Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Membuat pengakuan


__ADS_3

"Bagaimana keadaan kakak saya. Dok?" Tanya Yasika saat sang Dokter telah selesai memeriksa kondisi kakaknya itu.


"Tekanan darahnya rendah, dan dia juga kelelahan."


"Tapi dia gak apa-apa kan, Dok?"


Sang Dokter pun tersenyum. "Dia cuma perlu beristirahat, ini saya kasih obat dan vitamin. Jangan lupa untuk di minum obatnya ya?"


Yasika dan Anne pun tersenyum. "Baik, Dok."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Semoga lekas sembuh ya bu Anne.?"


"Terimakasih, Dokter." ujar gadis itu kembali.


"Biar saya yang antar Dokter ke depan, mari, Dok?" Davin yang masih berdiri disana pun akhirnya mengantarkan sang Dokter ke luar dari apartemen itu.


Sementara di dalam kamar itu, hanya tinggal Kai, Yasika, dan Anne. Yasika menatap sang kakak, lalu ... Matanya melirik ke arah Kai yang berdiri di sampingnya.


"Baiklah, kalo begitu aku buatin kakak bubur dulu ya?" Yasika berdiri dari duduknya.


"Jangan." Tolak perempuan itu.


"Kenapa?" Kini, giliran Kai yang bersuara.


Kepala itu menggeleng samar. "Aku belum mau makan."


"Kak.. " Yasika menghela, lalu ia kembali duduk di sebelah kakaknya itu. "Kak Anne, harus makan terus minum obatnya. O iya, tadi aku udah kabarin mama sama papa, mereka belum bisa pulang malam ini, mungkin besok mereka baru bisa pulang. Jadi ... malam ini, aku temenin kakak disini ya?"


"Iya." Kepalanya mengangguk seraya tersenyum tipis.


Anne menatap Kai dan Yasika secara bergantian dengan jari tangannya yang saling memilin. Entah apa yang harus ia katakan saat ini. Mungkin, ini waktu yang tepat kalau ia harus membuat sebuah pengakuan.


"Kak, kamu kenapa?" Yasika memegang telapak tangan Anne yang berasa dingin. "Ada apa, Kak?"


"Aku .. Aku."


Yasika menoleh ke arah Kai dan Davin yang sekarang sudah berada di tengah-tengah mereka.


"Yaudah, kalo gitu aku dan Davin tinggal kalian, sekalian aku mau siapin makan malam."


Yasika mengajak Davin untuk meninggalkan mereka berdua berada di dalam kamar. Mungkin, kakaknya ingin berbicara berdua bersama Kai saat ini. Setelah mereka tiba di dapur, Davin menemani Yasika untuk memasak, mereka berdua terlihat sangat serasi ketika sedang berada di dapur, dengan senyuman yang tidak pernah terlepas dari bibirnya, Davin begitu senang saat ia bisa berdua dan membantu Yasika.


Davin kembali menorehkan senyuman saat ia melihat Yasika yang sedang sibuk dengan peralatan dapur itu. Tidak salah pilih, selain cantik, pintar, Yasika juga adalah gadis yang pandai memasak. Sekalinya di jodohkan pun, Davin tidak akan menolak jika calonnya itu adalah gadis seperti Yasika. Makanya, Davin merasa bangga ketika gadis itu bersedia menjadi kekasihnya.


Yasika merasa kalau saat ini ia sedang di perhatikan. Lantas, yang di lakukan nya sekarang adalah mengajak laki-laki itu untuk membantu dirinya.


Bukannya memotong sayuran, Davin malah lebih leluasa memandang wajah cantik gadis itu dari jarak yang begitu dekat. Yasika risih, saat cowok itu terus memperhatikannya.


"Vin ... kenapa?" gadis itu berusaha untuk mengalihkan perhatian Davin yang masih terus menatapnya.


"Cantik." ujarnya kemudian yang membuat gadis itu sedikit terkejut. Cowok itu tersenyum. "Aku beruntung banget bisa dapetin kamu, Yas."

__ADS_1


Dada Yasika berdebar tidak karuan. Gadis itu pun hanya mampu tersenyum kaku.


"Aku sebagai laki-laki, bangga banget bisa punya pacar kayak kamu."


Duh ... Davin, jangan bikin jantung aku serasa mau copot dari tempatnya dong.!


"Gimana kalo setelah kakak kamu bertunangan, aku melamar kamu?"


"Ya.?" Yasika terkejut dengan rahangnya yang sedikit terbuka. "A - Apa, Vin?"


Cowok itu terkekeh geli, lalu mengusak rambut sang pacar dengan gemas. "Aku udah gak sabar, pengen kamu segera jadi istri aku." Setelah itu, Davin membantu Yasika untuk meletakkan semua masakannya di atas meja makan.


Yasika hanya tersenyum tipis, seharusnya ia senang saat Davin mengutarakan semua keinginannya itu. Tapi ... ? Yasika buru-buru menggeleng, entahlah, ada dengan hatinya sekarang.


Ada apa dengan hatiku?


* * *


Sementara di tempat yang berbeda, masih di dalam kamar itu, Anne masih tidak bisa membuka suara nya, wajahnya semakin menunduk, ia tidak sanggup jika harus menatap mata lelaki itu. Anne tahu, setelah ia mengatakan yang sebenarnya pada Kai, cowok itu akan kecewa, marah, dan mungkin saja Kai akan membencinya.


"Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu, Ann.?"


