KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Aris kejang-kejang dan Tidak Sadarkan Diri seperti Pak Didit.


__ADS_3

POV Rohani.**


Tidak berapa lama kemudian Aris juga mengalami hal sama dengan papa nya, dari pundak kirinya keluar sinar yang sangat silau dan kemudian kejang-kejang.


Joan kemudian memercikkan air tersebut ke wajahnya Aris, dan akhirnya Aris tidak sadarkan diri.


Setelah itu tubuh Aris dibaringkan dekat dengan Papa nya, Iren dan mama nya serta Tarni hanya bisa menangis dan hanya Rohan yang berusaha menenangkan mereka.


Sementara Joan terlihat gelisah menunggu kedatangan Gomgom, dan tidak berapa lama bel pintu berbunyi pertanda ada orang yang ingin masuk.


Gomgom, Oppung Doli Saur dan Cahaya yang datang dan mereka langsung mendekati ranjang tersebut dimana pak Didit dan Aris di baringkan.


"aha di baen ho pung?"* dialog Batak.


(apa yang kamu telah perbuat?)


oppung Doli Saur bertanya kepada Joan, hal itu karena pak Didit dan Aris sudah terbaring tidak sadarkan diri di ranjang itu.


"air percikan memakai rendaman beras dan menggunakan batang sereh."


Oppung Doli Saur hanya mengangguk seperti nya beliau paham akan tindakan Joan, tetapi tidak dengan yang lainnya.


Hal itu tentunya mengundang rasa penasaran, bagi yang lainnya terutama Rohani yang sedari tadi ingin bertanya kepada Joan akan tindakan nya.


"Joan, itu tadi percikan apa? dan guna nya untuk apa?" akhirnya Rohani berani bertanya kepada Joan.


"begini kak, ada kawan waktu lomba nyanyi itu dan dia itu daerah luar Medan.


Kawan itu bercerita kalau sepupu nya juga pernah mengalami hal seperti ini, maksudnya oppung dari sepupu nya ini adalah par Begu ganjang.


Ketika ada yang kejang-kejang dari waris Pemuja Begu Ganjang itu, keluarga memercikkan air rendaman beras menggunakan batang sereh yang sudah di memarkan."


Jelas Joan kepada kakak nya, dan hal itu tentunya sulit untuk diterima akal sehat kakak nya, dan itu memang di luar nalar nya.


"kak Ani, ini Cahaya sudah membawa peralatan medis. yuk kita cek dulu keadaan bapak dan Aris."


Rohani hanya mengangguk dan mulai memeriksa pak Didit, sementara Cahaya memeriksa keadaan Aris.


Rohani dan Cahaya bergantian memeriksa pak Didit dan Aris karena mereka tidak menemukan kejanggalan dalam tubuh pak Didit dan Aris.


"Cahaya tidak bisa menyimpulkan apapun kak."


Ujar Cahaya kepada Rohani, dan Rohani hanya mengangguk ke arah Cahaya kemudian menoleh ke arah Bu Rida.


"Bu, Iren dan mbak Tarni. kami berdua sudah periksa bapak dan Aris secara berulang.


Tapi keadaan bapak dan Aris itu normal, layaknya seperti orang yang sedang tertidur."


Jelas Rohani kepada Bu Rida, dan kemudian oppung Doli Saur langsung melihat ke arah pak Didit.

__ADS_1


"pas doi pung, Alana amatta on sahit gaib do." *dialog Batak.


"begini Bu, bapak dan Aris jelas tidak terdeteksi oleh medis. karena ini adalah perbuatan dari yang gaib."


Gomgom menerjemahkan ucapan dari oppung Doli Saur kepada Bu Rida.


"jadi oppung Doli, apa yang harus kita lakukan?"


Oppung Doli Saur akhirnya menoleh Joan yang bertanya kepadanya.


"tapaima ma Jo si Mora, Alana holan Oppung Dison namangatusi sude da na on.


(kita tunggu saja si Mora, karena hanya oppung Dison yang paham akan semua ini)


jadi saunnari holan namanjaga ma hita na boi, paima hon si Mora.


(kita hanya perlu menjaga pak Didit dan Aris sebelum Mora kembali ke mari).


