
Sudah satu jam lamanya setelah Kai membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh gadis itu, Kai benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang. Perasaannya mendadak jadi tidak enak, bahkan di saat ia sedang sibuk mengurus kliennya pun yang selalu berputar di kepalanya hanyalah Yasika. Iya, gadis itu. Apakah benar, kalau gadis itu akan menunggunya di apartemen?
Tidak ... Tidak mungkin Yasika menunggunya?
Kembali Kai memeriksa beberapa dokumen yang berada di atas meja kerjanya sebelum ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan kerjanya itu, siapa lagi kalau bukan Bayu.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Cowok itu sekarang sudah duduk berhadapan dengan Kai saat ini. Bayu menatap wajah sahabatnya itu, seraya mengetuk-ngetukan pulpennya di atas meja.
"Kai ..."
"Hmm ..."
"Nyokap lo nelpon gue terus, dia khawatir banget sama lo."
Saat mendengar Bayu berbicara, Kai sempat berhenti dari kegiatannya memeriksa dokumen itu. Lalu, ia mengangkat wajah untuk melihat ke arah Bayu.
"Lo bilang apa?"
"Ya, gue bilang lo baik-baik aja." Bayu mengambil bungkus rokok yang ada di atas meja Kai. "Nyokap lo nyuruh lo balik ke rumah, katanya, ada yang mau dia omongin sama lo." ujar Bayu kembali seraya menyulut rokok itu. "Sebenernya, kemarin malam lo dimana?" tanya cowok itu penasaran, biasanya Kai akan datang ke apartemennya kalau laki-laki itu sedang merasa suntuk. Tapi ... kemarin, ia juga tidak mengetahui dimana sahabat nya itu, saat Mama Wina menanyakan keberadaan Kai.
Kai menatap Bayu sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus pada dokumen-dokumen itu.
"Jangan bilang ... semalem lo maen sama cewek seksi di klub.?" pancing Bayu pada sahabatnya itu.
Mendengar akan itu, lantas Kai mendengkus sebal. "Emangnya gue, elo?"
Seketika Bayu tergelak, ia tahu Kai manusia seperti apa. Kai bukan dirinya, yang setiap ada masalah tempat pelariannya adalah pergi ke klub untuk menenangkan pikirannya. Meskipun lelaki itu tampan dan mapan, tetapi Bayu mengetahui jika Kai bukan orang yang gemar mengencani para wanita malam yang berada di tempat hiburan malam seperti klub tempat yang menjadi favoritnya sampai sekarang.
"Terus lo dimana?"
Kai berdiri dari duduknya, lalu, cowok itu beranjak dan memandang keluar dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celananya. Pandangan matanya lurus ke luar seperti sedang menerawang.
"Gue di Villa."
"Hah?" Bayu berdiri. "Lo ke Villa?"
Tanpa menoleh kepala itu mengangguk.
"Kenapa lo gak ajak gue?"
"Gue gak inget sama lo." Ujar Kai seraya tersenyum tipis.
Si cowok tengil itu mendengkus. "Kalo gue tahu lo kesana, kan gue bisa temenin lo, sekalian bawa si Clara."
"Siapa Clara?" Kai menoleh, menatap Bayu dengan tatapan menyipit. "Setau gue, bukannya cewek lo itu Miska?"
"Clara itu cewek baru gue Kai." Bayu terkekeh geli. "Dua hari yang lalu si Miska mutusin gue." ujarnya kemudian yang di tanggapi hanya dengan gelengan kepala dari Kai.
"Dia gak kalah cantik kok dari si Miska." Bayu mendekati Kai. "Dan ... lo tahu sendiri kan, apa yang paling gue suka dari cewek?" Dengan alis yang naik turun cowok itu menatap Kai sembari mengangkat ujung bibir nya ke atas. "Clara itu lebih bohay dari cewek manapun." Bisik Bayu kemudian yang membuat Kai bergidik jijik menatap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ya ... Meskipun, wajahnya gak secantik Anne dan juga Yasika." ujar Bayu lagi kemudian.
Entah kenapa saat mendengar nama kedua gadis itu disebut, ingatannya kembali lagi kepada Yasika. Iya, Kai kembali ingat dengan pesan terakhir yang gadis itu kirimkan padanya.
Astaga ... bagaimana kalau sekarang gadis itu benar-benar sedang menunggunya.
"Kenapa lo?" Tanya Bayu saat melihat Kai seperti sedang berpikir.
Kai menoleh. "Gue cabut duluan." Ujarnya kemudian seraya merampas kunci mobil yang berada di atas meja kerjanya. Setelah itu, Kai benar-benar meninggalkan Bayu yang masih bergeming disana.
Dasar aneh...!! gerutu Bayu sebelum ia ikut keluar dari ruang kerja temannya itu.
