
Teka-teki keluarga pak Didit sudah semakin jelas titik terang Nya, berkat penjelasan dari bapak.
"Kata oppung Dison lagi, ada syarat yang lain."
Ujar bapak dari seberang sana, melalui panggilan handphone.
"Apa itu pak?"
"Rambut dari par begu Ganjang yang pertama kali dan keturunan nya yang laki-laki."
"Oh....berat ya pak."
"Ada lagi bang, kata oppung Dison waris par Begu Ganjang ini sudah punya keris, untuk melindungi dirinya dan keluarganya, serta di jadikan sebagai pelaris.
Tapi bang itu tidak akan bertahan lama, serangan itu akan berbalik kepada nya dan orang-orang sekitar nya serta orang-orang terdekatnya.
Dan akan menghabiskan seluruh keturunan par Begu Ganjang serta keluarga, dan paling parah nya lagi mau tidak mau warga desa Aek Holong harus minggat."
"Kenapa harus minggat pak?"
"Karna daerah itu dekat dengan desa Aek Simarmata, dan mereka juga keturunan dari pembakar par Begu Ganjang itu."
Seketika itu juga bulu kuduk ku berdiri, merinding dan kwatir, jika benar pak Didit adalah waris pemuja Begu Ganjang maka tamat lah riwayat kami yang disini.
"Halo bang, masih disana bang?"
"Masih kok pak."
"Dah semakin larut malam ini, sampai disini aja dulu ya bang."
"Ya pak e.
"Jaga dirimu baik-baik ya bang, jaga kesehatan bang, horas Abang."
"Horas pak e."
Tanpa terasa sekarang sudah jam 11 malam, sorot pandangan pak Didit yang penuh dengan ke kekwatiran begitu juga dengan Iren dan Aris, Susana menjadi hening kembali.
Atas penjelasan bapak tadi membuat kami di ambang ketakutan karna peristiwa ini.
a....a....a.....a.....a.....a......
a...a....a....a.....a.....a.....a......
a...a......
Aris berteriak karena melihat barang yang kami kumpul dari rumah pak Didit itu, yang di taruh dalam kardus, dan tiba-tiba melayang, dan jatuh tepat di hadapan kami, dan keris itu keluar dari kardus tersebut, pas seperti adegan di film horor.
Kulihat Iren, mbak Tarni, Laila, Tika dan mbok, berpelukan karna ketakutan, sementara Aris memeluk tangan kiri ku, begitu juga dengan Gomgom.
Tak....thaakkk thakkkkk....
Suara petir begitu terasa di ruangan ini, menambah kesan horor dan tiba-tiba saja......
__ADS_1
"Pak Didit......turun pak....."
Pak Didit melayang-layang di atas kami, mata nya terpejam tetapi mulut nya terbuka, semua yang di ruangan menjadi ketakutan. teriakan semakin kencang dan Susana yang menegangkan, Susana horor nan menegangkan.
Dartttttt......prakkkk
Kursi kecil itu melayang dan terjatuh lagi, Susana menjadi tegang di tambah lagi teriakan Iren, mbak Tarni, Laila, Tika dan mbok serta Bu Rida yang semakin membuat seram.
"Gom ambilkan air itu?.
Air yang di berikan oleh Gomgom langsung ku siramkan ke pak Didit, dan tiba-tiba mata nya terbuka, dan mulut nya normal kembali.
"Iblis terkutuk apa mau mu?"
Tanyaku sambil berteriak, jujur saya juga sangat takut tapi harus di hadapi bagaimana pun caranya.
"Haaauhhhha haaauhh
Pak Didit mendesah tapi itu sangat-sangat menyeramkan, kemudian menatap ku dengan Sorot mata merah dan menunjuk ke arah ku, tatapan itu sangat menyeramkan.
"Mula ni mu oppung mu Sian Simarmata."
(Kakek buyut mu berasal dari desa Simarmata)* bahasa Batak Toba.
Pak Didit menatapku Begitu tajam
"Pasahat tu pinoppar ni Si horas on asa di Pasidung Manang di ulahon."
(sampaikan kepada keturunan si Horas ini, untuk menyelesaikan atau dikerjakan).*bahasa Batak Toba.
Kemudian Gomgom menidurkan pak Didit di Atas alas tidur yang sediakan istri pak Argap untuk kami tidur malam ini.
"Bang Mora papa kenapa?"
Terlihat Iren masih menangis dan kwatir, rasa ketakutan atas kejadian tadi, begitu juga dengan yang lainnya.