Suara Kai menjadi pemutus keheningan yang terjadi di antara mereka berdua. Seketika Anne mendongak, lalu mempertemukan pandangan mereka. Anne menarik napas sembari menutup matanya erat sebelum ia menjawab pertanyaan cowok itu.


"Kamu kenapa?" Lagi, Kai bertanya. Cowok itu penasaran, apa yang membuat Anne menjadi ketakutan seperti itu.


Apa yang membuat nya menjadi seperti ini?


Sebenarnya, apa yang ingin Anne katakan padanya?


"A - Aku." Ucapnya terbata. "Kai." Gadis itu mengambil tangan Kai untuk ia genggam. "Aku mau minta maaf sama kamu."


Kai mengernyit. "Minta maaf kenapa? sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu terus meminta maaf sama aku.?"


"Kai ... ?" Anne semakin erat menggenggam tangan itu. "Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu, waktu kecelakaan itu terjadi."


Dan ... Benar dugaannya. Kai menutup matanya erat.


"Aku minta maaf Kai, aku gak sengaja." Tangisnya pecah saat itu juga. "Sebenarnya, aku lah yang mengendarai mobil pada malam itu, aku lah yang telah menabrak Amelia, adik kamu, Kai."


Ya Tuhan ... kenapa rasa sakit itu kembali lagi?


Kai diam, bahkan matanya pun masih terpejam erat. Entah apa yang harus di lakukannya sekarang. Sebenarnya, Kai tidak terkejut, karena ia sudah mengetahuinya sejak lama. Dan ... inilah yang Kai inginkan sejak dulu, ia mendekati Anne hanya untuk mengungkap sebuah kebenaran. Sekarang, semuanya telah terjadi, ia berhasil membuat Anne mengakuinya sendiri, dan ia juga berhasil membuat perempuan itu jatuh cinta padanya.


Anne beranjak turun dari kasurnya, lalu, ia berlutut sembari memegang kaki cowok dengan isakan yang tidak tertahan lagi. Anne pun menangis sejadi-jadinya, apapun akan ia lakukan agar cowok itu mau memaafkannya.


Sungguh, kecelakaan itu terjadi di luar kendalinya.


"Kai ... Aku minta maaf, waktu itu gak sengaja nabrak Amel." Anne menangis tersedu. "Maafin aku Kai, maafin aku."


Perlahan, cowok itu membuka matanya yang terpejam, tangannya mengepal erat bersama dengan hatinya yang kembali merasakan sakit saat mengingat adik kesayangannya itu. Seandainya ia bukan Anne, seandainya ia bukan seorang wanita, mungkin saja saat ini Kai sudah melayang kan beberapa pukulan terhadap orang itu.

__ADS_1


"Aku menyesal Kai, semua itu terjadi di luar kendali aku. Aku gak bermaksud menghindari hukuman, hanya saja ..."


"Kenapa kamu baru mengakui nya sekarang?" Setelah lama terdiam, akhirnya Kai membuka suara tanpa menoleh ke arah gadis itu.


"Maafkan aku Kai, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal." ujarnya dengan sangat lirih.


"Baru sekarang kamu sadar dan menyesal?" Kai mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. Sebisa mungkin ia akan bersikap tenang meskipun hatinya sakit dan hancur saat mendengar Anne mengakui kesalahannya sendiri.


"Kamu tahu, Ann ... sebenarnya, dari awal aku sudah curiga sama kamu." Kai berujar dengan nada dingin dan datar. "Asal kamu tahu juga, kalo aku sudah mengetahui semuanya."


Anne mendongak, menatap Kai dari bawah.


"A - Apa, Kai? kamu udah tahu.?"


Kai tersenyum miring. "Iya." Jawabnya yang membuat Anne semakin membulat kan matanya yang sembab.


"Kalo kamu sudah tahu, kenapa kamu diam saja."


"Aku sengaja melakukan itu." Tanpa sadar Kai membentak gadis itu. "Aku ingin membuktikannya sendiri, aku ingin kamu mengakui nya sendiri." Lagi, nada bicaranya itu semakin meninggi.


Anne sampai berjengit kaget saat mendengar bentakan dari Kai. Wajahnya semakin memucat dengan tubuhnya yang bergetar.


"Maafin aku Kai..."


"Terlambat, Ann ... terlambat kamu minta maaf." Kai mengusap wajahnya frustrasi.


"Aku rela jika kamu ingin menghukum aku sekarang, tapi aku mohon, maafkan aku, Kai." Anne mengatupkan kedua tangannya. "Sungguh, aku tidak sengaja melakukannya, saat mengendarai mobil itu, aku dalam pengaruh obat bius."


Kai mengetahui akan itu. Tapi ... tetap saja, hatinya masih sakit saat Anne yang telah membuatnya kehilangan seseorang adik.


"Aku butuh waktu sendiri."


Setelah itu, Kai keluar dari dalam kamar Anne dengan raut wajah kecewa. Kai berjalan dengan melangkahkan kakinya lebar-lebar, tanpa ia sadari, Anne berlari mengejar Kai dari belakang.


"Kai ... Maafkan aku." Anne menjerit. Tapi ... tetap saja tidak membuat cowok itu berhenti.


Dan ... disini lah, ada beberapa pasang mata yang sedang menatap heran ke arah mereka berdua. Matanya terbuka lebar dengan mulut menganga.


"Ada apa dengan mereka?"


* * *


Anne yang frustrasi.



* * *


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tekan tanda ❤ di bawah ya.?


Makasih buat semua yang sudah mampir baca, semoga suka.

__ADS_1


Sehat selalu ya semua..


Salam sayang dari aku... 🤗


__ADS_2