Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Lupakan saja.


__ADS_3

"Apa yang aku lakukan? kenapa aku bisa ___ ?"


Ucap Yasika pelan menerawang apa yang sudah dia lakukan seraya memegang bibirnya.


Ia ingat dengan kejadian yang baru saja di alaminya bersama dengan Kaisar. Mereka berdua berciuman, dan apa? dan itu adalah ciuman pertama bagi dirinya dan ciuman terlama bagi keduanya.


Yasika melongo tidak percaya, mengerjapkan matanya berkali-kali saat Kai mengecup bibirnya dengan sangat lembut.


Bukannya menolak atau mendorong, Yasika malah diam dan menutup matanya erat. Ini memang terasa awam baginya, tetapi entah kenapa ada perasaan berbeda ketika Kaisar menciumnya. Merasa ada yang mendorong dengan mudahnya ia membuka sedikit bibirnya membuat Kai dengan leluasa menelusupkan lidahnya di dalam. Kai menciumnya, menghisap, menggigit, dan ******* bibir itu.


Yasika begitu terkejut hingga tangannya meremas pinggiran kaos yang di kenakan oleh Kai saat selipan lidah terasa di sela bibirnya.


Tubuhnya bergetar begitu lidah cowok itu masuk dan bermain disana.


Kai menciumnya dengan sangat lembut, memberi sentuhan serta gigitan-gigitan kecil di setiap pangutannya.


Yasika butuh meraup udara banyak-banyak ketika Kai terus saja mencium dirinya. Menekan punggungnya, semakin mengikis jarak di antara keduanya. Mungkin, Yasika tidak pernah berciuman sebelumnya, membuat Kai tersenyum di sela-sela ciumannya ketika gadis itu membalasnya dengan gerakan kaku.


Entah mengapa mereka melakukan itu, padahal di antara keduanya tidak punya keterikatan sama sekali. Mereka bukan sepasang kekasih, tetapi ketika berciuman mereka terlihat seperti dua sejoli yang sedang melepas rindu. Mereka merasakan hal yang sama gilanya, sama-sama menikmati perasaannya itu. Mereka melupakan semuanya, melupakan bahwa mereka adalah orang yang sama-sama baru mengenal.


Ciuman-pun berhenti ketika terdengar dering ponsel yang menyalah.


Melepaskan ciuman itu dengan mata masih terpejam, dan dahi yang saling menempel serta nafas yang terengah-engah.


Kai segera berlalu, mengambil ponsel yang sedari tadi menyala lalu mengangkatnya.


"Kakak ...!!" Teriak adiknya itu saat Kai baru saja menekan tombol hijau.


Kai mengernyit, sedikit menjauhkan ponselnya itu dari telinga.


"Kak ... Hallo Kak..!"


"Ya ampun Mel, kamu ngagetin saja, bisa gak sih itu suaranya pelankan dikit.?"


Bukannya menjawab Amelia malah tertawa.


"Salah kamu sendiri kak, udah tau suara adikmu ini seksi."


Kai berdecak. "Seksi apanya? yang ada malah membuat telinga sakit."


"Kakak... " Amelia merengek.


Kai tersenyum, menggeleng kepalanya pelan. "Ada apa kamu nelpon?"


"Ada apa, ada apa?" sewot Amel. "Kamu udah anterin Yasika pulangkan?"


"Belum."


"Hah? apa?" Kembali ia berteriak. "Kamu bawa Yasika kemana? jangan macem-macem ya, aku bilangin mama loh.?"


"Hei kamu apa-apaan sih?"


"Terus Yasika dimana? dia sama kakak kan.?"


"Ya, dia masih sama kakak."


"Dimana?"


"Di apartemen."

__ADS_1


"Ngapain...??"


"Mel ... bisa gak sih kalau ngomong gak usah teriak kayak gitu.?"


"Gak bisa." jawabnya lantang.


Kai terkekeh, seraya mengusap wajahnya gusar.


"Kamu ngapain sama Yasika di apartemen?"


"Menurut kamu?"


"Kak ... Serius aku tuh."


Kai kembali terkekeh, jangan lupakan kalau saat ini yang sedang berbicara dengannya adalah seorang gadis yang benar-benar sangat cerewet dan tidak bisa diam.


"Kenapa kamu bawa dia ke apartemen? bukannya langsung di anterin.?"


"Terserah aku dong, aku yang bawa dia, kenapa kamu yang repot."


