KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Kakek dan Nenek Mora Meninggal.


__ADS_3

POV PAK DIDIT.


**


Pagi sudah tiba, pak Didit terbangun karena merasa lapar. jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pukul, sementara yang lain masih tertidur.


Mora, Aris, Gomgom dan pak Argap yang masih tertidur di bangunkan satu persatu.


"Aris bangunkan mama ya, suruh masak, papa lapar nih."


"Ya pa, Aris juga lapar."


Dan ternyata istrinya serta rombongan nya sudah bangun, dan secara bersamaan mereka keluar dari kamar, dan menuju ruang tamu.


"Maaf in mbok ya, karna terlambat bangun"


"Ngak apa mbok, orang juga kita terlambat bangun"


'terlihat si mbok merasa bersalah, karna terlambat bangun.'


"Ya dah, mbok masak dulu ya"


'dan Seketika itu juga mereka semua mengikuti si mbok.


"Bu......ngak usah ikut ya, temani Bapak aja ya"


'terlihat bu Rida hanya manggut-manggut tanda setujui, dan istrinya pak Didit mendekati ke arahnya.


"Gimana perasaan papa? Ada yang sakit pak?"


"Ngak ada ma."


Kembali kami terdiam, seketika Iren datang sambil membawa nampan berisi minuman teh panas berikut dengan roti.


Untuk mengganjal perut ini, kami minum teh yang disajikan Iren serta makan roti.


Sesaat kami hanya terdiam.


Mora beranjak dari tempat duduk nya, sembari mengambil handphone nya yang ter charger, sesaat kemudian Mora sibuk bertelepon dengan seseorang, mungkin urusan kerjaan atau menelpon bapak nya.


Dan setelah selesai bicara Mora kembali duduk bersama kami, terlihat raut wajah nya sedih, sambil melirik adik nya itu.


"Gomgom, mayat oppung sudah di rumah kita jam sembilan pagi, tadi ambulan dari rumah sakit mengantarkan sampai di rumah."


"Malang kali nasib oppung ya bang, sudah lah kampung nya horor dan meninggalkan kita pula bang.


Bang.... Hari ini juga saya harus balik ke asrama ya bang, nanti mintak izin lagi, untuk pulang ke Medan."


"Habis makan aja ya dek, nanti naik apa ke asrama apa dek?"


"Gampang bang, naik bus aja, perjalan empat jam nyampe kok."


"Ya dah kalau begitu, uang saku masih ada?"


"Masih bang."


"Nanti kabarin ya kalau kalau dapat izin nya."


"Siap bang."


Tak berselang Mbok Ayu memanggil untuk makan, di meja makan sudah terhidang makanan, setelah selesai menyantap makanan yang disajikan, mereka pun menuju ruang tamu.


"Mora....apa tindakan kita selanjutnya?"


Mora bergeming sambil menatap pak Didit, sesaat Mora terdiam.

__ADS_1


"Pak... sebelum nya saya mintak izin untuk pulang ke Medan, Tapi alangkah baik nya kalau kita sama-sama pulang ke Medan, Mora akan melihat oppung ku untuk terakhir kali, dan bapak serta keluarga ke rumah pak deh bapak.


Pak deh Bapak yang di sudah bapak ceritakan Minggu kemarin itu pak."


"Iya pak... menurut mama saran dari Mora benar, kita bisa melayat ke rumah Mora juga dan mencari informasi dari keluarga pak deh.


Bu Rida setuju dengan saran dari Mora, dan anak-anak nya Juga setuju.


"Nanti pak.... Bu.... Saya akan terus menggali informasi nya dari keluarga, tentang apa yang kita alami ini, dan bagaimana cara mengakhirinya."


Pak Didit hanya mangguk untuk memberikan persetujuan, karna saran dari Mora tepat menurut pak Didit dan keluarganya, seketika pak Didit menatap ke keluarga pak Argap.


"Pak Argap saya sungguh tidak nyaman jika pak Argap dan keluarga tinggal disini, kami punya apartemen dekat daerah sini, bapak dan keluarga tinggal Disana ya, sampai masalah ini selesai, dan tolong perhatikan sesekali kemari pak ya pak."


Ujar pak Didit ke pak Argap, orang kepercayaan selama ini.


" Baik pak."


Keluarga pak Argap sudah lama bekerja pada keluarga pak Didit, mengurus kontrakan yang ada disini, Pak Didit tidak mau terjadi sesuatu hal terkait dengan peristiwa ini.


Gomgom kini sudah berdiri di depan kami sambil menenteng tas nya. sikap tegak nya khas seorang polisi yang selalu bersiaga.


"Pak...Bu... saya pamit dulu balik ke asrama ya." ucap kepada kami tapi ...


Sangat jelas Gomgom melirik Tika, seakan-akan ada sesuatu yang di mintak.


Kami pun mengantar Gomgom masuk bus yang sudah di pesan nya.


Dan saat itu kami semua melihat Tika memberikan secarik kertas ke Gomgom.


"Gomgom.... Gomgom.... keadaan genting gini masih kau ingat asmara ya"


Gomgom hanya nyengir ke Abang nya itu sambil naik ke bus jemputan itu. Dan kami pun tertawa karna tingkahnya Gomgom, setelah bus nya berlalu kami pun masuk lagi.


