Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Terungkap


__ADS_3

Yasika benar-benar kesulitan untuk menelan semua makanannya ke dalam perut. Bukan karena sekarang ia sedang makan malam bersama dengan Kai, tetapi ada yang lebih membuatnya tidak bisa menelan makanan itu. Entah kenapa dengan perasaannya yang tiba-tiba saja menjadi gelisah seperti ini, ia mengingat tentang perkataan kakaknya yang ingin membuat sebuah pengakuan. Semenjak tadi, ia merasa ada yang aneh dengan kakaknya itu. Yasika merasa kalau Anne seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Anne bilang, kalau tadi dirinya sempat ingin membuat pengakuan. Yasika bingung, sebenarnya pengakuan apa yang mau kakaknya itu katakan padanya. Bahkan di saat sekarang pun, kenapa wajah Anne terlihat sangat gugup ketika Kai memberi tahu hasil keputusan sidang untuk Jefri, asisten sekaligus manager pribadinya itu. Di saat sidangnya yang terakhir, Anne tidak bisa menemani Jefri karena kesibukannya yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya itu.


Jefri di jatuhi hukuman dua tahun dua bulan untuk kasus kecelakaan yang menimpa adiknya itu. Tapi pengacaranya mengajukan naik banding ketika hukuman itu telah di putuskan oleh hakim. Atas kelalaiannya saat mengendarai kendaraan dan menabrak seseorang hingga menyebabkan orang tersebut meninggal, maka hukuman itu sudah sangat tepat untuk Jefri, tetapi tidak untuk Kai. Cowok itu merasa tidak puas dengan keputusan hakim tersebut.


"Kamu tahu, Jefri di tahan selama empat tahun?" Ujar Kai saat cowok itu baru saja menenggak minumannya.


Yasika terkejut, begitu pun dengan Anne yang tidak lebih terkejut dari adiknya itu.


"Apa? kak Jefri di tahan selama itu?" Yasika bertanya dengan raut wajahnya yang terlihat cemas.


Kepala itu mengangguk. "Hmm ... Aku rasa itu hukuman yang tepat untuk seseorang yang telah menabrak hingga menyebabkan orang itu meninggal."


"Tapi dia tidak sengaja, kak?" Sewot gadis itu kembali.


"Sengaja atau tidak, itu tetap sama. Dia sudah melakukan kelalaiannya saat mengemudi."


Yasika menggeleng. Sementara Anne, gadis itu semakin terlihat gugup dan gelisah.


Anne merasa sangat bersalah. Bagaimana mungkin orang yang tidak melakukan apa-apa harus menanggung akibatnya sendiri. Jefri sangat baik, bahkan cowok itu rela berkorban untuk menutupi kesalahan yang dirinya lakukan. Tidak seharusnya Jefri menanggung hukuman itu sendiri. Yang bersalah disini adalah dirinya sendiri, yang menabrak adik dari kekasihnya itu adalah Anne sendiri dan bukan Jefri. Mendengar orang yang telah menyelamatkannya itu di penjara selama empat tahun, membuat hatinya semakin sakit dan hancur.


Jika seandainya ia mengakui kesalahan itu, apa Jefri akan bebas dari segala tuntutannya?


"Kak, kamu kenapa?"


Anne mengusap wajahnya sekilas, lalu tersenyum tipis. "Kakak gak apa-apa."


"Kak Anne sakit? kok mukanya pucat gitu?"


Saat Yasika bertanya, mata Kai tidak luput memandang wajah Anne yang pucat dan sedikit berpeluh.


Kepala itu menggeleng. "Enggak kok, kakak baik-baik aja."


Anne menatap Kai, dimana cowok itupun sedang menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Oh iya, waktu kejadian itu __ apa kamu ingat, kenapa waktu itu kamu pingsan?" Tanya Kai tiba-tiba yang membuat Anne seketika menjadi gelagapan.


"Aku - aku gak ingat sama sekali kenapa waktu itu aku bisa pingsan." Anne kembali mengingat kejadian pada malam itu. "Setahu aku, setelah pulang dari acaranya ulang tahun Nadine, tiba-tiba saja kepalaku pusing. Setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi." Bohong... padahal aku masih ingat, aku lah yang telah menabrak adik kamu, Kai...


Kai mengangguk. "Jefri juga mengatakan hal yang sama saat di persidangan tadi."


Ya Tuhan ... Segitunya dia ngelindungin aku.


