
Joan mengatur posisi duduknya menjadi duduk bersila, dia terlihat tenang sementara kami menunggu jawaban.
"begini wahai bang Aris dan kak Iren.
Berdasarkan gosip liar yang bersemayam di telinga ku, keluarga yang hendak kalian temui itu sangat menyeramkan.
keluarga itu di luar nalar dari tetangganya, menurut gosip nya dan itu tidak bisa di buktikan.
Sudah beberapa korban manusia berupa anak-anak manusia di masa pubertas Nya, atau menjelang masa dewasa.
kalau Joan lihat, bang Aris dan kak Iren dalam tahap perkembangan menuju dewasa dan tentunya itu rentan menjadi korban keluarga aneh itu."
"Joan, Aris itu sudah dinyatakan dewasa."
"no... no... bang Mora, jangan membantah. Kita harus meminilasir bahaya gaib, karena tidak bisa di buktikan."
"iya, saya setuju dengan Joan. Aris dan Iren temani Joan kemanapun dia pergi ya, biar kalian berdua jangan bosan ya.
Papa merasa kalau keluarga pak deh itu aneh dan tidak lazim. benar kata Joan, kita harus meminilasir bahaya gaib.
Joan hanya berusaha memberikan yang terbaik buat kita nak, niat Joan baik kok dan itu sangat luar biasa."
"of course, akhirnya kita satu frekuensi Pak."
"satu frekuensi, siaran radio kali." ucap Rohani yang terlihat kesal terhadap Joan.
"baik pa...
Joan, besok mau mengajak kami kemana?"
"tenang, Joan punya tempat yang asyik untuk anak muda seperti kita. view yang sangat keren untuk shot photo dan tongkrongan yang asyik.
Pokoknya tenang, selama ada Joan semua aman terkendali. Tapi bang Aris yang bayar."
'ihhhhhhh......'
"sakit loh kak."
Joan merintih kesakitan karena Rohani kakaknya mencubit dengan sekuat tenaganya dan akhirnya Mamaknya yang mengamankan mereka berdua.
"iya Joan, nanti Abang yang traktir ya."
Joan langsung tersenyum sumiringah, dan kemudian mendekati Oppung Doli Saur kemudian duduk disampingnya.
__ADS_1
"oppung Doli, pasti tahu keluarga pak yang lainnya? masa ngak tahu? cerita dong."
Kami kembali serius untuk mendengarkan cerita dari Oppung Doli Saur, iya benar kata Joan, tidak mungkin Oppung Doli Saur tidak mengetahui keluarga yang lainnya dari pak Didit.
Secara kampung halamannya oppung Doli Saur di teror begu ganjang.
"Didok oppung Dison Pitu kaluarga na sida, holan tolu do disekitar Toba, deba nai dang di boto, attar songoni marbinotoan ni Oppung Dison."
"pak....
kata oppung ini, keluarga pemuja Begu Ganjang itu ada tujuh keluarga, hanya tiga keluarga yang tinggal di sekitar Toba."
Setelah menerjemahkan ke bahasa Indonesia untuk pak Didit dan keluarga, Kami hanya terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan dari oppung ini, Sulit rasanya untuk mengumpulkan keluarga di tambah lagi pak Didit tidak tau siapa-siapa saja yang menjadi keluarga kami.
"jadi kalau keluarga pak Didit ngak lengkap, apa yang terjadi oppung Doli?"
"dang pola haru hu patakkas?" (tidak terlalu aku pertanyaan kan)"
"kenapa? oppung takut sama oppung Doli Dison itu?"
"daong Oppung, buasa huroha ikkon mabiar ahu mamereng Oppung Doli Dison?
Alana pung adong do tikki laho manukkun masalah Begu ganjang on, annon gabe sai sala jala gabe sipatureon."
"oppung berkata, kalau Oppung tidak takut terhadap oppung Doli Dison, karena memang beliau tidak perlu di takutkan.
Pak Didit hanya mengangguk dan hal itupun sudah dijelaskan bapak saat kami bertelepon sewaktu di rumah pak Didit yang di jogjakarta.
