
Sempat kaget ketika pak Sarma memberikan pisau yang berkarat itu, tapi bapak mengedipkan matanya agar aku menerima pisau tersebut.
"jika kalian mendengar suara tagading, itu artinya kalian bertiga segera berangkat ke pondok itu.
Selanjutnya roh leluhur akan membimbing untuk menyelesaikan semua perkara ini, laksanakan sesuai dengan mimpi Mora."
Pak Sarma tiba-tiba berhenti bicara dan meminta kami untuk mendengar.
Yah....
Suara tagading yang menyatu dengan gong, sudah terdengar dan suara itu terdengar dari sebuah bukit.
"berangkat lah."
Ujar pak Sarma, dengan posisi kami saat ini, pak Didit di depan dan bu Rida yang membawa bakul berisi kepala kerbau di tengah-tengah kami berdua.
Semakin jauh melangkah dan suara itu semakin jelas dan begitu kuat, seolah-olah memakai banyak pengeras suara.
Tapi tidak mungkin, karena ini adalah hutan dan tidak ada sumber arus listrik.
Jalan sedikit mendaki dan terdengar suara air terjun, dan akhirnya kami sampai di gubuk tersebut.
Pondok yang beratap jerami dan atap masih hijau, persis seperti mimpi. air terjun yang terlihat karena bantuan senter yang di kepala ku ini.
Suara tagading itu sudah berhenti, kini yang terdengar suara air terjun dan suara hewan dari sekitar pondok.
Lalu bu Rida meletakkan bakul itu di dalam pondok, kemudian kami bertiga berkumpul di depan pondok.
Prak.....bram......
Tubuhku di dorong oleh bu Rida hingga terlempar sampai ke gubuk dan merobohkan gubuk tersebut.
Berusaha bangkit walaupun badan ini rasanya sakit, terutama di bagian betis ini.
Setelah aku periksa ternyata betis ku tertancap kayu kecil, perlahan aku cabut dan kemudian menempel dedaunan yang telah aku remas lalu membalut dengan kemeja yang aku kenakan.
Perasaan aku menabrak bakul itu, tapi bakul itu tetap di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
Lalu meraih center yang sudah terletak di samping bakul tersebut, lalu aku arahkan ke halaman pondok.
Pak Didit dan bu Rida, berdiri di depan pondok dengan kaku.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Terdengar lagi suara gondang, dan perlahan-lahan bu Rida menari tortor yang di ikuti oleh pak Didit.
Tidak berapa lama kemudian bu Rida mengambil kepala kerbau yang ada di pondok, dimana pondoknya sudah hancur.
Lalu bu Rida meletakkan bakul tersebut di tengah halaman pondok.
__ADS_1
"nga ro be hami oppung di sopo-sopo mon, nga di boan hami be tanduk ni horbo, siboto suhut jala si boto utian."
(kami sudah kakek di pondok mu ini, membawa tanduk kerbau, sebagai tanda.)
"Saunnari marpangido ma hami, putus ma sude sian pinoppar hu hadangolon."
(sekarang saya memohon agar memutuskan kutukan penderitaan ini).
haaaaaaaa......... uakhr............. hoooooooooo...
Setelah pak Didit berkata demikian, dan suara yang menggelar itu terdengar.
Apakah pak Didit kesurupan lagi?
Lalu aku bangkit dan mendekati pak Didit, terlihat bu Rida kembali ke arah pondok yang sudah roboh itu.
Kemudian mengambil dua ayam jantan hitam dari tumpukan benda-benda yang berasal dari robohnya pondok.
Entah siapa yang meletakkan ayam jantan hitam itu, dan yang paling sadis adalah bu Rida mematahkan kepala ayam jantan hitam itu satu persatu.
Sudah seperti mematahkan timun, kepala ayam terpisah dari tubuhnya, lalu darah yang mengalir dari ayam itu di serak kan ke area pak Didit.
Bla..... bla.....bla.....bla......
Pak Didit kemudian bergumam, dan kata-kata itu sulit untuk dimengerti.
