
Seketika Gomgom langsung terdiam atas penurutan dari Joan, begitu juga dengan kami semua yang ada disini.
"maksud Joan, musik bisa menenangkan arwah?"
Pak Didit bertanya kepada Joan karena rasa penasarannya akan semua penuturan Joan, jujur aku juga bingung dengan penuturan Joan ini.
Gimana ngak bingung, Joan yang biasanya banyak bercanda. kini terlihat begitu serius dalam penuturan hal ini.
"sepanjang keyakinan manusia, tapi kita tidak tahu lebih pastinya.
karena belum ada satu dari manusia yang Joan temui yang pernah melakukan interview kepada arwah."
"interview, Mangnya artis bisa di interview? yang kita bahas ini arwah Joan."
"iya kak Ani cantik, tapi arwah itu sebenarnya iblis yang menyerupai apapun yang dia kehendaki. iblis yang bersemayam di suatu tempat atau pun di dalam jiwa manusia untuk manusia dan untuk membuat nya menjadi hamba-nya."
"okey, sekarang amangboru tanya nih lagi Joan. tadi kamu menyampaikan pas pencarian korban danau Toba yang diawali dengan Gondang junjungan, apakah itu berhasil?"
"sejauh ini berhasil amangboru, tapi kita tidak tahu jelas apakah Gondang junjungan tersebut punya andil atau ngak.
Tapi yang jelas selalu di awali dengan Gondang junjungan.
Menurut rumor nya, pernah suatu ketika ada korban, dan saat pencarian tidak awali dengan Gondang junjungan, alhasil kapal tim penyelamat tenggelam dan metong alias mati semuanya.
tapi lagi-lagi kita tidak berasumsi itu disebabkan karena tidak mengawali dengan Gondang junjungan, bisa saja minyak kapalnya kehabisan atau mesinnya yang tiba-tiba rusak dan sebagainya.
Karena kita juga tidak bisa bertanya kepada penghuni danau Toba nya."
Kami semua terdiam dan Joan kemudian mengambil cemilan berupa peyek dari toples yang lain, sebab toples yang kemarin sudah pecah dan isinya bertaburan.
Tapi Rohani langsung menyambar toples peyek tersebut, kemudian mengamankan nya di samping nya.
"tunggu dulu Joan, tar aja makan nya ya. kakak mau tanya.
menurut Joan, apakah nanti perlu Gondang junjungan di lakukan saat disana? maksud kakak..."
"iya.... iya....
Joan paham maksud kakak, sebaiknya iya kak. tapi disini kita harus berdiskusi dulu dengan Oppung Doli Dison, karena Oppung itu yang akan membantu kita untuk mengakhiri kutukan ini.
lagi pula Oppung itu adalah pemangku Adat, yang lebih banyak pengetahuan tentang Gondang junjungan ini.
Gimana menurut bang Mora? apakah yang Joan ucapkan ini masuk akal?"
"Abang belum pernah dengar tentang Gondang junjungan, serta Begu ganjang ini.
Tapi Abang setuju dengan pendapat Mu, berhubung ini sudah malam, besok lah Abang telpon Oppung Doli Dison."
"betul itu Bang, tapi alangkah lebih baiknya jika Abang membujuk kak Ani untuk menyerahkan peyek yang di pegang nya ke Joan."
__ADS_1
Kami semua saling bertatapan satu sama lain, kemudian secara serentak menatap Rohani.
"nah..... heboh kali pun Ko." * dialog Medan.
(kepo banget sih kamu)
Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Dengan serentak kami tertawa, karena tingkah dari Rohani dan adiknya itu.
Begitu Joan mendapatkan peyek itu, dia langsung memakannya dan terdengar bunyi kriuk dari mulutnya.
"bang Mora, semua keluarga amangboru ikut ngak?"
"ikut Joan."
"mbak Tarni?"
Seketika kami semua menatap Tarni dan beliau pun langsung merapat ke samping Bu Rida.
"apapun yang terjadi, Tarni tetap ikut bang. Tarni ngak mau membiarkan ibu dan neng Iren menghadapi nya. setidaknya ibu dan Iren ada temannya nanti.
