KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Surat Lusuh.


__ADS_3

Pagi Nya kami sudah bersiap-siap untuk mengeledah rumah masa kecil pak Didit, setelah selesai sarapan kami langsung menuju rumah klasik itu.


"Ok... sekarang kita bagi tugas, mama, Iren, Tarni dan mbok, periksa kamar papa.


Pak Argap, Aris, dan Gomgom periksa kamar Mbah kakung, sementara papa dan Mora memeriksa kamar atok Tarno, jika ada benda aneh bawa kemari dan akan kita bahas secara bersama-sama." ucap pak Didit yang membagi tugas kami masing-masing.


Akhirnya kami pun bergerak sesuai dengan tugas masing-masing, aku dan pak Didit pun langsung menuju kamar atok Tarno.


"Pak ada berapa kamar di rumah ini?"


"Disini ada 5 kamar, 2 kamar yang di belakang itu ditempati oleh keluarga pak Argap dan kedua anak perempuan nya sebelum pindah ke depan"


"Pak kamar ini seperti tidak pernah di bersihkan ya.!


"Iya ...karna keluarga pak Argap tidak berani masuk ke kamar ini, jangan kan pak Argap, bapak pun ngak berani masuk ke sini."


"Pak ini ada kotak."


"Kumpulkan dulu, mari kita cari yang lain, Mora, ini kain apaan jumlahnya ada tiga."


"Ini namanya ulos pak, dan jenis nya, ulos saput, biasa nya di berikan untuk orang yang meninggal."


"Pak....masih ada yang lain kah?"


"Seperti nya tidak ada lagi, keluar yok, merinding bapak disini." ujar pak Didit


"Sama pak, Mora juga pak".


Benar-benar merinding di kamar atok Tarno ini, hawa nya beda aja gitu. seperti ada sesuatu yang disembunyikan disini.


Setalah keluar dari kamar atok Tarno, rombongan nya Bu Rida sudah duduk di sofa tanpa benda apa pun, Iren hanya memegang photo masa kecil pak Didit, sementara pak Argap, Aris dan Gomgom belum keliatan.


"Ma.....dapat apa di kamar papa itu?" tanya pak Didit ke istri Nya.


"Ngak ada apa-apa pa, semuanya keliatan normal seperti biasanya, hanya Iren yang membawa photo hitam putih itu."


"Pah.... Ini waktu papa masih kecil ya?" tanya Iren yang terlihat menyukai Photo masa kecil pak Didit.


"Ya sayang.."


"Pah....boleh ku bawa pulang ?"


"Iya Iren..."


"Papa sama Mora dapat apa?" tanya Bu Rida yang fokus melihat barang-barang yang aku pegang.


"biar Mora yang menjelaskan ya ma." jawab pak Didit dengan singkat.


Sementara Iren masih memandangi photo masa kecil ku itu dan kemudian meletakkan photo tersebut di meja.


"Bu.... Ini nama nya ulos jenisnya, ulos saput dan ulos ini diberikan kepada orang yang meninggal, jumlah ada tiga 3, dan kotak ini kami temukan tapi belum kami buka, Kita tunggu pak Argap aja ya pak Bu?"


Kami hanya terduduk di sofa klasik ini, sembari menunggu group nya pak Argap, tak berapa lama mereka pun tiba, dan kembali kami duduk.

__ADS_1


"Pah....kami hanya menemukan keris ini." ujar Aris sambil menunjukkan keris.


"Jadi kenapa kalian lama?"


"Gini pak, tadi Kris ini tersembunyi di belakang photo keluarga Bapak, dan agak susah mengeluarkan nya." jawab pak Argap yang memberi penjelasan.


"Ok....jadi hanya ini barang yang kita temukan, mari kita bahas satu persatu"


Setelah memakai sarung tangan, pertama-tama, aku membuka kaleng persegi yang sudah kusam itu, yang bungkusan pake kain putih, setelah di buka isinya rambut dan boneka seperti boneka santet yang biasa ku lihat di film horor, dan sepucuk surat.


Surat tersebut bertuliskan aksara Batak dan seketika langsung aku baca surat itu, tulisan aksara Batak termasuk tulisan kuno. karena banyak huruf mati yang dibantu dengan palang baca.


"Mora itu tulisan apa?" tanya pak Didit yang terlihat serius melihat surat yang sudah lusuh.


"Pak ini namanya tulisan aksara Batak kuno."


"Aksara Batak kuno?


Bang Mora aksara Batak itu maksudnya apa?


Aris bertanya dengan rasa penasaran nya, mungkin karena ini pertama nya melihat tulisan seperti itu.


"Aksara Batak adalah tulisan lambang dan simbol, aksara Batak itu sama dengan tulisan aksara lain nya, misalkan tulisan aksara Jawa, atau tulisan aksara Cina dan lainya, tulisan kita yang sekarang adalah huruf latin."


"Oh.o....h....


'Aris dan Iren serentak'


Karena surat di tulis menggunakan aksara Batak kuno jadi perlu bantuan untuk menerjemahkan ke bahasa Indonesia, Gomgom pasti bisa lah.