"Apa malam itu kamu gak menaruh curiga sedikitpun pada orang-orang yang berada di sekeliling kamu?" Cowok itu bertanya dengan santainya.


Anne menatap Kai dalam. "Apa maksud kamu?"


"Kak." Yasika menatap kakaknya itu. "Waktu kakak pingsan, kakak sedang dalam pengaruh obat bius. Apa kak Anne tahu, siapa orang yang telah memberi kakak obat bius itu?"


Anne menatap Kai dan Yasika secara bergantian.


"Kakak gak tahu, siapa orang yang telah mencampur minuman kakak sama obat bius itu."


Kai memainkan ujung gelasnya dengan tangan. Lalu sedikit melirik ke arah dua gadis yang berada di hadapannya saat ini. Kai tahu siapa orang yang telah mencampur minuman itu, Kai juga tahu kalau malam itu, Anne lah yang mengendarai mobilnya sendiri. Yang Kai inginkan saat ini adalah mengetahui kebenarannya, Kai ingin mendengar semuanya secara langsung dari mulut gadis itu sendiri.


Kai ingat, satu jam yang lalu, saat ia baru saja keluar dari apartemennya, Kai tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sengaja mendatanginya hingga ke apartemen. Awalnya Kai tidak menanggapi saat orang itu mengatakan kalau ia adalah seorang saksi bisu atas kecelakaan yang terjadi pada malam itu.


Saat Kai hendak masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja orang itu kembali menghadangnya dari depan.


"Pak, saya gak bohong. Saya mengatakan yang sebenarnya, kalau malam itu saya melihat kedua orang yang berada di dalam mobil itu bertukar tempat duduk sebelum mereka keluar dari mobil itu. Awalnya saya tidak tahu untuk apa mereka melakukan hal tersebut. Jadi saya yakin, kalo yang nabrak adik bapak itu adalah seorang perempuan bukan laki-laki yang sering di beritakan di tv itu."


Kai tercengang bersama dengan mata yang menyoroti tajam wajah pria penjual bakso keliling itu.


"Apa kamu yakin?"


Kepala itu mengangguk. "Saya yakin, pak." ucap pria paruh baya itu serius.


"Kenapa kamu baru datang dan memberitahu aku sekarang?"


"Maaf, waktu itu saya takut jika harus di jadikan saksi. Saya takut di salahkan."

__ADS_1


Kai mengerang, mengusap wajahnya kasar.


"Saya gak tahu dimana bapak tinggal, tidak sengaja kemarin saya melihat bapak turun dari mobil dan masuk ke dalam apartemen ini. Saya mengejar bapak waktu itu, tapi bapak keburu pergi." Ujarnya kembali sembari mengusap wajahnya yang berpeluh mengenakan handuk kecil.


Kai menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. Cowok itu memejamkan mata sembari memijit pelipisnya yang terasa seperti akan meledak begitu saja.


Rasanya kepala Kai mau pecah saat ini juga saat ia mengetahui tentang kebenarannya.


Terungkap...


Semua kebenarannya sudah terungkap.


Jadi benar kalau yang nabrak itu adalah Anne?


Jadi benar dengan dugaanku selama ini, kalau Anne Putri'lah yang telah membuatnya kehilangan seorang adik.


Kenapa dia tidak mau mengakuinya?


Mengapa dia menyuruh orang lain untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya sendiri?


Apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan?


Kai semakin memejamkan matanya erat masih tidak percaya dengan semua kenyataan ini. Jadi usahanya untuk mendekati gadis itu sekarang sudah berhasil. Dan tujuannya sekarang adalah, Kai akan membuat Anne mengakui kesalahannya sendiri. Ia ingin agar gadis itu mengatakan semuanya di hadapan dirinya dan di hadapan semua orang termasuk kedua orang tuanya. Ya, sebentar lagi Kai akan membuat gadis itu mengakui kesalahannya.


Kai berjanji, ia tidak akan melepaskan Anne begitu saja sebelum gadis itu mengakui secara langsung kepadanya.



* * *


Setelah membaca, jangan lupa tinggal kan like, komen, dan vote-nya juga ya?


Makasih buat semua yang masih setia baca..


Semoga suka..

__ADS_1


Mohon maaf bila masih banyak kesalahannya.. 🙏🏻


Salam dari aku untuk kalian semua... ❤


__ADS_2