Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Debaran


__ADS_3

"Kenapa mukanya pada tegang gitu?" dengan datarnya Amelia kembali berujar.


"Aku gak ngira kalian berdua akan __ "


"Mel ... "


"Kenapa? kakak pasti penasaran kan kenapa aku bisa tau?"


Amelia tertawa dengan begitu nyaring. "Kak Bayu yang bilang sama aku."


Kai terkejut. "Apa? kenapa dia tau?" tanyanya penasaran.


"Mana aku tau.. " jawabnya santai. "Berarti bener dong apa yang di bilang kak Bayu sama aku?"


Kai dan Yasika gelalapan, merasa malu karena sang adik terus memojokkan-nya.


Sialan... kenapa si rese itu bisa tahu?


"Kak..!!"


"Yang di bilang Bayu itu gak bener, kamu jangan percaya sama dia.?" Jelas Kai sedikit gugup.


Amelia mengernyit, menatap bingung kakak laki-lakinya itu. "Masa sih? tapi kak Bayu bi - "


"Udah buruan, katanya mau cari buku?" Sela Kai cepat segera berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.


Amelia mendengus kesal. "Ish ... nyebelin."


* * *


Perjalanan dari kampus menuju ke Mall terasa begitu lama. Padahal, hanya butuh waktu empat puluh menit untuk sampai ke Mall itu. Selama di dalam mobil, tidak ada yang bersuara kecuali Amel. Ya, hanya gadis itu yang tidak bisa diam, bibirnya terus mengoceh seperti kucing yang lagi kelaparan.


Sementara Yasika, gadis itu terlihat gelisah, bahkan ia merasa jika dadanya berdebar tidak karuan saat cowok itu terus menatapnya dari balik kaca spion. Yasika gugup, dan untuk menghindari kegugupannya itu ia menunduk sambil meremat jari-jari tangannya.


"Yas, tadi kamu ngobrol apaan sih sama si Davin? kok kayaknya serius banget?" Yasika mengangkat wajahnya, ia menatap Amel, lalu tersenyum.


"Em ... Itu, cuma bahas buat bikin skripsi ja kok."


Amelia mendengkus. "Yakin? bukannya si Davin mau nembak lo?"


"Apaan sih Mel, enggak kok." Jawab Yasika gugup.


"Kamu kayaknya gak suka kalau cowok itu deket sama Yasika, Mel?" Tanya Kai di tengah obrolan kedua gadis itu.

__ADS_1


"Apaan? bukannya gak suka ya? aku cuma sebel ja sama si Davin, dia itu selalu ganggu kalau aku sama Yasika lagi ngobrol. Kan rese tuh orang." Kesal gadis itu. "Lagian, tuh si Davin masih aja ngejar lo Yas, udah tahu lo gak suka sama dia kan?"


Yasika hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


Amelia memiringkan tubuhnya. "Kak Kai tahu gak? kalau Yasika itu banyak yang naksir, bahkan Pak Dirman ja sampai kelabakan kalau lihat Yasika." Amelia terkekeh geli, membuat Kai mengernyit bingung.


"Pak Dirman siapa?" tanya Kai penasaran.


"Itu loh Kak, satpam yang jaga tadi di gerbang kampus." Amelia tertawa, membuat Yasika semakin menunduk malu.


"Gak tau tuh Yasika maunya sama siapa? semua cowok yang nembak, selalu dia tolak." Amel jeda kalimatnya. "Tapi __ Kalau kakak gue yang nembak, lo bakal nolak juga gak Yas.?"


Yasika mengangkat wajahnya, menelan ludahnya dengan sangat susah. Duh ... Amel, kenapa sih kamu selalu bikin suasana jadi begini? aku kan bingung harus menjawab apa. "Mel ... kamu ngomong apa sih?"


Amelia terkekeh, menoleh ke belakang. "Kok muka kamu merah gitu sih?"


Kembali, tanpa sengaja mata mereka bertemu dari balik kaca spion. "Apa? gak merah kok."


"Jangan-jangan, lo suka sama si Davin? ya ampun Yas ... apa jangan-jangan lo udah pacaran sama dia ya?" sewot gadis itu.


Saat mendengar kalimat itu, entah kenapa Kai menginjak rem nya secara mendadak.


"Kenapa sih, Kak?" Amel kesal karena kepalanya membentur dashboard mobil.


"Lo gak apa-apa Yas?" Gadis itu terlihat cemas.


Yasika menggeleng. "Gak apa-apa kok, Mel."


"Kamu kenapa sih kak? kalo bawa mobil itu hati-hati, bukan hanya ada kamu disini, tapi ada aku dan juga Yasika." Entah kenapa Amel merasa sangat kesal terhadap kakak laki-lakinya itu.


Tanpa memperdulikan kekesalan Amel, Kai menoleh ke belakang. "Kamu gak apa-apa Yas?"


"Gak apa-apa gimana sih? jelas ja ni kening sakit tau." Amel menyahut. "Kenapa sih kakak ngerem mendadak kayak gitu?"


"A - aku gak papa kok kak." Sela Yasika. "Cuma kejedot aja sedikit."


"Denger Yasika punya pacar sampai ngerem mendadak kayak gitu?" sewot Amel kembali.


Kai mendengkus tidak suka. "Bicara apa sih kamu, Mel?"


"Bilang ja kalau kak Kai cemburu." Balas Amel malas. "Ya kan Yas, kalau kakak gue itu cemburu?"


"Hah?" Yasika kembali melongo bingung. Tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Kalau bicara itu jangan ngelantur, Mel?"


Gerutu Kai saat kembali menjalankan mobilnya.


"Ngaku ja kenapa sih." Amel kembali bersuara.


Suasana mobil kembali hening. Kai memilih fokus mengendarai mobilnya. Sedangkan Amel, semenjak kejadian tadi, ia malah terdiam tidak seperti biasanya. Sementara Yasika, gadis itu hanya menunduk.


"Kak Kai tahu kan toko buku yang sering aku datangi.?" tanya Amel pada kakaknya itu.


"Iya." Hanya itu yang keluar dari bibir Kai.


Mereka kembali terdiam. Amel yang sibuk dengan ponselnya, Kai yang memilih untuk fokus mengendarai mobilnya, dan Yasika lebih memilih untuk menatap jalanan dari jendela mobilnya.


Sesekali mata Kai melirik gadis itu, lalu tersenyum saat melihat Yasika sedang menguap.


Cantik sekali...


Yasika risih, ingin sekali cepat sampai toko buku itu.


"Yas ... Yasika."


"Kenapa, Mel?"


"Aku kira kamu tidur?" celoteh gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar hapenya. "Kok diem? lagi mikirin si Davin ya?" tuding gadis itu kembali.


Yasika menyengir. "Apa sih Mel? siapa juga yang lagi mikirin Davin."


Yasika melihat, jika saat ini Kai sedang tersenyum.


Entah kenapa saat melihat senyuman itu, dadanya kembali berdebar tidak karuan.


Ya ampun kenapa dia bisa punya wajah tampan sih... ??



* * *


Selalu dukung cerita aku dengan tinggalkan like, komen, vote dan juga tekan tanda ⭐ sama ❤ nya di bawah ya?


Makasih buat semua yang sudah mampir untuk membaca, semoga suka.


Sehat selalu buat kalian...

__ADS_1


Salam sayang dari aku... ❤


__ADS_2