KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Joan yang Bertingkah Aneh.


__ADS_3

Terasa goyang dan pandangan ku buram, sepertinya tubuhku melayang. tapi nyata ngak, karena aku masih bisa memegang tikar pandan yang aku duduki bersama warga lainnya.


Entah kenapa tubuhku begitu berat dan tangan Joan terasa memegang tubuh Ku.


"tenang ya bang Mora, tarik napas, buang dan tarik lagi dan buang."


Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh Joan dan melakukannya secara berulang-ulang dan akhirnya baru terasa seperti sediakala lagi.


Perlahan semuanya sudah seperti semula, tenang dan tidak bergoyang.


Lalu aku menatap bapak yang berada di sampingku yang menatapku dengan kekwatiran.


Lalu aku menatap yang lainnya, kemudian mata ini menatap pak Didit.


"ah...."


Joan menutup kedua mataku ketika aku berteriak.


"tenang bang, tenang..."


Kedua mataku ditutup oleh telapak tangan kanan Joan, dari belakang tubuhku. lalu memegang leher.


"nanti akan Joan lepas pelan-pelan ya, abang jangan kaget dan jangan takut.


Derajat kita jauh tinggi dari makhluk-makhluk itu, jangan takut kepada mereka."


Lalu Joan melepaskan telapak tangannya di mataku secara perlahan.


"tundukkan kepala abang."


Hanya bisa menuruti perintah dari Joan, dan kedua mata ini tetap aku tutup.


"sekarang lihat amangboru pak Aris secara perlahan ya."


Pinta Joan, lalu aku perlahan mengangkat pandangan ini dan mengarah ke pak Didit.


"ya Tuhan, mahluk apa itu Joan?"


Joan terus memegang pundak ku dari belakang.


"jangan takut bang, lihat terus dan jangan takut. ingat derajat kita jauh lebih tinggi dari mahluk itu.


itu adalah iblis, jangan takut. iblis harus dilawan, terus tatap dan jangan lepaskan pandangan mu bang.


Jangan lihat ke atas pandang aja lurus, lihat lurus dan jangan lihat ke atas. apapun yang terjadi jangan lihat ke atas.


Apa yang abang lihat?"


Dari perintah Joan, kemudian bertanya. apa sebenarnya yang terjadi.


"sepasang kakek dan nenek tua, seperti yang ada di mimpiku.


Dibelakang ada mahluk aneh, berbulu tebal, kedua telapak tangan nya besar, awalnya mirip seperti kakek itu.


tapi wajahnya tidak terlihat lagi, sepertinya makhluk itu bertambah tinggi."


"tenang bang Mora, jangan takut. apapun yang terjadi jangan lihat ke atas.

__ADS_1


Apa kata kakak itu?"


"dia masih diam Joan, tapi dia menunjuk ke arah bakul yang di berada diatas kepala istri oppung Dison."


"okey.....


terus tatap dia, jangan lihat ke atas. tatap dan perhatikan kemana arah tangannya menunjuk."


Joan seperti mengulangi perkataan nya, dan itu membuatku semakin ketakutan.


"si nenek menunjukkan ke arah bakul, lalu....


ke arah kepala kerbau, gabah padi itu dan kemudian menunjuk ke arah bakul itu.


Kenapa nenek itu menunjukan ke arah kepala Bu Rida?"


Joan diam tapi masih memegang pundak ku dari belakang.


"ulos warna apa dipakai kakek dan nenek itu?"


Joan malah bertanya lagi, dan benar-benar mengabaikan pertanyaan dariKu.


"hitam, seperti yang di ulos kan kepada orang yang meninggal.


Si nenek mengangkat tangan nya ke kepalanya, seperti seseorang yang membawa benda di kepala.


Lalu mereka berjalan dengan pelan-pelan ke arah belakang rumah oppung Doli Dison."


"kemana makhluk yang seram itu?"


Gadabuk.....


Joan jatuh tepat dipangkuan, dan kakek nenek itu sudah menghilang dari pandangan Ku.


"pegang tangannya dan meludah lah di kepalanya."


Pinta pak Sarma, dan hal itu aku lakukan. kemudian mengusap air ludahku di keningnya.