"Kakak ... !!"


"Makanya dengerin dulu, kakak ngajak dia ke apartemen karena mau ganti baju dulu, sekalian kita makan."


"Awas aja kalau sampe kak Kai apa-apain dia."


Kai terdiam, mulutnya seakan terkunci untuk mengatakan sesuatu. Bagaimana kalau sampai Amelia mengetahui bahwa ia telah mencium gadis itu, gadis yang bukan siapa-siapa untuknya dan sahabat dari adiknya sendiri.


* * *


"Yas.!" Ucap Kai pelan seraya memegang bahunya.


"Ya Kak. " Jawabnya gugup.


Sesaat mata mereka bertemu, wajah keduanya berubah memerah.


"Ayo makan dulu.?" Ajak Kai mencairkan suasana yang terasa begitu canggung.


Yasika mengangguk. "Baik kak."


Menelan makanannya dengan sangat susah, itulah yang dirasakan Yasika saat ia duduk berhadapan dengan Kai. Merasa malu dan canggung itulah yang terjadi di antara keduanya. Saling membuang muka dan tidak berani untuk saling memandang setelah apa yang mereka lakukan. Tidak ada yang bersuara, yang terdengar hanyalah suara sendok dan piring yang beradu.


Menghabiskan satu piring nasi goreng saja rasanya sangat sulit. Padahal sejak dari tadi sore mereka belum makan apa-apa.


"Kamu mau ngapain.?" Tanya Kai saat Yasika membawa semua piring kotor itu.


"Aku cuci dulu ya Kak."


"Jangan Yas, gak usah biarin aja."


Yasika tersenyum. "Gak pa-pa, udah biasa kok."


Kai tidak lagi menjawab, ia hanya tersenyum tipis.


Setelah selesai, Yasika kembali ke meja makan, dimana Kai masih duduk disana seraya memainkan ponselnya.


Kai mendongak begitu ia melihat Yasika sudah berdiri di hadapannya. Lantas Kai tersenyum.


"Makasih ya?"

__ADS_1


Yasika mengangguk.


"Ya udah, aku antar kamu pulang sekarang."


Berada di dalam mobil, keheningan kembali menyelimuti di antara keduanya. Tidak ada yang bersuara, mereka diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Kai yang fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Yasika ia hanya memandang jalanan lewat jendela mobilnya.


"Kak, makasih ya?" ujar Yasika saat mobil Kai sudah berhenti tepat di depan rumahnya.


"Ya." Jawabnya singkat.


"Kakak gak mau masuk dulu?"


"Gak usah, ini sudah malam. Lain kali ja."


Yasika kembali tersenyum. "Ya udah, kalau begitu aku masuk dulu."


"Ya."


Sebelum Yasika membuka pintu mobilnya, Kai kembali berujar.


"Yasika..!"


Yasika menoleh. "Ya, kenapa Kak?"


Menutup matanya sesaat sebelum akhirnya kembali bersuara.


"Aku mau minta maaf." Kai berujar pelan.


Yasika diam, dan menatapnya bingung.


"Untuk apa?"


"Untuk __ untuk .. " Jawab Kai gugup.


"Lupakan saja." Yasika berujar.


Kaisar menoleh dengan sedikit terkejut.


"Aku tau kakak mau ngomong apa?" di jedanya kalimat itu. "Untuk kejadian yang tadi __ " menghela nafas. "Bukan sepenuhnya salah kakak kok."


Kai masih diam, menatap dalam wajah gadis polos itu.


"Ya udah, aku masuk sekarang ya kak." Yasika berujar tergesa-gesa.


"Tunggu Yas." Ucap Kai seraya menarik lengannya.


Mata mereka kembali bertemu dalam satu garis lurus. Sesaat keduanya saling menatap, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa mereka ungkapkan satu sama lain. Entah itu apa? yang jelas bahwa saat ini mereka sama-sama sedang bingung, bingung dengan perasaannya masing-masing. Semua ini terjadi begitu cepat, dan mereka belum bisa mengartikan perasaan apa yang ada di hatinya sekarang.


Ada apa dengan hatiku?


* * *


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, share dan vote-nya juga buat aku..


Semoga kalian suka ya...


Mohon maaf bila masih banyak kekurangan..


Di tunggu episode selanjutnya...

__ADS_1


Salam sayang saya untuk kalian... ❤


__ADS_2