Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Kabar buruk


__ADS_3

Pranggg......


Mama Wina terkejut, saat ia tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berada di atas meja makan.


"Ya ampun ... Mah, kenapa?" Tanya papa Andi khawatir.


Mama Wina menoleh seraya mengelus dadanya lembut. "Gak tahu Pah, gelasnya jatuh."


"Mama gak apa-apa?"


Kepala itu menggeleng. "Gak apa-apa Pah." ujarnya seraya tersenyum tipis.


"Ya udah biar bibik aja yang beresin, Mah."


"Iya, Pah."


Kenapa tiba-tiba perasaan mama Wina jadi tidak enak. Ia ingat dengan kedua anaknya yang belum pulang ke rumah. Mama Wina melihat ke arah jam dinding di ruang tamu yang baru menunjukkan pukul sepuluh malam. Khawatir, cemas dan gelisah kini menjadi satu dalam pikirannya. Mama Wina berharap semoga itu hanya perasaannya saja.


Semoga tidak terjadi apa-apa...


* * *


"Astaga ... Anne ... " Ujar Jefri dengan menutup mulutnya. Wajahnya terlihat pucat dengan tubuh bergetar.


Sama halnya dengan Anne, matanya masih melotot, wajahnya semakin terlihat pucat pasih, dan tangan yang bergetar hebat saat memegang setir mobilnya. Kepalanya makin berdenyut nyeri, ia tidak menyadari sepenuhnya kejadian yang baru saja di alaminya, apakah ini hanya mimpi buruk atau kenyataan pahit yang harus ia dapat. Yang jelas, bahwa saat ini ia telah menabrak seseorang yang entah itu siapa.


Anne hendak keluar dari dalam mobilnya, saat ia akan membuka pintu mobil tiba-tiba saja sebuah tangan mencegahnya. Anne menoleh dengan pandangan buyar dan rasa sakit pada kepalanya yang semakin berdenyut nyeri. Beruntung kejadian itu bukan terjadi di jalan raya yang ramai, sehingga tidak ada orang yang mengetahui kejadian tersebut.


Tubuhnya melemas, sudah tidak ada lagi tenaga yang ia rasakan saat ini. Tangan dan bibirnya tidak berhenti bergetar, dan kini, mata bulat itu telah mengeluarkan air matanya tanpa ia sadari.


"Jef ... Aku __ Aku... " bibirnya bergetar hebat. "Ayo kita lihat dia, kita selamatkan dia.?"


Jefri mengangguk. "Ya Ann ... Kita akan turun." ia menjeda kalimatnya dengan wajah menunduk pilu. "Tapi sebelum kita turun __ Kita berganti posisi ya?"


"Kenapa?"


"Udah jangan banyak tanya, sekarang lakuin apa yang gue suruh.?"


"Tapi... Jef... "


"Demi gue Anne, percaya sama gue." ujarnya meyakinkan dengan memegang erat kedua tangan Anne.


Kesadaran Anne mulai tidak bisa Terkendali, sudah setengah jam yang lalu ia pergi meninggalkan pesta itu dan meminum minuman yang sudah di campur obat bius tersebut. Kini, obat itu telah menunjukkan reaksinya. Anne merasa, tubuhnya sudah tidak punya tenaga lagi, atau mungkin sebentar lagi ia akan jatuh pingsan.


Anne menurut saat Jefri memintanya untuk berpindah posisi duduk, meskipun ia belum mengetahui alasan apa yang sebenarnya Jefri rencanakan.


Mereka membuka pintu mobil itu, dan segera berlari meski rasanya sangat sulit mereka lakukan. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok perempuan yang tergelak dengan penuh darah di kepalanya.


"Ya Tuhan ... " Ucap keduanya secara bersamaan.

__ADS_1


"Cepat kita tolong dia. Kita segera bawa dia ke rumah sakit."


Kata terakhir yang Anne ucapkan sebelum ia tidak sadarkan diri. Anne jatuh pingsan, sedangkan Jefri ia masih menutup mulut dengan ke dua tangannya karena masih belum bisa percaya dengan semua ini.


"Ya ampun Ann ... bangun.?"


Tanpa pikir panjang Jefri segera mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. Ia menghubungi pihak rumah sakit agar segera mengirimkan ambulans ke tempat kejadian kecelakaan tersebut.


Tanpa di sadari mereka berdua, ada seseorang yang berteriak memanggil nama sang adik di seberang sana.


"Hallo ... "


"Hallo ... "


"Mel ... "


"Amelia, kamu baik-baik saja kan?"


"Hallo ... Jawab Kakak Mel?"


Teriak Kai penuh frustasi, wajahnya menunduk seiring dengan ponselnya yang jatuh begitu saja dari tangannya.


Disana Kai tidak sendiri, melainkan ada seseorang yang sedari tadi menatapnya cemas dan khawatir. Yasika merasa, ada sesuatu yang terjadi pada Amelia sahabatnya itu.