* * *
Sementara di tempat yang berbeda, seorang gadis tengah mondar-mandir tidak jelas di depan pintu apartemen cowok itu. Beberapa kali gadis itu menekan bel, sebelum akhirnya ia sadar, jika sang pemilik apartemen benar-benar tidak ada di tempat. Yasika masih akan menunggu cowok itu, kerena ia yakin, jika Kai pasti akan datang.
Sudah hampir dua jam lebih Yasika menunggu.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, saat ada beberapa petugas kebersihan yang melewatinya. Beberapa kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum akhirnya, ia terkejut saat tiba-tiba saja mendengar suara seseorang yang tengah berdiri dari belakang punggungnya.
"Masih disini?"
Suara itu?
Lantas, Yasika segera membalikkan badannya.
Seketika pandangan mereka bertemu. Kai sampai menghela nafas seraya mengusap wajahnya gusar saat melihat kalau gadis itu benar-benar sedang menunggunya.
"Ngapain?" tanya Kai dengan kening yang mengkerut.
"Aku nunggu kamu." Tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bukannya aku sudah bilang, jangan nunggu aku?"
"Bukannya aku juga bilang, kalo aku akan menunggu sampai kak Kai datang?"
Kai mendesah pelan, lalu membuang muka ke samping.
"Kak ... aku ingin bicara sama kamu."
"Gak ada yang perlu di bicarakan, Yasika." Kali ini cowok itu kembali menatapnya.
"Tapi kak __"
Kai segera menekan passcode apartemennya. Sebelum cowok itu masuk, Yasika terlebih dahulu menghalanginya dari depan.
"Kak ... aku datang kesini, ingin minta maaf secara langsung atas nama kak Anne dan juga kedua orang tuaku."
"Bicara di dalam." Kai melewati tubuh Yasika begitu saja, meninggalkan gadis itu yang masih diam mematung di tempat nya.
__ADS_1
Langkah kakinya berhenti, lalu kembali berbalik badan saat ia tahu kalau Yasika masih bergeming.
"Gak baik bicara di luar." ujarnya kemudian disertai dengan ujung bibirnya yang terangkat sedikit.
Gadis itu masuk, mengikuti Kai dari belakang tubuh cowok itu. Kai membuka jaket dan meletakkannya di punggung sofa, lalu, melepaskan dasi yang masih melingkar, serta menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.
"Kenapa masih berdiri.?" Tanya Kai, saat cowok itu berhasil membuka kancing kemeja bagian atas. "Apa yang mau kamu bicarakan sama aku?" matanya melirik sekilas pada Yasika.
"Kak, aku udah tahu semuanya. Aku benar-benar gak mengira, kalau kak Anne yang telah ___ "
"Menabrak Amel." Serobot Kai dengan wajahnya yang datar.
"Aku minta maaf." Gadis itu menunduk. "Aku mohon, tolong ... kamu mau maafin kak Anne, Kak."
Kai mendesah pelan. "Gak semudah itu." lalu, mengusap wajahnya gusar.
"Aku yakin, kak Anne gak salah, dia gak sengaja nabrak Amel." Gadis itu mencoba untuk membela kakaknya. Karena Yasika yakin, jika kakaknya itu tidak sengaja, Yasika tahu siapa Anne, dia tahu kalau kakak perempuannya itu adalah orang yang sangat baik, meskipun Anne adalah orang sedikit keras kepala.
"Kalo dulu dia mengakui semua kesalahannya, mungkin saja aku bisa memaafkan dia." bentak Kai pada gadis itu. "Kamu tahu, bagaimana rasanya kehilangan seseorang.?"
"Aku tahu kak, aku tahu." Yasika menatap Kai dengan tatapan memohon.
"Kalau saja dia gak nabrak Amel, mungkin sampai sekarang Amel itu masih ada, Yas." dengan suara yang sedikit meninggi Kai kembali berujar. Tanpa Kai sadari, kalau gadis yang ada di hadapannya saat ini sampai berjengit takut ketika cowok itu kembali membentaknya.
Yasika tahu, dan ia pantas mendapat bentakan dari Kai. Yasika sadar, jika kesalahannya itu adalah karena membela orang yang benar-benar telah melakukan kesalahan. Tetapi ... bagaimana pun Anne adalah kakaknya, orang yang paling berharga dalam hidupnya selain kedua orang tuanya.
"Kamu tahu, apa alasan aku sebenarnya mendekati kakak kamu.?"
Yasika mengangkat wajahnya. "Apa?"
Kai tersenyum miring.
*
*
*
"Hanya untuk membuatnya sakit hati."
* * *
Mohon maaf jika aku baru bisa update lagi... 🙏🏻
Jangan lupa untuk tinggal kan like, komen dan votenya juga ya?
Makasih buat semua, semoga gak bosen dan selalu suka sama cerita nya aku..
Sehat selalu ya..
lopyuuu semua.... ❤
__ADS_1