"Pak.....


Tanya Mora, yang ingin menelusuri alamat pak Deh yang dikirimkan lewat pesan WhatsApp.


"Sebentar biar bapak buka dulu WA nya"


Ini alamatnya bapak teruskan ya.


Pak Didit meneruskan pesan itu ke Mora terlihat Mora membaca pesan WA nya sambil berpikir.


"Komplek luhur blok II no 128 B sidorame barat XX , Medan perjuangan, kota Medan.


Alamat ini pak... Saya tau ini pak....


Ngak jauh kok dari tempat tinggal kami, di Medan."


"Begitu ya Mora ?


Istri pak Didit yang menyahut Mora, karena istri Ku sangat antusias mendengarkan informasi tentang keluarga pak deh .


"Ya Bu..


Tapi kan Bu....pak....


Apakah Bapak sama ibu sudah pernah ke ke rumah pak deh bapak?.


Istri dan kedua anaknya langsung melirik pak Didit dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Hanya dua kali bapak ketemu dengan keluarga pak deh, pertama waktu wisuda saat itu juga anak pak deh bernama Indra dan bapak Sama-sama wisuda.


Setelah selesai wisuda, saya mengajak keluarga pak deh ke rumah yang di depan itu untuk sekedar makan.

__ADS_1


Bapak dan mamak, orang tua ku sudah menawari untuk tinggal walaupun cuman satu malam aja, tapi keluarga pak deh nolak, dan keliatan seperti terburu-buru.


Waktu kami pun nikah keluarga pak deh hanya sebentar aja, dan juga kelihatan seperti terburu-buru juga.


"Trus pak, bapak gak tanya kenapa keluarga pak deh bapak itu selalu buru-buru?"


Tanya Mora yang terlihat sangat penasaran akan penjelasan dari pak Didit, pak Deh dari pak Didit terdengar aneh bagi Mora.


"Pernah saya tanya sama bapak, tapi...


Saya hanya disuruh diam dan tidak usah menghubungi pak deh ku."


"Pah.... Dapat dari mana nomor handphone nya pak deh?"


"Itu dari Indra anak nya pak deh, dulu waktu kami kuliah papa mintak, tapi tidak sekalipun menjawab panggilan telepon dari papa.


Istri pak Didit sangat-sangat antusias, dan Aris melirik nya. seolah-olah penuh pertanyaan dan rasa penasaran.


"Kenapa Papa ngak pernah kenalin ke kita ke pak deh nya papa?"


Pak Didit menatap wajah Iren dan Aris wajah penasaran.


"Aris..... Iren...... Papa juga sangat berharap bisa mengenal keluarga papa ini ke keluarga pak deh, tapi mau gimana lagi, setiap papa telpon ngak pernah dianggap, begitu juga dengan Indra."


"Kenapa bisa gitu ya pa?"


Aris menanyakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Papa nya.


"Papa ngak tau Ris."


Sejenak mereka semua pun terdiam dengan pikiran nya masing-masing, kemudian Mora melihat ke arah pak Didit.


"Pak.... Bu.... kita pulang dulu ke Jakarta ya pak, karena pakaian yang ku bawa hanya dikit, dan setelah nya Mora juga mau ke kantor dulu, ada beberapa hal yang mau ku urus terkait kerjaan."


ujar Mora, dan itu membuat Bu Rida menatapnya.


"Apa nanti ngak kelamaan Mora pulang ke Medan? Kan jasad nya oppung mu dah di nyampe di rumah kalian nak?"


"Ngak Bu, karna bapak pasti buat kan pesta adat saur matua nya Bu, dan menunggu sanak saudara yang lainnya juga."


"Ikan sayur mayur bang?"


Terlihat Mora tersenyum ke pada Tika atas pertanyaan yang di lontarkan nya.


"Bukan ikan sayur mayur Tika, tapi pesta saur matua.


Jadi pesta saur matua, dilaksanakan karna anak-anak dari oppung kami, atau kakek dan nenek kami sudah menikah semua, dan telah punya cucu dari anak laki-laki nya dan juga sudah punya cucu dari anak perempuan Nya.


Maka di buatkan lah pesta saur matua, nah itu lah pesta adat terakhirnya.


"Abang bilang pesta adat terakhir nya, berarti ada dong adat awal nya?"


Laila yang dari tadi diam saja, kini ikut nimbrung, karna merasa tertarik dengan penjelasan mora.


"Jadi suku Batak Toba mulai dari lahir, dan mati nya pun pake adat.


Saat lahir di buatkan lah adat nama nya mar esek-esek, saat menikah di buat adat juga yaitu adat pernikahan, saat mati di buatkan adat penutup nya.


Oh....oh......oh...oh....


Dengan serentak semuanya mengatakan oh...oh....oh


"Oh ya pak, Bu ni sudah ku pesan tiket pesawat buat kita, dan cek in nanti jam enam sore."


"Ok Mora, terimakasih"

__ADS_1


Ucap pak Didit kepada Mora, yang selalu membantu nya di saat yang di butuhkan dan menjadi orang kepercayaan dari pak Didit mengurus jaya group.


__ADS_2