Ibu ngak perlu khawatir tentang Tarni, di kampung sana Tarni sudah terbiasa masuk hutan."
"mbak ngapain masuk hutan? mbak Tarni titisan Tarjan ya?"
"nyari kayu bakar, sayur hutan dan jamur serta ikan dari sungai mas Joan.
Hutan di kampung kami sudah menyediakan apapun yang di butuhkan oleh warga desa.
Anak kecil hingga orang dewasa masuk hutan untuk mencari apapun yang di butuhkan."
"Tarni ngak usah ikut, nanti bahaya loh. apa yang kami katakan kepada orang tua mu nanti?"
"Tarni kan kerja Bu, nah inilah namanya resiko kerja. apapun kerjaan seseorang, pasti ada resikonya."
"Mora, apa wajib Tarni ikut bersama kita nanti?"
"wajib Bu, karena Tarni adalah orang terdekat kita Bu.
Mora lihat di kehidupan sehari-hari, ibu dan Tarni tidak ada jarak. bahkan Tarni sering bareng dengan Iren. iya kan dek?"
"iya bang, mbak Tarni ini sudah seperti kakak, dan sahabat bagi Iren.
Iren bahkan tidak segan untuk curhat mengenai kehidupan sehari-hari, baik dari masalah kewanitaan sampai kehidupan pribadi Iren yang lainnya.
Iren juga sudah 3 kali ikut mbak Tarni pulang kampung dan kami selalu bersama."
Seketika Bu Rida menghela napasnya dalam-dalam lalu menatap Iren dengan berderai air matanya.
__ADS_1
"Tarni, ibu mintak maaf karena harus melibatkan kan mu.
Kamu sih terlalu baik, gimana ibu ngak bersikap baik kepada mu.
Jujur ibu akui, wawasan mu sangat luas. dan ibu banyak belajar hal dari mu dan nyambung aja saat ngobrol.
Tarni bukan hanya kerja untuk ibu dan keluarga, tapi sebagai anak perempuan yang besar yang sudah paham bagaimana mengurus kebutuhan rumah tangga."
Tarni menyeka air mata Bu Rida, dan mereka berdua berpelukan.
"ngak perlu minta maaf Bu, kita juga ngak menginginkan semua ini terjadi.
tapi inilah yang harus kita hadapi secara bersama-sama, dengan bersama kita bisa menyelesaikan semua ini.
Ibu bukan hanya majikan Tarni, tapi sebagai mbok bagi Tarni."
"mbok itu apa?"
Di sela-sela keharuan, Joan yang masih mengunyah peyek itu bertanya kepada Tarni dan Joan seketika menjadi pusat perhatian.
"mbok itu mamak atau ibu mas Joan, itu panggilan ibu di kampung kami."
"oh.....oh...."
Ujar Joan dan hanya dia yang mengatakan demikian.
"kali aja butuh penyanyi Batak bang, dan Joan siap ya. asal ada makanan dan minuman."
"huuuuuuu....."
Kami semua bersorak ke Joan dan dia hanya nyinyir ke kami yang menyorakinya.
"mungkin butuh tenaga medis, Ani sudah menjadi tim medis relawan sebanyak 3 kali dari kampus Bang. Ani siap untuk membantu."
"hadeh......
bilang aja mau dekat-dekat sama bang Mora, ingat ya kak Ani, kalau Joan ngak ikut. kak Ani atau kak Cahaya ngak bisa ikut. paham......"
"iya....."
Lagi-lagi Rohani hanya bisa berkata iya atas apa yang di ucapkan oleh Joan, dan tidak berani membantahnya.
"mangnya kenapa sih Joan? kenapa harus persetujuan Mu?"
Iren bertanya kepada Joan karena merasa agak aneh, Joan sebagai adik tapi kenapa kakak nya nurut kepada Joan.
"bapak sudah memberikan kuasa nya pada Joan untuk menjaga kak Ani."
Seperti Iren sudah paham, karena Joan memperjelas untuk yang ke-dua kalinya.
__ADS_1