
•
•
•
"Surprise ...!!!"
Ucap semuanya secara bersamaan bersama dengan lampunya yang mulai menerangi seluruh ruangan itu.
Yasika terpaku, bahkan gadis itu nampak begitu terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya karena masih tidak percaya.
Ya Tuhan ... Apa ini mimpi?
Gadis itu sampai menitikkan air matanya ketika melihat orang yang begitu ia sayang juga berada disana, siapa lagi kalau bukan Papa Bagas, Mama Yessi dan juga kakak perempuan nya yaitu Anne Putri.
"Jahat." ucapnya pelan seraya berjalan ke arah mereka. "Kalian jahat." rengeknya kemudian seraya menyeka sudut matanya yang berair.
Bagas dan Yessi tersenyum bahagia. "Maafkan Mama sama Papa ya sayang." Di peluknya gadis itu. "Selamat ulang tahun." Bisiknya mama-nya kembali yang membuat gadis itu menyadari kalau hari ini adalah hari kelahirannya, ini adalah hari ulang tahun bagi dirinya.
Ya ampun ... kenapa ia bisa lupa?
Gadis itu semakin menangis di pelukannya sang mama, ia begitu terharu karena mereka semua masih mengingat hari kelahirannya itu.
"Makasih, Ma."
Mama Yessi menepuk-nepuk punggungnya. "Udah ah jangan nangis, entar cantiknya hilang lo." ujarnya kembali seraya terkekeh.
Mereka berdua mengurai pelukannya. "Ini semua yang rencanain itu kakak kamu sama __ " Mama Yessi menggantung kalimatnya, ia melirik ke arah cowok yang sedang berdiri di belakang anak gadisnya itu.
Yasika mengernyit, lalu mengikuti arah pandang mata mama-nya itu. Disana sudah berdiri dua laki-laki tampan yang juga sedang menatap dirinya, siapa lagi kalau bukan Kaisar dan juga Davin.
"Davin pacar kamu kan?" kembali mama Yessi berbisik di sebelah telinga gadis itu.
Yasika langsung menoleh ke arah mama-nya itu, lalu menggeleng seraya tersenyum tipis. "Dia teman aku, Ma."
Mama Yesi pun tersenyum. "Dia anak yang baik, dia juga yang udah repot-repot buat acara ini untuk kamu."
Yasika kembali tersenyum tipis lalu kini matanya tertuju pada sosok laki-laki paruh baya dan juga kakak perempuannya yang sedang bergelayut manja pada lengan papa-nya itu.
Yasika menatap mereka dengan bibirnya yang melengkung ke atas membuat kedua orang itu tertawa menatapnya.
"Kalian jahat. Terutama kamu kak." Yasika menatap Anne tajam. "Jahat banget tahu gak sih.?"
Bukannya menjawab Anne malah menghampiri gadis itu lalu memeluknya erat. "Jangan salahin aku dong, yang seharusnya di salahkan itu Davin, cowok kamu." ujar Anne seraya mengelus lembut punggungnya. "Happy birthday adik aku tercinta." bisiknya kembali.
"Makasih." Yasika mengurai pelukannya lalu menatap ke arah papa-nya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun ya sayang." Laki-laki paruh baya itu memeluk putrinya sekilas.
"Makasih Pa."
Setelah itu, Davin, Ririn, Ica dan yang lain pun mulai memberi ucapan selamat ulang tahun kepada gadis cantik itu. Tidak terkecuali Kai. Ya, cowok itu juga memberi ucapan selamat kepada calon adik iparnya sendiri.
"Selamat ulang tahun."
Yasika menatap Kai sekilas sebelum pandangannya jatuh ke bawah menatap tangan cowok itu. "Makasih, Kak." ujarnya lembut seraya menjabat tangan cowok itu dengan tangannya yang sedikit bergetar.
Entah ada apa dengan mereka berdua saat genggaman tangan itu tidak mau saling melepas. Kai begitu erat memegang tangan halus itu, begitu juga dengan Yasika yang merasa nyaman saat cowok itu memegang tangannya erat. Mereka enggan untuk melepaskan genggaman tangan itu satu sama lain, membuat aliran darah keduanya menjalar ke seluruh tubuh. Hatinya kembali berdesir begitu cowok itu tidak lepas memandangi wajahnya.
Tolong ... Jangan buat hatiku kembali sakit, Kak.
Yasika yang sadar dengan segera melepaskan tangannya. Lalu kembali tersenyum seraya menundukkan pandangannya ke bawah.
"Yas ..."
Yasika mengangkat wajahnya lalu menoleh ke samping dimana di sebelahnya itu sudah berdiri kakak beserta Davin, cowok yang sudah memberikannya kejutan seperti ini.
Anne langsung menghampiri Kai yang masih diam mematung. Sementara Davin, cowok itu malah tersenyum lebar.
"Ayo." Davin mengulurkan tangannya. "Sudah waktunya untuk tiup lilin dan makan malam bersama."
Gadis itu membalas senyumannya, matanya melirik sekilas kepada Anne dan juga Kai. Lalu gadis itu menyambut uluran tangan Davin seraya tersenyum, membuat hati seseorang disana merasa terbakar.
