
Rasanya saya mengetahui tempat ini, seperti tempat yang diceritakan oleh Oppung Doli (Kakek * tutur sapa dalam tradisi Batak Toba).
Air terjun yang sangat Indah dan begitu memukau, tapi siapa Kakek dan nenek itu?
ngapain mereka berdua disana?
Sampai habis suara ku memanggil mereka berdua, tapi tidak satupun yang menyahut, dan akhirnya ku putuskan untuk menjauhi mereka berdua dan juga dari air terjun itu.
Terasa begitu lelahnya, dan akhirnya istrihat di persimpangan jalan.
Jalan lebar dengan banyaknya pohon rindang, dan tiba-tiba saja. kakek dan nenek yang di air terjun tadi tiba di sampingku.
'boan ma gopoaran ku tuson, ingot di Aek sipangolu." *bahasa Batak Toba.
(bawa keturunan Ku kemari, ingat di air kehidupan.)"
Kedua orang tersebut menghilang, dan perlahan-lahan aku mendengar suara Adikku yaitu Gomgom.
Wajah Ku seperti terkena siram air, benar saja Gomgom adikku sudah tiba disini.
Gomgom kemudian menyuruh untuk tidur lagi, tapi masih jelas teringat wajah kakek dan nenek yang ku temui di air terjun itu.***
Kami semua sudah kembali ke rumah nya pak Didit, untuk membuat ritual Penyelamatan seperti yang di ajarkan oleh oppung Doli Ku.
Dengan menaburkan kumbang tiga warna, asap yang menyengat. kemudian bersenandung dengan nyanyian, cukup dalam hati saja, biar mereka yang disini tidak ketakutan saat aku menyanyi.
Tatapan Gomgom terlihat sangat penasaran, tatapannya itu membuat sedikit konsentrasi agak terganggu.
"Abang ngapain? dah dukun, belajar dari mana sih bang?"
"iya benar, apa yang kamu lakukan Mora?" Bu Rida bertanya yang menyambung omongan dari Gomgom.
"begini Bu, Pak. Mora benar-benar yakin kalau Bapak adalah keturunan dari si Pele Begu ganjang dari Aek Simarmata."
(sipele Begu ganjang adalah pemuja Begu ganjang, mahluk mistis di kalangan masyarakat Batak Toba).
"maksud Abang apa?" ujar Iren, anak perempuan pak Didit dan Bu Rida.
__ADS_1
"oke, Abang akan menceritakan ulang lagi semuanya."
"bang Mora, apa ngak masalah jika Abang menceritakan ini semua? Abang ngak ingat ketika oppung menceritakan hal itu dan Abang tiba-tiba saja kejang-kejang." ujar Gomgom yang mencoba mengingatkan kejadian kala itu.
"barusan Abang kan sudah membuat ritual seperti yang oppung katakan, nah itu adalah untuk mencegah semua hal yang kita tidak inginkan."
"oh begitu bang, lanjut bang. penasaran juga sih Bang, karena keluarga pak Didit tidak ada kaitannya dengan suku Batak, tapi bagaimana pak Didit menjadi keturunan pemuja Begu ganjang."
Ujar Gomgom yang penasaran, begitu juga dengan Ku. nama pak Didit saja sudah seperti nama suku Jawa, terus kaitannya dengan Begu ganjang apa?
"begini, berhubungan dengan mimpi bapak dan juga hal-hal yang kita alami, dan semua ini menuju arah waris pemuja Begu ganjang yang hilang.
Tanda lahir di bahu kanan pak Didit dan tanda yang sama di bahu kiri nya Aris dan ini semakin jelas dari apa yang di alami Aris.
Cerita dari masyarakat desa Aek Holong, sama seperti yang dialami oleh Aris. bedanya adalah warga desa Aek Holong itu adalah korban sementara Aris mendapatkan peringatan."
"baik, apapun yang Mora jelaskan membuat ibu semakin bingung.
jika memang seandainya keluarga ini adalah waris pemuja Begu ganjang itu, apa yang harus kami lakukan Mora?"
"Mora juga ngak begitu yakin bu, jadi yang pertama kita lakukan adalah menyelediki latarbelakang keluarga bapak.
Dengan semua kejadian ini, Mora sangat yakin kalau keluarga bapak menyimpan cerita yang lain atau benda peninggalan.
Mora mau tanya sama bapak, apa sebenarnya suku bapak?
jujur nih ya pak, menurut pandangan Ku. bapak itu suku Batak."
"bapak juga ngak tahu Mora, ketika hal ini bapak tanya kan ke orang tua bapak, yang ku dapatkan hanyalah amarah.
Tapi bapak dulu punya atok yang biasa di panggil atok Tarno, yaitu Kakek dari ayah Ku.
Selama hidupnya penuh dengan misteri, tidak pernah sekalipun bapak bertegur sapa dengannya.
Karena atok Tarno begitu menyeramkan, jadi takut untuk menegurnya. atok tidak pernah bicara dengan kami.
kamarnya selalu terkunci rapat, kami memberi nya makan melalui lubang pintu yang dibuat dari kamar tersebut.
__ADS_1
Atok Tarno tidak pernah keluar dari kamarnya, setelah atok meninggal kamarnya itu di gembok karena itu adalah pesan atok kepada ayah sebelum meninggal."
"semua itu terjadi di rumah bapak yang di Jogja kan Pak?"
"benar, rumah yang di Jogja."
"kalau begitu kita selidiki dulu dari rumah yang di Jogja pak, kali saja ada petunjuk yang dapatkan dari sana."
"setuju, kita harus gerak cepat. sudah bosan dengan semua kejadian ini, Mora....
ibu ngak mau kejadian ini terulang lagi, ibu takut akan ada korban kelak nantinya."
ucap Bu Rida, dari sorot matanya yang melihat Ku tersimpan kekwatiran yang begitu dalam akan keselamatan keluarga Nya.
Aku belum cerita dengan mimpi ku yang aneh saat jatuh pingsan di rumah sakit, aku ingin menyelediki latar belakang keluarga pak terlebih dahulu.
Karena aku belum paham arti dari mimpi Ku, mudah-mudahan rumah keluarga pak Didit yang di Jogja bisa menjelaskan arti mimpi ku yang aneh itu.
"Gomgom, mau ikut ke rumah pak Didit di Jogja?"
"asal bersama Abang, adek mau aja. kali aja ada yang bisa adek bantu."
Jawab Gomgom dengan tegas, seketika itu juga kami terdiam.
"adek lapar bang?" ucap Gomgom tanpa merasa malu.
Sejak kecil Gomgom tidak pernah merasa malu jika dia masih bersamaku, dan sampai sekarang pun masih terbawa-bawa.
"maaf ya, Tarni lupa nawarin makan. Tarni dah selesai masak, cuman lupa karena hal ini."
"ngak apa-apa Tarni, lagian siapa ingat makan dengan situasi seperti ini."
"perutku yang lapar bang, pa... ma.... Iren... bang Mora, bang Gomgom...
makan yuk, lapar juga. sedari tadi sudah mau makan, tapi Aris segan ngomong karena bang Mora bicara serius. untung ada bang Gomgom."
Ucap Aris, dan akhirnya kami semua pun makan. sebenarnya aku juga lapar, tapi masih bisa ku tahan karena masalah ini.
__ADS_1