Seketika hening setelah mendengarkan penuturan dari pak Sarma, dan mereka mengenang masa-masa pahit.
__ADS_1
Dimana mereka di teror oleh begu ganjang dan juga arwah pemuja nya serta arwah korban nya.
Pahit memang dan juga sangat menyakitkan, banyak anggota keluarga yang menjadi korban yang meninggal luka di hati.