Kemudian bu Rida mengambil cangkul lagi, dan entah dari mana cangkul itu di ambil nya.
Itulah pertama kalinya leluhur pak Didit menjadi pemuja begu ganjang, dan itu tidak boleh terjadi lagi.
Seketika aku mendekati bu Rida yang sudah menggali tanah untuk kuburan suaminya, lalu merebut cangkul itu dari tangan nya.
prak..... plan.......
"ah.....ah......."
Bu Rida mendorongku hingga terpental ke gubuk yang sudah roboh itu, dan kali ini tanganku seperti terkilir.
Terus mencoba bangkit dan berjalan perlahan ke arah bu Rida, dengan tangan kiri ini dan mencoba merebut cangkul itu.
Ah......ah.........ah......... ah......... ah.........ah.........
Bu Rida berteriak tepat di telinga Ku, dan itu sangat memekakkan telinga ini.
prak...plas.....
Cangkul itu akhirnya bisa aku rebut dan sebagai imbalannya, aku terpental hingga ke sungai dan kaki ku sepertinya patah.
Dengan cara merangkap keluar dari sungai yang berpegangan dengan cangkul tadi dan tiba-tiba saja cangkul itu hilang dari gemgaman Ku.
__ADS_1
Terus merangkak dengan mengandalkan tubuh Ku dan juga tangan kananku.
Akhirnya aku menggapai pak Didit yang sudah memegang kepala kerbau itu.
Entah kekuatan dari mana, aku bisa berdiri dan menendang kepala kerbau itu hingga ke sungai yang deras itu.
Melihat kepala kerbau itu sudah hanyut ke sungai, dan pak Didit mencekik ku dengan begitu kuat.
"sadar pak, ini aku Mora. anak pertama bapak, sadar pak...."
Cekikan itu semakin kuat, dan aku meraih tanah yang agak lembab dan mencampakkan ke wajah pak Didit.
haaaaaaaa....... Haaaaaaaa....... Haaaaaaaa......
Pak Didit berteriak seperti orang kesakitan dan kemudian bu Rida mencekik ku lagi, dan aku melakukan hal yang sama.
Haaaaaaaa...... Haaaaaaaa....... Haaaaaaaa......
Pak Didit dan bu Rida berteriak dan teriakan itu sangat kuat dan memekakkan telinga ini, dan rasanya sangat sakit.
Bruk...... bruk......
Pak Didit dan bu Rida pingsan, dan kemudian aku merangkak ke pak Didit.
Lalu menarik tangannya setelah itu menarik tangan bu Rida.
Kemudian aku memang tangan mereka berdua, dan seketika itu bulan purnama begitu cerah.
Langit biru dan beberapa bintang menghias langit.
Semua tampak indah, sementara seluruh tubuhku rasanya sangat sakit.
Berdenyut-denyut terutama di bagian kedua paha dan tangan kananku.
"muliate ma oppung, nungga didongai ho pinoppar hu laho manggotap sidangolon i. sai oppung mula jadi nabolon ma namangaramoti ho oppung."
(terimakasih cucuku, sudah engkau temani keturunan itu untuk menyelesaikan penderitaan ini, semoga Tuhan membalas semua kebaikan Mu).
"Dungo ma oppung, boan ma sian i pinoppar hi. mulak ma hamu, harana nungga sae sude. tolu do sibolis di bean holon ni roha."
(bangunlah cucuku, bawa lah pergi keturunan Ku itu, pulang lah kalian karena iblis sudah kalah dengan kebaikan mu)
Sekilas terdengar suara orang bicara, dengan menggunakan bahasa Batak.
Terlihat samar-samar pak Sarma dan pemangku adat datang.
"Mora..... jangan tidur ya, tunggu sebentar lagi, sudah hampir selesai.
Mora.... Mora....Mora ...."
__ADS_1
"iya...."
Pak Sarma berhenti memanggilku setalah menjawabnya, dan kemudian pak Sarma membopong tubuhku ke arah air terjun.