"Ok bang" jawab Gomgom dengan cepat.


"Horas..


"Horas..


"Marhite-hita Sian surat hon hubaritahon tu pinopparhu."


"Melalui surat ini, ku beritahukan kepada keturunan ku"


"Natua tua Nami, sipele Begu Ganjang."


"Bahwa orang tua kami adalah pemuja Begu Ganjang."


"Nga mulai Tarboto tu luat ti, natua tua Nami sipele Begu Ganjang, dungi di suru ahu dohot iboto ku lari borngin Sian Huta on, Aek Simarmata."


"Bang Mora..... luat itu apa?


Aku langsung berhenti membaca Nya, karena Gomgom tidak bisa diandalkan untuk menerjemahkan ke bahasa Indonesia.


" Ya dah biar Abang semuanya"


Orang-orang kampung sudah mulai curiga, Bahwa orang tua kami adalah pemuja Begu Ganjang, dan saya bersama saudara perempuan ku, disuruh kabur pada malam hari dari desa Aek Simarmata."

__ADS_1


"Tikki su lari borngin i di pasahat ma tu ahu , obuk ni inang dohot obuk ni among, Bonang bottar on obuk ni Inong, Bonang sirara obuk ni among. Dohot boneka pilos-pilos ni jolma on."


Sebelum kami lari malam, saya dibekali rambut mama dan bapak, yang warna putih rambut mama, dan warna merah rambut Bapak, dan boneka pilos-pilos ini.


(boneka kecil yang terbuat dari kayu dan rambutnya berupa ijuk dari pohon aren, boneka tersebut digunakan sebagai media penghubung dengan Iblis, masyarakat kalangan Batak menyebutkan nya Begu ganjang).


"Bolo dang Sanga di Pasidung natua tua Nami, didok ma asa ma juppangi oppung si Poltak, asa di Pasidung."


Apabila belum diakhiri, kami disuruh menjumpai oppung sipoltak untuk mengakhiri.


"Martabuni do pe Hami di luat Toba, paima barita, nunggu tar boto Hami barita na Nung di tutung natua tua Nami sampe abu akka Sian luat i."


Bersembunyi lah kami di sekitar daerah toba sembari menunggu kabar dari orang tua kami, dan beritanya kami dengar dari orang-orang sekitar, bahwa orang tua kami telah dibakar dan menjadi abu.


"Dungi Lao ma Hami tu siattar."


Pergi lah kami ke Siantar dan tinggal di Siantar.


"Marsolang taon tu taon, pajjuppang ma Ahu do rokkap ku, songoni Suang dohot iboto Ku dopot rokkap, dua ma gelleng ku sada borua dohot baoa, alai bolo iboto Kon punu do sappe monding."


Tahun berganti tahun saya dan saudara perempuan ku menemukanmu jodoh kami masing-masing. Anak saya dua, satu laki-laki dan satu perempuan, akan tetapi saudara perempuan ini tidak punya anak sampai meninggal.


"Goar ni gelleng ku baoa Ima si gopas, bolo Boru Kon Risma ULI."


Nama anak laki-laki ku adalah gopas dan nama anak perempuan adalah Risma Uli.


"Nung Doli-doli si gopas laho ibana mardalani tu Medan, alai Anggo Boru Kon mittor marhamulion do."


Setalah lajang, gopas merantau ke Medan, dan putrinya langsung menikah.


"Dung mar lima taon si Boru Kon Nung muli dang gira di lilit andor do pe, tar bege ma barita Sian si gopas naeng mangoli tu Boru Jawa."


Setalah lima tahun pernikahan putri nya blum juga punya anak, dan kabar baik dari gopas akan menikahi Boru Jawa.


"Dung tolu taon si gopas mangoli dang dililit andor do pe, songoni dohot iboto naon, alami i mandele ma Inong na on. Ima mamboan monding."


Tiga tahun setelah menikah gopas tak kunjung memiliki anak demikian juga dengan saudara perempuan nya, hal membuat mama mereka sedih sampai meninggal.


"Bolo huingot do museng na salpu i natua tua Nami sipele Begu Ganjang Ima hurasa Balos na."


Ku ingat kembali bahwa orang tua kami adalah pemuja Begu Ganjang, mungkin ini balasan.


"Gabe mandele AU.


Saya sangat sedih


Surat nya terputus, pak Didit serta yang lainnya langsung menatapKu karena berhenti membaca.


"Mora apalagi isi nya?" tanya pak Didit yang terlihat begitu kwatir.


"Hanya itu saja pak, surat ini bersambung."


"Iya..., Oh ya... Mari liat benda yang di kubur atok Tarno itu." ujar pak Didit

__ADS_1


Kami semua pun beranjak pergi menuju halaman belakang, untuk mengambil kotak itu, pak Argap mencangkul disekitar bunga sakura itu, saya sangat berharap ada petunjuk lagi untuk menyelesaikan masalah ini.


Bersambung....


__ADS_2