"Kak ... "


"Ada apa?" Tanya nya khawatir.


Sesaat Kai memejamkan matanya erat, sebelum akhirnya ia memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


"Amel, Yas..." suara itu terdengar begitu lirih.


"Kenapa dengan Amel? apa yang terjadi padanya Kak?"


"Gak tahu, aku juga gak tahu, hapenya tiba-tiba mati. Aku takut Yas, takut Amel kenapa-kenapa." Kai berujar dengan suara berat menahan tangis.


"Ya udah, Kak Kai tenang dulu ya? aku yakin Amel baik-baik saja."


Yasika berujar lembut untuk memenangkan Kaisar. Yasika tahu perasaan Kai saat ini. Ia membalas pelukan itu, mengusap lembut punggungnya. Yasika merasa bersalah, kalau saja dari tadi ia dan Kai pergi menjemput Amel di tempat tante Widya, mungkin sekarang Kai tidak akan merasa khawatir seperti ini.


Yasika ingat sebelum tadi Kai memintanya untuk bertemu dan menjemput Amel bersama. Kai bercerita kalau Amel menginginkan Yasika yang menjadi kekasihnya, Kai juga bilang kalau suatu saat nanti dia menikah, maka yang Amel inginkan adalah Yasika yang menjadi istrinya. Sebenarnya ada perasaan aneh yang bercampur dengan senang di hatinya saat Kai bercerita seperti itu.


Dan Yasika juga sudah mengetahui dari Amel kalau Kaisar juga menyukainya.


Yasika mengurai pelukannya saat ia melihat layar ponsel milik Kai yang terletak di lantai kembali menyala.


"Kak ... " ucap Yasika pelan. "Hape kamu nyala, sepertinya ada yang nelpon, biar aku yang ambil."


Yasika segera mengambil ponsel milik Kai yang tergeletak di atas lantai. Lalu, ia memberikannya. "Ini."

__ADS_1


Kai tersenyum, lantas mengambil ponsel itu dan segera mengangkat panggilan dari nomer yang tidak ia kenal.


"Hallo ... "


"Hallo Kai, ini tante."


"Iya, tante kenapa?"


"Kai ___ " tante Widya jeda kalimatnya. "Kai, Amel ... "


"Ada apa dengan Amelia, Tante?"


Menghela nafas berat sebelum ia mengucapkan sesuatu. "Amel, dia tertabrak mobil di dekat rumah tante Kai."


"Apa?"


Kai terkejut dengan rahang terbuka lebar, ternyata benar ini yang ia dapat, kabar tentang adik satu-satunya, dan itu adalah kabar buruk.


"Kai, kamu segera ke rumah sakit Harapan ya, sekarang Amel sedang di tangani disini."


"Baik Tante, aku segera kesana sekarang."


"Tante, tunggu."


Panggilan pun berakhir, Kai segera bergegas masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Yasika. Mereka pergi bersama untuk ke rumah sakit. Ternyata benar dugaan Kai, kalau telah terjadi sesuatu kepada adik perempuannya itu. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, perasaannya tidak tenang, Kai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan sempat beberapa kali ia akan bertabrakan dengan pengendara yang lainnya membuat Yasika meringis ketakutan.


Mobil sudah terparkir di area Rumah sakit itu, Kai dan Yasika turun dan berlari untuk sampai di tempat dimana sang adik sedang di tangani. Begitu tiba di depan ruang UGD, kaki yang tadinya kuat berlari kini rasanya melemas bagai tidak bertulang begitu ia mendapati beberapa orang yang berkerumun, Kai juga melihat kedua orang tuanya sudah ada disana, bersama dengan tante Widya adik dari mama Wina.


Papa Andi terlihat sangat tenang meski di wajahnya ada gurat kesedihan yang teramat dalam, sedangkan mama Wina, wanita itu terus menangis pilu di bahu sang adik.


"Pa ... Ma ... "


Mereka menoleh. "Kai ... " mama Wina segera berdiri dan berlari kecil untuk menghambur memeluk putranya itu. "Kai ... Amel, Kai."


"Ma ... Tenang ya, mama tenang dulu. Amel pasti kuat, dia akan baik-baik saja." ucap Kai semakin erat memeluk tubuh mama-nya itu.


Di saat semuanya sedang merasakan kesedihan, pandangan mata Yasika tertuju pada seseorang yang sedang duduk menunduk di sudut bangku itu. Dari postur tubuhnya, ia seperti mengenal sosok laki-laki itu. Yasika berjalan perlahan, dan betapa terkejut nya ia saat melihat orang yang sama sekali tidak asing lagi di matanya.


"Kak Jefri..?"


* * *


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya?


Makasih buat kalian yang masih setia baca ceritanya aku..


Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dan kesalahannya..


Salam sayang dari aku... ❤

__ADS_1


__ADS_2