Penuturan dari Oppung Doli Saur di terjemahkan oleh Gomgom, dan mendengarnya Bu Rida dan Iren hanya menarik napas panjang.


Seketika suasana menjadi hening, dan Joan mendekati pak Didit dimana tangannya di pegang oleh Iren.


"pak....


Cepat lah bangun, bapak dengar Joan nyanyi dengan iringan gitar baru Joan.


"ma... papa menggenggam tangan Iren." ujar Iren yang memotong pembicaraan Joan.


"masa sih kak?"


Joan terlihat penasaran demikian juga dengan Bu Rida dan akhirnya Bu Rida memegang tangan Aris.


"bang Aris, oh pak Didit. pokoknya nanti kita pergi ke Brastagi."


'haaaa.....


ucap Bu Rida, karena memberikan respon yang sama seperti yang di ucapkan oleh Iren.


Joan semakin semangat dan kemudian duduk diantara pak Didit dan Aris kemudian memegang tangan mereka berdua.


"Joan, yang sopan dong. ibu dan Iren saja di bawah, masa kamu di atas seperti itu?"


"ngak apa-apa Ani, biarkan saja."


Ujar Bu Rida menanggapi perkataan dari Rohani.


"pak, Joan panggil saja amangboru ya. kan bang Mora sudah mengganggap pak Didit sebagai bapak nya.


Joan memanggil bapak nya bang Mora dengan panggilan amangboru, jadi sekarang pak Didit akan Joan panggil amangboru."

__ADS_1


"ha.... Joan.....


seperti setuju dengan nama panggilan itu, ini ibu di genggam dengan sangat kuat." Ucap Bu Rida seraya tersenyum.


"kok ibu lagi, bou dong. setuju kan kalau Joan panggil Bou?"


'haaaa......


Bu Rida hanya tersenyum, karena protes dari Joan membuat genggaman tangan itu seperti semakin kuat.


"papa juga semakin kuat gemgaman nya ma." ujar Iren kemudian.


"Joan, ngoceh lagi ko (kamu). siapa tahu dengan suara bising ko itu pak Didit dan Aris bisa bangun."


"agak Laen kakak ini, panggil amangboru."


'haaaa.....


Mereka semua serentak berkata demikian, karena pak Didit dan Aris seperti tersenyum sembari menggerakkan jarinya.


"amangboru, bang Aris. klen dua harus tau ya, kalau Brastagi itu sangat indah dan sejuk. pasti nya akan membuat suasana hati menjadi sejuk dan pikiran lempang nantinya."


Begitu ucap Joan, dan setiap kali Joan ngoceh. pak Didit dan Aris memberikan respon.


Tapi hanya respon yang terjadi, pak Didit dan Aris tetap tidak sadarkan diri.


Malam sudah semakin larut, Gomgom akhirnya pulang bersama Oppung Doli Saur ke rumah Mora sementara Cahaya tinggal di Apertemen.


Cahaya dan mbak Tarni menyediakan makan malam, setelah selesai masak. Cahaya menyupai bu Rida makan, sementara Rohani menyupai Iren makan.


Mereka berdua di suapi makan karena tidak makan, dan itu di paksa oleh Joan.


Joan yang anggap bocah nan reseh tapi bisa memaksa bu Rida dan Iren untuk makan walaupun di suapi oleh rohani dan Cahaya. tapi setidaknya perut mereka tidak kosong.


Selesai makan malam, mereka semua tetap berada di ruang tamu itu. untuk menjaga pak Didit dan Aris yang terbaring.


"Ani, apa perlu kita pasang infus?"


"tidak perlu Bu."


"uhmmm"..


Joan menegur kakaknya karena masih berkata Bu.


"ngak perlu bou, kita lihat saja dulu perkembangan beberapa jam ini."


Jawab Rohani kepada Bu Rida, yang sudah memanggil nya dengan panggilan Bou seperti yang dikehendaki oleh Joan.


(bou adalah panggilan kepada istri dari saudara perempuan nya pihak Papa, dan ini berarti sudah sama seperti panggilan rohani ke orang tua nya Mora.).

__ADS_1


__ADS_2