"Iren tenang ya, siapa yang punya minyak angin?"
"Bentar ya bang Mora, biar Laila ambi kan."
Terlihat Laila menarik tangan nya Tika, dan Tika juga menarik tangan tangan nya Tarni, mereka bertiga akhir masuk kemar, itu pasti karna ketakutan.
"Mbok tolong ambil air minum?"
Si mbok juga menarik tangan nya Gomgom dan Gomgom menarik tangan nya pak Argap, untuk mengambil air ke dapur.
Tak berselang lama Laila, Tika dan mbak Tarni datang dan di susul oleh si mbok dan Gomgom serta pak Argap, Tika menyerahkan minyak angin kepadaku.
Ku buka baju nya pak Didit, lalu minyak angin itu ku lumuri mulai dari daerah pusar sampai ke dadanya.
"Bu, Baju ganti bapak dimana?"
"Di kamar di dalam tas." jawab bu Rida dengan cepat.
__ADS_1
"Gomgom..... ambil baju ganti Bapak.
Gomgom berdiri sambil menarik tangan pak Argap lagi, dalam hati ini, polisi kok penakut.
Tak butuh waktu lama Gomgom dan pak Argap sudah Datang, segera ku gantikan baju pak Didit yang basah karna ku siram tadi.
Selesai mengganti baju nya ku lumuri kembali leher pak Didit dengan minyak angin, dan terakhir ku taruh di hidung nya.
Tak berapa lama pak Didit pun sadar, beliau menatap kami satu persatu.dan kemudian Duduk.
"Syukur lah papa dah sadar."
ujar Iren yang masih menangis sambil memeluk pak Didit, kemudian Aris pun memeluk papa nya itu, di susul oleh bu Rida.
"Makasih ya bang Mora."
Aris berterima kasih sambil memeluk ku.
"Mas Mora... tadi maksudnya apa ya?"
Karna pertanyaan pak Argap, Aris melepaskan pelukannya.
"Oppung kami atau kakek kami berasal dari desa Aek Simarmata pak, dan menyuruh ku untuk menyampaikan pesan kepada pak Didit untuk segera mengakhiri atau meneruskan waris Begu Ganjang, dan nama Parbegu Ganjang atau kakek buyut pak Didit bernama Horas."
Semua terdiam sejenak, tiba-tiba handphone Gomgom berdering lagi, dan itu membuat kami kaget, karna kejadian yang tadi yang sangat menegangkan itu.
"Halo pak e, kenapa?"
Sembari Gomgom mengaktifkan loud speaker handphone nya.
"Oppung Doli dan oppung Boru kalian meninggal mang"
"Meninggal karna apa pak?"
Masih terdengar jelas Isak tangis bapak, sehingga Gomgom kembali mengulang pertanyaan nya.
"Kecelakaan bus saat mau kemari mang, tolong sampaikan sama Abang mu ya".
"Iya pak."
Bapak mematikan panggilan nya, mungkin karna menahan tangisan nya, kami semua kembali terdiam, dalam suasana hening, dan malam semakin larut, kami hanya termenung.
"Semua nya, dengar baik-baik. saya tidak mau kalian kenapa-kenapa, tinggalkan keluarga kami sebelum terlambat."
Tak terasa air mata ini mengalir, ku dekati pak Didit lalu ku peluk, ku lepas lagi dan ku tatap wajah nya, pandangan Kami saling bertemu.
"Bapak sudah ku anggap sebagai bapak kandung ku, keluarga bapak ini sudah ku anggap keluarga juga, jadi kita selesaikan secara bersama-sama sampai selesai, Mora tidak akan meninggal bapak dan keluarga."
Pak Didit ku peluk lagi, begitu juga dengan Iren dan Aris, serta Bu Rida.
"Pak .... kami sekeluarga juga akan mendukung, apapun akan kami lakukan, kita adalah keluarga, masalah bapak adalah masalah kami juga, bapak jangan pernah merasa sendiri ya. Kita hadapi sama-sama."
Keharuan dan keheningan terasa sangat jelas, di malam yang semakin larut ini, karna sudah kelelahan kami memutuskan untuk tidur di ruang tamu.
__ADS_1
Bu Rida, mbok, mbak Tarni, Laily, Tika dan Iren memutuskan untuk tidur kamar utama. Sementara kami yang laki-laki memutuskan untuk tidur di ruang tamu ini, mata ini semakin berat dan tak lama cahaya lampu itu menghilang.