"dari mana lah nanti keluarga pak Didit mengetahui siapa-siapa saja yang menjadi keluarga nya?"
"bah.... kan nungga di potarang Oppung Dison melalui telepon tu Tunggane mu si Mora, nabuado?
"tadi pak sudah dijelaskan oppung Dison melalui telepon, nantinya akan dibahas secara tatap dengan ku saat di desa Aek Holong.
Pak Didit dan yang lainnya begitu mendengar penjelasan dari oppung Doli Saur, tapi sepertinya Joan Belum puas untuk mengintrogasi oppung Doli Saur.
"oppung.... ternak oppung kan banyak, mintak sedikit uang oppung?"
"amang oiiii, Tunggane mu si Mora do mangelohon ongkos tu au pung, kan jala takkas do naipe di patorang Inong ni si Sihar melalui telepon.
Nga mabiar sude akka pangisi ni Huta alani Begu ganjang, sadari do pe Hami mangingot hepeng."
"pak...
__ADS_1
ongkos Oppung Doli Saur itu Mora yang memberikan, karena warga desa Aek Holong tidak berani lagi masuk ke rumahnya karena teror Begu ganjang."
Terlihat oppung Doli Saur menarik napas panjang, dan Rohani seperti mendekati Joan, pastinya ingin mencubit Joan lagi.
Aku hanya melirik nya dan Rohani kembali duduk ditempatnya, tujuan adalah agar Joan mengorek informasi lebih dari oppung Doli Saur.
"oppung Doli, tadi kan Oppung bilang (katakan.*dialog Medan) kalau itu rambut punya parbegu ganjang, oppung tahu dari mana?"
"hasomalan ni parbegu ganjang na sae mangaleon obuk na tu pinoppar na."
Pak Didit melirikku lagi setelah Perkataan dari oppung Doli Saur.
"jadi pak, memberikan rambut itu adalah kebiasaan dari Pemuja Begu ganjang yang belum terputus."
Pak Didit hanya terdiam saat mendengar terjemahan dari Ku, tapi terlihat Joan semakin penasaran.
"terus oppung Doli, itu gunanya untuk apa?"
"mula ni parbegu ganjang Sian obuk do, jadi pasehon pe ikkon Sian obuk."
(awal dari Begu Ganjang itu dari rambut dan diselesaikan dengan rambut juga).
"cukup hanya rambut itu saja oppung?" tanya Joan lagi dan itulah pertanyaan yang benar-benar ku butuhkan.
"daong pung, ikkon sude akka pinoppar mangelohon obuk na."
(Harus semua rambut keturunan nya diberikan tanpa terkecuali).
"terus gimana kalau tidak dapat rambut dari yang lain? terus apa akan terjadi?"
"kamungkinan las lohot na su mangaleon obuk na laho pasidungkon."
(kemungkinan Nanti nya akan menjadi tuan selanjutnya Begu ganjang dari waris yang memberikan potongan rambutnya).
"oh.... terus oppung Doli, gimana caranya biar pak Didit dan keluarganya terlepas dari kutukan Begu ganjang itu?"
"bolo i oppung Dison mamboto i, Alana tu Dison di pasahat hata dohot surat Sian oppung oppung Poltak turunan."
(kalau itu hanya Oppung Dison yang tahu, karena Oppung Dison yang memperoleh titahnya serta surat dari Oppung Doli Poltak).
Oppung doli Poltak adalah orang yang dipercaya bisa memutuskan kutukan Begu ganjang sesuai yang tertulis di surat lusuh itu.
"oppung Doli, istrihat lah dulu kita, Oppung kan sudah tua, jadi oppung tidur di kamar ku aja nanti. karena Joan akan menemani bang Aris di Apertemen."
__ADS_1
Ujar Joan kepada oppung Doli Saur, memang beliau seperti nya sudah ngantuk.
Malam semakin larut, bersama Gomgom. kami berdua mengantarkan keluarga pak Didit ke apartemen untuk istirahat, dan besok akan memulai penjelajahan lagi.