"Joan....."


Joan sudah membuka kedua matanya dan perlahan bangun dan duduk disamping Ku.


Alunan gondang berhenti, begitu juga dengan istri oppung Doli Dison yang berhenti menari tortor.


Tapi oppung Doli Dison masih bertapa, seperti yang sejak pertama kali melakukannya.


Lalu pak Sarma dan istri oppung Doli Dison, duduk bersila dihadapan oppung Doli Dison, mereka seperti sedang bertapa secara bersamaan.


"Joan, apa yang sebenarnya terjadi?"


Tatapan Joan begitu sayu, dan ibu-ibu yang duduk di belakang kami, memberikan Joan air minum. lalu Joan meneguknya, setelah itu barulah Joan menatapku dengan tatapan sediakala.


"abang adalah orang yang paling dekat dengan keluarga amangboru pak Aris, dan Abang adalah cucu dari kakek buyut Abang yang hendak menyelamatkan kakek buyutnya amangboru pak Aris.


Abang di tunjuk sebagai penunjuk jalan untuk pak Aris dan keluarganya untuk mengakhiri kutukan begu ganjang ini bang."


"lalu, kenapa kamu ngotot agar Abang mau memakan pisang dan rambutan itu?"

__ADS_1


"pisang dan rambutan itu adalah media sebagai penghubung antara bang Mora dan kakek buyutnya pak Aris.


kedua buah itu di ambil dari sekitar pondok kakek buyut pak Aris."


Penjelasan Joan semakin membuat ku bingung, entah kemana arah pembicaraannya.


"Abang ngak usah bingung, sebentar lagi oppung Doli Dison akan menjelaskan secara rinci kepada abang."


"kenapa kamu pingsang? dan kenapa harus Joan yang memberikan buah itu kepada Abang?"


"nanti dijelaskan oleh Oppung Doli Dison, Joan kurang pandai untuk menjelaskan Nya."


Ya Tuhan.....


apalagi ini, kenapa semua ini penuh dengan teka-teki yang membuat ku semakin bingung.


Pak Didit dan keluarganya masih terlihat seperti biasanya, dan perhatian kami tertuju kepada Oppung Doli Dison yang masih bertapa dengan istrinya dan juga pak Sarma.


apa yang mereka lakukan?


dan Kenapa mereka selesai bertapa?


"Joan, apa yang mereka lakukan?"


Joan memegang jari telunjuk Ku, karena menunjuk ke arah oppung Doli Dison.


"jangan sembarang menunjuk, dimana Abang berada. utamakan adab yang baik. dimana tanah di pijak disitu langit dijunjung."


ujar Joan kepadaKu dengan raut wajahnya yang serius dan itu benar-benar membingungkan.


"Oppung Doli Dison lagi mediasi untuk meminta petunjuk dari oppung mula jadi nabolon.


biarkan beliau menyelesaikannya dan itu pasti selesai.


oppung Doli Dison adalah Pemangku Adat yang berilmu di desa ini, dia adalah keturunan dukun yang bisa menghapus kutukan begu ganjang ini."


Tutur Joan dengan begitu serius, disini Joan terlihat jauh lebih dewasa dari tutur katanya.


"kenapa makhluk yang berbulu dan seram itu masuk ke tubuh pak Didit?"


"nanti dijelaskan oleh Oppung Doli Dison."


Jawab Joan yang membuat ku semakin bingung.


"sepertinya Joan mengetahui apa yang Abang lihat itu?"


"nanti akan dijelaskan oleh Oppung Doli Dison."


Jawaban yang sama dari Joan, sepertinya percuma bertanya kepada Joan karena jawaban selalu sama.


"apapun yang terjadi, jangan melihat ke atas. jika abang bertemu dengan makhluk itu lagi, jangan lihat ke atas. tundukkan pandangan dan teguhkan hati.


jangan mau kalah dengan Iblis, lawan dan lawan."


Ucap Joan lagi dengan begitu serius, sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanya. tapi jadi malas.


Karena pastinya jawaban dari Joan akan sama, yaitu menunggu oppung Doli Dison untuk menjelaskannya.

__ADS_1


__ADS_2