Kai mengeratkan giginya begitu Yasika dan cowok itu berlalu menuju dimana Davin sudah menyiapkan secara khusus kue ulang tahun yang begitu indah.
Acara peniupan kue ulang tahun pun di mulai, sebelum gadis itu meniup lilinnya yang bertuliskan angka dua-dua, Yasika memejamkan matanya guna memanjatkan doa. Di usianya yang kedua puluh dua tahun ini, Yasika ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi, ia ingin agar segala sesuatu dan keinginannya itu segera tercapai. Begitu juga dengan cita-citanya yang ingin menjadi seorang Dokter yang bisa membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya.
Begitu lilin itu padam, Yasika segera memotong kue, dan potongan kue pertamanya itu ia berikan kepada Mama beserta Papa'nya. Di saat gadis itu hendak duduk di kursinya tiba-tiba saja datang Davin menghampirinya.
"Tunggu sebentar." Ucap cowok itu yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Vin.?"
Davin tersenyum lalu berdiri di samping gadis itu.
"Maaf untuk semuanya jika saya mengganggu waktu makan malamnya." Davin menoleh ke arah Yasika. "Saya disini ingin mengatakan sesuatu kepada gadis yang kini berada di samping saya." Cowok itu tersenyum. "Perlu kalian ketahui semuanya, kalau Yasika __ " Ia jeda kalimatnya. "Kalau Yasika adalah satu-satunya gadis yang membuat jantung saya selalu berdebar kencang seperti mau copot dari tempatnya. Dia adalah gadis yang membuat hati saya selalu merasa senang di setiap harinya, dia juga gadis yang telah membuat mata saya tidak bisa berpaling untuk menatap wanita lain, dan Yasika adalah gadis yang ingin saya lamar malam ini." Davin mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari dalam kantung bajunya.
Bukan hanya Yasika yang terkejut, melainkan semua orang yang menjadi tamu undangan pun sama terkejutnya termasuk dengan kedua orang tuanya, kakak perempuannya, kedua sahabatnya, Mama Wina dan juga anak laki-laki nya itu, siapa lagi kalau bukan Kaisar Pratama, cowok yang juga mencintai gadis itu.
Yasika masih terpaku, merasa tidak percaya dengan semua ini. Entah apa yang ia lakukan sekarang rasa senang dan juga sedih melebur menjadi satu.
Apakah ia harus senang karena Davin melamarnya?
Atau ia harus merasa sedih karena bukan laki-laki yang dia cintai yang melamarnya seperti ini.?
__ADS_1
Yasika merasa kepalanya berdenyut nyeri saat ia memikirkan itu sekarang.
"Yasika ... Maukah kamu menerima hadiah ini dariku?" Davin berujar seraya membuka kotak kecil itu.
"Ini apa, Vin?" tanyanya saat ia melihat sebuah cincin berlian yang begitu indah.
Cowok itu tersenyum. "Aku tidak melamar kamu hari ini, tapi aku memberi ini sebagai hadiah ulang tahunmu." Davin mendekati Yasika, lalu menatap gadis itu. "Apakah kamu mau menjadi kekasihku?"
Yasika melongo bersama dengan rahangnya yang sedikit terbuka.
"Aku ingin kamu menjadi kekasihku, Yasika Gamila Putri." ujar Davin seraya menyodorkan kotak kecil itu ke hadapannya.
"Vin ... Aku - Aku ... " Yasika melirik ke setiap orang, ia memperhatikan bagaimana raut wajah mereka sekarang yang menatapnya dengan mulut terbuka. Tanpa sengaja, mata gadis itu sekarang tertuju pada sosok laki-laki yang sedang menatapnya dingin.
Apakah ini saatnya, agar aku bisa melupakan dia?
Melupakan laki-laki yang pernah aku cintai.
Melupakan laki-laki yang akan menjadi calon kakak iparku?
Yasika menarik nafas panjang seraya menutup matanya erat.
Sudah saatnya aku membuka pintu hati untuk orang lain dan melupakan masa lalu.
Yasika kembali membuka matanya yang terpejam, lalu menatap Davin lekat.
"Vin ..." Yasika mendekat. "Makasih, selama ini kamu selalu ada buat aku. Makasih karena kamu masih mencintai aku, padahal aku selalu menolak dan menghindari kamu." Yasika mengambil kotak merah itu dari tangan Davin. "Kamu adalah laki-laki baik yang pernah aku kenal, jadi ... " ia jeda kalimatnya.
"Terima..."
"Terima... "
"Terima aja Yas...?" Teriak Anne yang sudah penasaran dengan adik kesayangannya itu.
Yasika melirik ke arah kakak perempuan nya itu. Ia ingin agar kelak kakak perempuannya itu bisa bahagia bersama dengan cowok yang masih menatapnya tajam sampai sekarang.
"Baiklah ... Aku terima kamu, Vin."
• • •
Hai... maaf ya jika up nya agak telat..
Jangan lupa terus dukung aku dengan tinggalkan like, komen, vote, dan juga kasih poin dong buat yang punya tapi..
Makasih untuk kalian yang masih setia baca dan nunggu cerita nya aku..
__ADS_1
Sehat selalu ya..
Salam sayang semua.... ❤